
Sepanjang perjalanan Kinar maupun Michael lebih banyak diam, Kinar lebih memilih memandang pemandangan yang mereka lalui melalui jendela mobil tanpa niat untuk memulai percakapan
"Dia, pria itu seseorang dari masa lalu mu kan?" tanya Michael tanpa menoleh, fokus memandang jalanan
"Pria mana? Anda terlalu banyak berfikir" ucap Kinar mengelak
"Aku tidak buta, begitupun yang lain, pria itu pasti ornag di masa laluku, matamu dan matanya memendam kerinduan" ucap Michael tersenyum
"Anda salah paham, kami sudah tidak ada hubungan" ucap Kinar pada akhirnya, dan ia menyesal menerima tawaran Amara untukm diantar pulang oleh Michael, pria ini pengamat yang ulung
"Kau tidak bisa menutupinya, itu terlalu kentara"
"Benarkah?" tanya Kinar
"Gadis kecil, apa kau tak sadar pria di sana semua menyukaimu, termasuk keponakanku yang dingin itu sepertinya mulai tertarik padamu" ucpa Michael membuat Kinar terkejut
"Tuan, Anda terlalu berlebihan, saya hanya gadis Asia yang menimba ilmu di negeri asing
"Hahaha, jadi kau belum berfikir untuk menikah?? ah biar ku tebak usiamu paling masih dua puluh tahun, masih hijau" ucap Michael tertawa sendiri setelah mengatai Kinar masih hijau
"Bule stress, bisa-bisanya dia mengatakan aku masih ijo, dia pikir aku sayur kali" gerutu Kinar tak senang
"Maaf tapi usia saya lebih dari dua puluh" ucap Kinar meralat ucapan Michael
"Ya dua puluh lima maybe"
Kinar menggeleng, Michael terus menebak usia Kinar hingga tanpa terasa sudah di depan kediaman Ridwan
"Tiga puluh dua?? come on dokter cantik, itu tidak mungkin usiamu kan???" Kinar tidak menjawab dan hanya tersenyum
"Tapi kenyataanya seperti itu tuan Michael" ucap Kinar masih tersenyum
"Biasanya wanita paling tabu mengatakan usianya, tapi kau malah menua kan usiamu" ucap Michael menggelengkan kepala
"Mengapa harus berbohong usia kita, jika itu kenyataanya.
Tahun ini aku genap tiga puluh dua tahun dan aku tak malu dengan usiaku, aku justru bersyukur Allah masih memberiku umur dan kesehatan hingga usia sekarang, kalau begitu, terima kasih tuan michael sudah mengantarku sampai rumah" ucap Kinar
Tiba-tiba tangan Kinar di tarik oleh Michael sontak Kinar terkejut dan memandang Michael, pria tersebut buru-buru menarik tangannya kembali
"Maaf aku tak sopan, menikahlah denganku", ucap Michael tiba-tiba membuat Kinar terkejut
"Anda mabuk tuan, hati-hati di jalan" ucap Kinar bergegas turun
"Dokter Kinar, aku serius"
__ADS_1
"Anda pintar melawak tuan Michael, selamat malam.
hati-hati di jalan" ucap Kinar langsung keluar tanpa menoleh lagi,
"pria ini Gila!!!!!
Bagaimana dia melamar ku saat baru saja melihatku beberapa jam lalu, dasar sinting" gerutu Kinar
"Dokter Kinar aku serius" teriak Michael, namun Kinar hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh dan langsung masuk ke dalam rumah.
Sementara Michael berdiri di luar pagar dan tersenyum penuh arti
"Menarik!!!!" ucapnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
Kinar lngsung masuk ke dalam kamar, sepertinya semua orang belum pulang karena keadaan rumah masih sepi.
Kinar segera masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah air shower yang menetes deras, ia perlu merelaksasi kan pikirannya.
Sementara di kamar hotel Dimas duduk di tepi ranjangnya meneguk minuman keras di tangannya, ucapan Kinar terngiang-ngiang di telinganya.
wanita yang ia cintai sudah melupakannya, harusnya ia kini mendukungnya untuk menggapai impiannya jika ia benar-benar mencintai Kinar.
Dimas melempar gelas di tangannya hingga pecah berkeping-keping
"Aku akan terus mencintaimu dengan caraku, aku akan menunjukkan padamu, bahwa aku bisa menjadi pria yang bertanggung jawab, aku berjanji padamu Kinar." gumam Dimas lalu menuju kamar mandi tanpa menanggalkan pakaiannya, ia menyalahkan keran membiarkan air shower membasahi tubuhnya.
