Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Cemburu


__ADS_3

Kinar sampai di halaman rumah mertuanya, Adam dengan cekatan membantu membukakan pintu untuk Kinar, Mariska yang melihat hal tersebut sebenarnya kurang suka, namun ia tak bisa berkata apa-apa karena kenyataannya putranya memang tak sebaik pria yang sedang bersama Kinar itu, pria itu mampu memperlakukan menantunya dengan baik, setiap wanita di dunia ini pasti ingin di perhatikan, dan dianggap penting oleh lelakinya, namun Dimas tidak bisa.


"Sayang sudah pulang?" tanya Mariska langsung menghampiri menantunya begitu melihat Kinar turun


"Assalamu'alaikum ma, kenalkan ini sahabat Kinar namanya Adam"


"Assalamu'alaikum Tante" sapa Adam sopan


"Wa'alaikum salam" balas Mariska, Kinar dan Adam mencium punggung tangan Mariska


"Ayo masuk dulu"ucap Mariska mempersilahkan Adam


"Gak usah Tante, Adam ada janji dengan papa, lagi pula Adam sudah mengantar Kinar sampai rumahnya, gak baik jika Adam terlalu lama disini, permisi Tante, Assalamu'alaikum" salam Adam sambil mencium punggung tangan Mariska dan mengangguk pada kinar sebagai isyarat pamit.


Setelah Adam pergi Mariska mengajak Kinar masuk.


Tak ada seorangpun yang tahu jika Dimas melihat apa yang terjadi di bawah dari kamarnya, ia menggeram kesal melihat betapa perhatiannya pria itu pada Kinar.


"Mau mama buatkan sesuatu sayang??" tanya Mariska


"Enggak ma, Kinar udah kenyang, ini Kinar belikan udang bakar madu, ini tuh enak banget ma, Kinar biasa beli di restoran ini.


Kinar juga belikan untuk mas Dimas, pasti mas Dimas belum makan habis pulang kantor.


Oh ya ma, next kita makan sekeluarga disana yuk, ya walau sederhana tempatnya tapi makannya itu bersih dan enak banget ma, gak kalah sama restoran mahal"cerocos Kinar, ia terlihat lebih ceria setelah bertemu sahabat masa kecilnya itu, Mariska hanya tersenyum, ia menyadari jika selama ini mungkin Kinar sedikit terkekang karena terus berada di rumah saja.


Mariska juga belum membahas tentang kuliah Kinar Yang kemarin tertunda, mungkin saat usia kandungan Kinar empat bulan, ia akan mengizinkan Kinar kuliah dengan catatan supir akan antar jemput agar aman.


"Baiklah nak, terima kasih ya, sekarang kamu naiklah, suamimu sudah pulang sejak tadi, sepertinya ia sedikit marah, kamu harus sabar dan sedikit mengalah ya.


Nanti juga marahnya hilang"ucap Mariska yang sangat mengenal putranya

__ADS_1


"Baik ma, Kinar naik dulu ke atas" ucap Kinar ,lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya


Kinar membuka pintu perlahan, ia melihat pakaian Dimas yang berantakan di lantai, Kinar memunguti satu persatu dan meletakkannya di tempat cucian kotor.


Di dalam kamar mandi terdengar suara air menyala, sepertinya Dimas sedang mandi


Kinar menyiapkan pakaian ganti suaminya, lalu membuka baju, meletakkan hasil USG di meja samping tempat tidur


Tak lama kemudian Dimas keluar, ia hanya menatap Kinar sekilas lalu berjalan seolah tak ada Kinar disana


"Ah benar kata mama, mas Dimas sedang marah, mungkin karena rapatnya tak berjalan lancar”gumam Kinar menatap suaminya yang sedang berpakaian.


Kinar ingin sekali memeluk Dimas dari belakang, entah mengapa aroma tubuh suaminya itu menenangkannya, hingga ia merasa mual nya hilang saat mencium aroma tubuh Dimas.


Tapi melihat ia sedang marah, Kinar lebih baik menahan diri, ia masuk ke kamar mandi dan mandi.


Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai handuk, karena kehamilannya ia merasa sedikit gemuk dengan dada yang makin berisi.


Kinar berdiri memilih pakaian, ia membiarkan handuknya jatuh ke lantai dan mulai memakai pakaian dalamnya, namun ia mencari-cari bra yang sedikit agak besar, karena kehamilannya payu****nya bengkak.


