
"Siapa???...."tanya Bella penasaran, pasalnya ia tak pernah memberitahu keluarga atau teman-temannya jika ia tinggal disini, setelah di pikir-pikir ia tak bisa menebak siapa tamunya tersebut
mbok iya hanya menaikan bahunya tak tahu lalu pamit meninggalkan kamar tersebut
"Mas, cepat kau telepon pengacara mu urus perceraian mu" ucap Bella.
Dimas langsung menelpon pengacaranya, rupanya Kinar belum mencabut gugatan cerainya, sehingga ketika Dimas mengabari pengacaranya jika ia ingin bercerai yang artinya menyetujui gugatan Kinar itu artinya hanya selanjutnya hanya tinggal menunggu akte cerai keluar.
Dimas mengusap wajahnya kasar, berharap apa yang dia lakukan benar.
"Cepat telepon pengacara mu Bell"
"Aku mau menemui tamuku, tak usah khawatir, aku sudah mendapatkan yang ku mau, aku tak perduli pada wanita itu, ya Walaupun aku membencinya.
"Bella....." teriak Dimas kesal, namun bella terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Dimas, Dimas frustasi di buatnya.
Dimas segera mandi, dan ingin melihat siapa sebenarnya tamu Bella
Bella berjalan menuju ruang tamu,
"Siapa yang.....
Papa.....??????" pekik Bella terkejut, pasalnya di depan sana sedang duduk seorang pria paru baya yang kini terlihat lebih tua dengan lingkar hitam di bawah matanya, wajah tuanya yang tampan terlihat letih dan sedih.
"Papa kenapa gak bilang mau kesini??? papa tahu dari mana Bella disini?" tanya Bella beruntun sebelum pria itu menjawab, Bella dengan patuh mencium punggung tangan papa tirinya yang sudah seperti papa kandungnya, pria ini juga yang paling ia sayang sekaligus ia hormati di muka bumi ini, karena bagi Bella beliaulah pelindungnya, papa ya, sekaligus sahabat baginya.
"Papa hanya mampir sayang"ucap Marwan berbohong
"Bella kangen papa, papa demam??? kok badan papa panas sekali???" tanya Bella yang langsung bergelayut manja pada papanya, sementara matanya menatap tajam pada adik tirinya yang amat ia benci, siapa lagi jika bukan David.
Bella bisa menduga jika David lah yang membawa papanya ke tempat ini.
"Apa kamu sehat nak?" tanya Marwan membelai rambut putrinya mengalihkan pembicaraan
"Aku sehat pa, walau sakit pun aku langsung sembuh lihat papa" ucap Bella manja, Damar seolah melihat hal yang aneh, ia melotot tak percaya melihat wanita ular itu tunduk pada papa tirinya, sepertinya papa tiri Bella memang memiliki peran yang besar dalam kehidupan Bella, wanita bermulut pedas itu pun langsung seperti gadis lugu yang lemah lembut di depan Marwan.
Sebelum Bella keluar, Marwan dan David sudah menjelaskan maksud kedatangan mereka kerumah ini, sehingga Damar masih menunggu bagaimana reaksi Bella ketika papanya meminta ia melepaskan Dimas, dan mencabut gugatan perkara Kinar
__ADS_1
"Papa ingin mengajakmu kembali ke rumah" ucap Marwan tiba-tiba, membuat Bella yang tadinya menyenderkan kepalanya di bahu Marwan langsung tegak duduk menatap papa nya
"Aku sudah menikah pa, lihat, aku istri Dimas pa" ucap Bella menunjukkan cincin pemberian Dimas,
"Nak, papa sudah tua, begitu pula mama kamu,
papa yakin jauh di lubuk hati kamu, kamu sangat menyayangi kami.
Mama mu kini di rawat kembali karena serangan jantung, entah sampai kapan ia bisa bertahan, jangan membuat sesuatu yang akan kamu sesali nanti saat kami sudah tidak ada" ucap Marwan lirih membelai rambut putrinya
"Papa gak ngerti, aku memang sayang kalian, tapi aku sudah menikah dengan orang yang aku cintai, sebentar lagi, sebentar lagi kami akan resmikan pernikahan kami, setelah mas Dimas menceraikan istrinya" ucap Bella menggenggam tangan Marwan berusaha meyakinkan
"Bella, apa kamu benar-benar mencintai Dimas atau hanya obsesi mu??? jika kamu mencintai dia, kamu tak akan bisa menyakiti nya nak"
Ternyata papa sama seperti yang lain, gak mengerti Bella" teriak Bella sedih
"Justru papa mengerti kamu, kamu sudah berbuat terlalu jauh, kamu sampai mencelakai istri sah Dimas" ucap Marwan, sebutir air mata lolos yang tak luput dari pandangan Bella, seumur hidup ia tak pernah melihat papa nya menaymgis, tapi kali ini ia menangis karena diirnya
"Pa, jangan sedih, maafin Bella pa" ucap Bella lirih
"Lepaskanlah nak semua, jangan kau sakiti orang lagi, papa mohon padamu tarik laporan mu" ucap Marwan bergetar sedih
"Papa sudah tahu semuanya, dan itu membuat papa sakit dan mamamu kena sernagan jantung,"
"Maksud papa???" tanya Bella bergetar ketakutan
Marwan menyerahkan amplop berwarna coklat, ia memberikannya pada Bella.