Albert sempat mencuri dengar dari pembicaraan antara Bernard dan Dimas semalam.
namun mamanya tak membuka kado darinya, apa mamanya marah padanya??? atau kado dari Bernard lebih berarti untuknya
Apa mamanya bahkan lebih perduli pada Bernard daripada dirinya yang notabenenya adalah anaknya???"
Terlihat di kejauhan Amara sedang menyiapkan makan untuk Albert, sesekali terlihat senyum tulus penuh kasih sayang Amara sambil mengelus puncak kepala Bernard, Albert merasa kegetiran di hatinya, ia iri dengan perilaku mamanya pada Bernard
"Apa yang kau lihat??? apa kau iri dengan bernard???" tanya lucky yang menepuk punggung putranya membuat Albert meloncat kaget
"Papa, bikin kaget aja, siapa juga yang iri sama ank tengil itu" ucap Albert kesal
"Nak, jika saja kau sedikit perhatian pada mamamu, kamu juga akan di perlakukan sama, karena bagi kami kalian sama-sama anak kami.
walau Bernard bukan darah daging kami, tapi dia lahir dari hati kami, sedang kamu yang darah daging kami tak pernah perduli pada kami.
Kami hanya ingin anak kami memberikan sedikit waktunya sedikit saja nak, kami tak perduli apakah kau sukses atau berhasil dalam bisnismu, yang kami perduli kan adalah kasih sayang kamu pada kami.
Papa bertanya. padamu, kapan terkahir kali kamu menghabiskan waktumu dengan kami??? tidak pernah.
__ADS_1
Kemarin pagi sebelum kerja Bernard ke rumah dan memberikan kado itu, ia memang tak memberikan sesuatu yang mahal seperti yang kau berikan, tapi mamamu sangat bahagia karena dalam pemberiannya ada cinta dan perhatian.
sedang kamu....
Papa harap kamu segera berubah, sebelum terlambat, usia kami semakin bertambah, hanya masalah waktu saja kami akan di panggil sang pencipta" ucap lucky menepuk halus pundak putranya lalu memilih berjalan mendekati putra angkat dan istrinya yang sedang berbincang hangat di meja makan
Albert membatu di tempatnya, hatinya di penuhi rasa bersalah dan penyesalan, ia saja lupa kapan ia benar-benar perhatian pada mama dan papanya, menghabiskan waktu dengan mereka, memperhatikan merek, ia lupa.
mungkin saat Gabby masih ada dulu dan itu sudah bertahun-tahun lalu, Albert menyesal.
Albert mendekati papa dan mamanya yang sedang menyantap sarapan pagi mereka, ia tiba-tiba bersimpuh
"Ma, pa, maafkan Albert" ucap Albert menundukkan kepalanya
"Nak apa yang kamu lakukan?" tanya Amara heran dengan kelakuan putranya
"Ma, pa, Albert salah, selama ini Albert sudah mengabaikan kalian dan sibuk dengan pekerjaan maafkan aku ma, pa" ucap Albert menitikkan air mata.
Amara langsung memeluk putranya dan menangis, sementara lucky hanya memeluk dan menepuk punggu kedua orang yang amat di cintanya.
Bernard mendekat dan memeluk mereka bertiga
"Sepertinya pagi ini, mama menumpahkan lada terlalu banyak pada telor ku sampai aku menangis" ucap Bernard yang membuat Albert, Amara dan lucky tertawa
"Bagaimana jika besok kita liburan???" tanya Albert tiba-tiba
"Kau sedang tidak mabok kan Al?"
"Tidak, besok Dimas kembali ke Indonesia, bagaimanjika kita menginap di resort kita sendiri di Indonesia????"
"Serius????" tanya Bernard tak percaya
"Bagaimana ma??? apa mama mau???" tanya Bernard pada Amara. Amara menoleh ke arah lucky suaminya yang tersenyum dan mengangguk
"Baik mama setuju" ucap Amara yang langsung di peluk oleh Albert
"Albert janji akan belajar jadi anak yang baik, Albert tak mau mama hanya memperhatikan bocah tengil ini" gerutu Albert protes
"Jadi loe cemburu bro????, iri bilang bos"
"Diem loe"
"Hahaha, mama sayang kalian berdua" ucap Amara memeluk kedua putranya
"Ma, satu lagi.... papa bagaimana????" protes lucky
__ADS_1
"Mama bosen sama papa, ya kan ma??? goda Albert membuat Amara terkekeh
"Anak durhaka" ucap lucky yang di balas tawa ketiganya.