"Ah bra ini kekecilan, sepertinya aku perlu membeli beberapa yang agak besar" ucap Kinar menghela nafasnya


"Apa itu beneran kekecilan????”tanya seseorang yang entah sejak kapan sudha berada di belakang Kinar, mungkin karena ia terus menggerutu dan mengacak-acak lemarinya sehingga ia tak sadar jika Dimas ada di dekatnya


"Mas, Mas Dimas???" ucap Kinar tercekat, sedetik kemudian ia menutupi tangannya ke arah dadanya yang masih terbuka


”Kenapa kamu begitu kaget???”


"Mas apa yang kamu lakukan???" ucap Kinar gelagapan, ia tak bisa mengambil handuknya yang sudah di lempar oleh Dimas ke kasur,


"Apa kau lupa ini kamarku juga? kenapa aku perlu alasan untuk berada disini???" tanya Dimas tersenyum licik

__ADS_1


”Ah iya juga sih, tapi bisakah kamu keluar mas, aku mau pakai baju"ucap Kinar merona merah membuat Dimas gemas melihatnya, istrinya itu terlihat makin menggodanya, terlebih hormon kehamilan membuat tubuhnya makin montok berisi.


Dimas yang awalnya ingin marah pada Kinar, setelah masuk dan melihat istrinya tanpa busana malah terpanah dan ide jail malah muncul tiba-tiba,


"Aku sudah pernah lihat semuanya, kenapa harus menutupinya dan malu"ucap Dimas lembut membuat Kinar merasa instingnya jika suaminya berbahaya, ia menepikan tubuhnya ke lemari karena Dimas terus maju dengan senyum di wajahnya


"Mas, mas, apa yang kamu lakukan???" tanya Kinar


Mmmfhhh


Dimas langsung memeluk istrinya dan ******* bibir Kinar, membuat Kinar bungkam, tangan Dimas juga bebas mengelus pundak Kinar lalu meremas bukit kembar Kinar yang menantang.


Suara erangan lolos dari bibir Kinar membuat Dimas tersenyum penuh kemenangan, ia membopong tubuh Kinar tanpa melepas pangutan mulutnya, mengunci pintu dan meletakkan Kinar di kasur


Kinar terlihat merah merona namun ia hanya diam, Dimas naik dan kembali ******* bibir Kinar yang ranum, bibir yang membuatnya ingin lagi dan lagi, manis dan membuatnya kecanduan


Akhirnya mereka melakukan penyatuan di sore yang tenang itu, hanya terdengar erangan penuh kenikmatan dari sepasang suami istri itu.


Setelah beberapa kali pelepasan akhirnya Dimas dan Kinar tergeletak, Kinar yang kelelahan tertidur pulas, dengan lembut Dimas menyelimuti dan mengecup puncak kepala Kinar


"Sepertinya aku berar-benar sudah jatuh cinta pada wanita ini, dia selalu membuatku gila, aku tak suka melihatnya dekat dengan lelaki, ada rasa tak rela melihat ia tertawa dengan pria lain. Cemburu?????


entahlah, namun darahku mendidih setiap kali aku melihatnya dengan lelaki lain.


Aku harus membuatnya tak pernah berpaling dariku, aku tak mau kehilangan dia lagi.


”Maafkan mas sayang, walau masih ragu dengan kehamilanku, mas yakin satu hal, mas mencintai kamu" gumam Dimas lirih, mencium kembali kening istrinya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi dan berpakaian, Dimas turun menuju meja makan, ia sangat kelaparan, dan kehabisan tenaga karena pertempurannya dengan Kinar, Mariska tersenyum melihat putranya turun dengan rambut basah, namun wajahnya terlihat tenang, ia menduga situasinya terkendali, terlihat mood Dimas yang sangat baik, berbeda dengan beberapa waktu lalu saat ia menemuinya


"Dimana Kinar sayang?? kenapa dia gak turun makan malam?" tanya Mariska lembut

__ADS_1


"Kinar tertidur ma, biar nanti Dimas yang antar makanan ke kamar" ucap Dimas tanpa menoleh mamanya sibuk dengan makanan di piringnya, Mariska hanya bis mengangguk dan tersenyum penuh arti


__ADS_2