
Selama perjalanan menuju apartemennya, Dira sama sekali tidak bicara apapun. Dia hanya duduk diam dan terlihat tenang. Padahal saat ini dia merasa tidak nyaman dengan apa yang Raka pikirkan.
Raka memikirkan bagaimana cara memberitahukan Dira agar dia tidak terlalu kejam dalam menghukum orang. Dia tidak suka melihat Dira yang bermandikan darah begini.
" Dira... "
"Hemm"
" Bisakah kita bicara agak santai? "
Dira tau kemana akan arah pembicaraan Raka ini. Tapi dia tidak keberatan sama sekali.
" Ada apa kak? "
" Kalau kamu mau menghukum musuh kamu, bisakah tidak terlalu kejam begitu? Seperti saat ini. Lihat badan kamu bermandikan dengan darah mereka."
" Hemmm baik lah... aku akan gunakan pelindung pakaian nanti saat akan melakukannya. Bukankah di rumah sakit juga banyak yang pakai pakaian begitu ya.. "
__ADS_1
Dira mengatakan hal itu supaya Raka tidak lagi memaksa dia untuk berhenti melakukan apa yang menurutnya hal biasa.
" Ra... bukan itu maksudnya... "
Karena merasa Raka akan selalu membahas hal itu, jadi Dira akan menjelaskan secara ringkas soal apa yang dia lakukan.
" Kak... untuk memberikan hukuman begitu bisa saja aku tidak ikut campur asal aku tidak di provokasi terlebih dahulu. Kakak tau, saat aku pura pura pingsan, dengan kurang ajarnya Bryan ingin menjamah tubuh aku. Fredi juga berkata seperti itu. Terlebih Fredi dia sudah membunuh ibu kandung aku dan setelah meninggal di setubuhi oleh dirinya. Aku tidak suka akan hal itu kak. "
Raka yang awalnya ingin melarang Dira berperilaku terlalu kejam langsung merasa marah saat mendengar perkataan Dira. Dia menyesal tidak ikut menghukum mereka.
" Ra.. "
" Aku tidak tau akan hal itu. Maaf"
" Aku tidak masalah. Bagaimana dengan keamanan mereka saat ini? "
" Semua sudah baik baik saja. Apa kamu akan menemui mereka setelah ini? "
__ADS_1
Karena hari sudah pagi. Dan mereka baru pulang dari tempat itu, niatnya Raka ingin menyuruh Dira istirahat saja dulu dan jangan menemui papanya. Tetapi kembali lagi pada Dira. Bila dia ingin pergi, dia tidak bisa melarang.
" Aku capek kak. ingin istirahat. Badan aku sangat kotor saat ini. Dan aku ingin cepat berendam. "
Raka menyunggingkan senyumnya saat mendengar hal itu. Sebenarnya kadang Raka merasa Dira bisa mendengar apa yang dia pikirkan. Tapi Raka berpikir itu hal yang mustahil.
" Nanti, aku akan buatkan kamu coklat panas saat kamu selesai berendam. Agar kamu bisa istirahat dengan nyaman."
" Hemm. "
Mereka sampai di apartemen dan Dira langsung membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Raka dia ada di dapur untuk membuat makanan dan juga coklat panas untuk Dira.
" Aku tidak tau apa yang kamu sembunyikan selama ini kepada aku. Tetapi selama itu hal yang baik dan tidak membahayakan diri kamu, aku akan mendukungnya."
Raka tulus menyayangi Dira sebagai adiknya. Tetapi di pandangan Alvin, Raka itu menyukai Dira secara romantis. Dan itu mengganggu dirinya.
Di villa tempat persembunyian Alvin dan yang lainnya saat ini di repotkan dengan ibu Alvin yang mengamuk dan tidak bisa di kendalikan. Entah apa yang mempengaruhinya. Ibu Alvin sama sekali tidak bisa tenang. Padahal sudah Alvin usahakan berbicara dengan pelan dengan ibunya.
__ADS_1
" Vin, kamu coba telpon Raka. ini sudah pagi. Mungkin mereka saat ini sudah kembali. "
Alvin langsung menghubungi Raka dan ibunya di pegangi oleh para pengawal. Mereka tidak ada berurusan dengan penjahat tetapi mereka malah berurusan dan kerepotan dengan ibu Alvin yang mengamuk.