
Tidak ada satupun dari semua anak buah Dira dan Albert yang masih hidup mau mengaku kalah dan menyerah. Mereka memilih untuk bertarung sampai akhir dan membawa nama baik mereka sampai napas terakhir. Dari pada mereka harus menyerah kepada musuh yang hanya utusan untuk melawan mereka.
" Jangan pikir kami akan menyerah. Tidak ada kata menyerah untuk kami. Lebih baik mati daripada menahan malu karena mengorbankan kehormatan demi nyawa. "
" Ternyata kau masih saja besar bicara panggeran. Atau aku harus panggil kau mantan panggeran saat ini? kau tidak ada apa apanya dengan panggeran Hansen. Dia jauh lebih baik daripada kau seorang pengecut. "
Tolvar sangat marah mendengar hal ini. Tapi dia mengakui kalau dirinya sangat lemah. Karena dia bisa di kalahkan oleh pengawal seperti mereka. Jadi dia tidak bisa melawan sama sekali. Dia beberapa kali mengutuk dirinya yang begitu lamban dan tidak bisa menjalankan tanggung jawab yang di berikan Dira padanya. Saat ini rasanya Tolvar ingin mengakhiri hidupnya saja karena tidak mau bertemu dengan Dira lagi. Malu itu sangat besar dan dia tidak bisa menanggungnya.
Saat mereka masih beradu mulut, salah satu anak buah dari penglima yang di tugaskan menyerang tenpat Dira itu berjalan masuk kedalam rumah. Dia ingin melewati kawasan yang sudah di larang oleh Dira. Dan di saat kakinya hampir menginjak batas rumah tersebut, tiba tiba kepala dari pengawal itu sudah terpisah dari tubuhnya.
__ADS_1
Mereka yang melihat kejadian itu seketika kaget dan bertanya tanya apa yang sudah terjadi. Dan apakah masih ada jebakan di sekitar rumah itu.
" Kalian mundur. kita akan periksa adi di sekitar rumah itu ada jebakan lagi atau tidak. Karena bila masih di pasang jebakan. Berarti di dalam ada harta berharga. Ayo cepat bawa senjata kalian semua kerumah itu. Dan siapkan diri melawan jebakan disana.
Tapi semua yang ingin masuk kedalam rumah tiba tiba semua tumbang. Tidak ada yang melihat apa yang terjadi. Tapi semua perlindungan yang di pakai oleh pengawal itu tidak ada yang mempan menahan serangan tersebut. Seolah serangan itu punya mata dan sudah mengincar mereka yang berani mencoba mendekati rumah tersebut.
Tolvar di tunjuk oleh panglima itu dengan sejata yang dia bawa saat ini. Tapi Tolvar tidak bergerak atau bersuara. Dia juga merasa bingung dengan apa yang sudah terjadi. Jadi dia tidak menjawab apapun.
" Beraninya kau mengabaikan perkataan ku. Cepat buka pintu untuk masuk kedalam rumah itu. Kau dengar aku? "
__ADS_1
" HEI... SIAPA YANG KAU GERTAK ITU? Bila kau ingin memasuki rumah seseorang, kau harusnya meminta ijin pada yang punya. Apa kau paham maksud ku? "
Mendengar suara permpuan dari arah atas, membuat semua orang melihat kearah tersebut. Tolvar dan yang lainnya seketika tersenyum karena melihat Dira dan Albert yang sudah datang.
Di tangan Dira terdapat katana yang sangat tajam dengan di ujungnya terdapat noda darah yang menetes. Mereka tau kalau itu artinya katana itu baru saja di pakai melukai seseorang. Tapi mereka tidak tau siapa yang di lukai.
" Siapa kau? "
" Kau berani ingin masuk rumahku tapi tidak mengenal siapa aku begitu? Hebat sekali kau. "
__ADS_1