Bela membuka satu persatu foto disana serta bukti-bukti lain, termasuk bukti dari Adrian, semuanya membuat tangan Bella brrgetar dan air matanya deras turun
"Pa, ini fitnah pa" ucap Bella di sela tangisnya masih mau menyangkal
"Papa dan mama mu akan mati mengenaskan jika kamu tak mau mengakui nya nak"
"Enggak, jangan ya Allah, maafin Bella pa, Bella ngaku, maafin Bella pa, please jangan berkata begitu, Bella aja yang mati, jangan papa, jangan mama" Bella menangis layaknya anak kecil yang bersalah, ia sampai bersujud di kaki papanya, sementara Marwan menangis hingga tubuh tuanya terguncang
"Maafin Bella papa, maafin" ucapnya berulang-ulang
__ADS_1
Adrian yang mendengar keponakannya menangis langsung buru-buru masuk, ia takut emosi Bella yang tidak stabil mencelakai seseorang
"Bella, kita pulang ya, tengok Tante yang lagi sakit, beliau sangat merindukanmu" ucap Adrian lembut
"Kak Adrian, Bella salah sama kakak juga, tapi Bella lebih bersalah sama papa dan mama" ucap Bella mengadu pada Adrian , dengan lembut Adrian membelai rambut Bella
"Bella mau perbaiki?? Bella mau tarik gugatan itu??? kalau Bella gak tarik, bisa jadi bella.yang di penjara karena bukti sudah di tangan, Bella pilih mana?? tanya Adrian lembut
"Bella gak mau di penjara kak" cicit Bella menggeleng beberapa kali
"Kalau begitu, Bella hubungi pengacara dan urus semuanya, cabut semua berkas tuntutan Bella dan minta maaf pada keluarga Kinar"
"Bella benci Kinar, dia yang ngerebut Dimas"
"Dimas gak pernah di rebut, tapi Bella yang udah melepaskannya, masa kamu mau ambil sesuatu yang udah kamu buang??? Bella cantik pasti banyak yang mau sama Bella, kalau Dimas ga suka lagi sama Bella, buat apa Bella paksakan?? emang Bella mau kalau Bella di paksa kawin sama pak Pur satpam rumah kita??" ucap Adrian membuat perumpamaan, David ingin tertawa, namun ia tahan, sepupunya itu sungguh nyeleneh, walaupun kondisi kejiwaan Bella saat ini sedang di bawah normal, namun tidak juga di beri perumpamaan seperti itu, sungguh dokter edan, ucap David dalam hati
"Gak mau dong kak, enak aja maksa-maksa, pak Pur kan jelek, tua lagi, udah gitu kalau tidur ngiler" cerocos Bella membuat David tertawa lirih
"Makannya itu perumpamaan nya aja, gak enak apalagi nyata.
sekarang Bella telepon om Hendra minta beliau cabut semua berkas perkara yang kamu ajukan, lalu kita pulang jenguk mamamu, dan lihat papa Marwan juga lagi sakit, tapi bela-belain datang buat jemput kamu, masa kamu gak kasian???"
Bella menatap papa tirinya, ia tersenyum getir, lalu menelepon Hendra, pengacaranya.
Kini masalah Kinar kelar, tinggal menjelaskan pada Dimas dan keluarga Kinar,
Tak lama Dimas keluar, ia. bingung melihat keberadaan Marwan, yang ia kenal sebagai papa tiri Bella
"Assalamu'alaikum om, apa kabar??? maaf Dimas gak tau kalau om yang datang"
"Wa'alaikum salam, baik nak, gak perlu repot-repot, om cuma mau jemput Bella" ucap Marwan menjelaskan kedatangannya
Dimas bingung, ia menatap Bella yang seolah tak perduli kehadirannya, biasanya Bella akan bergelayut manja padanya
Adrian mengajak Bella ke kamar nya membantunya merapihkan baju, sementara Marwan menjelaskan semuanya, hingga Bella keluar dan menyeret kopernya meninggalkan kediaman mereka bersama orangtuanya, Dimas masih bengong, ia seperti kehilangan ruh nya, hanya bisa menatap kepergian Bella
"Apa yang aku lakukan sia-sia, sial....
__ADS_1
Aku sudah menceraikan Kinar, dan kini Bella sudah menarik gugatannya, lalu???? untuk apa aku menceraikan Kinar? ah sial, sial" ucap Dimas menonjok meja kayu di depannya, ia langsung menghubungi pengacaranya, sayangnya......