
Saat Dira sampai di depan apartemennya, dia mendengar keributan dari dalam. Dan dengan segera dia membuka pintu dan melihat Alvin sedang berusaha menenangkan ibunya.
" Bibik... bibik.. hei... lihat aku... bibik.. "
Dira datang dan langsung memegang pipi ibu Alvin. Dia mencoba menarik perhatian ibu Alvin dengan menatap matanya.
Dan dengan perlahan, ibu dari Alvin mulai tenang melihat Dira. Dia menatap mata Dira dalam. Seolah Dira memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk dirinya.
Secara perlahan Dira menyuruh semua yang ada di dekat sana menyingkir dan memberi ruang untuk Dira dan Ibunya Alvin.
Angga yang melihat cara anaknya menenangkan wanita gila itu membuat dia merasa khawatir. Dia khawatir anaknya di lukai oleh wanita itu.
" Bila kamu sampai melukai anak aku, siapa pun kamu bagaimana pun kondisi kamu, aku akan lenyapkan kamu saat itu juga. "
Angga memperhatikan mereka sambil berkata dalam hati. Dia tidak ada melihat orang lain lagi. Fokusnya hanya kepada Dira saja saat ini.
Dira mendengar setiap pemikira mereka yang ada di ruangan ini. Dan dia mengabaikan semuanya.
" Bibik, kita duduk sebentar ya, Dira capek. Apa bibik tidak merasa capek? Tadi Dira berlari menuju tempat ini. "
__ADS_1
Cara Dira mengeluh benar benar seperti anak kecil yang sedang mengeluh kepada ibu kandungnya.
Angga melihat hal itu merasa sakit di hatinya. Putri kecilnya mengeluh kepada wanita yang bukan ibunya.
Dia berharap nanti Dira akan bisa mengeluh kepada dirinya. Bila nanti Dira bisa menerima kenyataan kalau Angga adalah ayah kandung dirinya.
" Dira... Papa sangat merinduka kamu sayang... bila nanti bisa, bolehkah papa yang menerima perlakuan kamu itu. Papa sangat ingin kamu bermanja dan merengek kepada papa sayang "
Angga larut dalam lamunannya dan tidak menyadari sekarang Dira sudah berhasil membujuk ibu Alvin dan memeriksanya secara singkat.
" Bibi, apa bibi percaya pada aku?"
" Bibik, sekarang bibi mandi dulu, kita akan bersih bersih dulu sebelum tidur. Nanti Dira temani bibi tidur ya.. Tapi bibi harus bersih dulu. Bukankah tidak baik tidur dalam keadaan kotor. "
Cara yang Dira pakai saat ini, dia pelajari dari buku kejiwaan yang dia dulu baca di rumah A ying. Di sana terdapat berbagai macam cara untuk berkomunikasi dengan orang gangguan jiwa.
Dan sekarang Dira memperaktekannya. Semua ilmu itu ternyata sangat bermanfaat untuk dirinya. Dia merasa lebih mudah menghadapi ibunya Alvin dan hanya perlu lebih meningkatkan kewaspadaan saja.
Dira tidak boleh lengah saat berhadapan dengan ibu Alvin. Karena emosi ibu Alvin masih tidak terkendali. Nanti Dira akan mengambil sample darah dari ibu Alvin dan akan memeriksanya.
__ADS_1
Barulah Dira bisa memberikan obat untuk ibu Alvin.
Jadi untuk sekarang, Dira hanya bisa menenangkan ibu Alvin dengan cara begini. Dia tidak mungkin memberikan obat penenang terus. Karena itu akan mengganggu saraf otaknya nanti.
Setelah selesai mandi dan menidurkan ibu Alvin, disana baru Dira mengambil sample darahnya.
" Dira... "
" Kita bicara di luar Vin. "
Mereka keluar dan langsung di sambut oleh Angga.
" Sebentar om... aku capek "
Mendengar hal itu, ingin sekali Angga memeluk putrinya dan membiarkan putrinya beristirahat di pelukannya.
" Vin, ibu kamu sengaja di buat gila. Penanganan dia harus lebih ekstra dan aku tidak menyangka kalau ibu kamu sangat mempercayai aku. Jadi untuk sekarang, ibu kamu aku ajak tinggal di sini dulu. Apa kamu keberatan? "
Alvin langsung menggeleng. Mana mungkin dia keberatan. Dia malah merasa tidak enak kepada Dira karena dia merepotkan Dira.
__ADS_1