
Dira yang sempat membeku mendengar suara dari cucu nenek tersebut dengan cepat mengembalikan ketenangannya. Dia mulai menjelaskan kalau nenek tersebut akan menunggu di cafe sampai pria itu menjemputnya.
" Halo... "
" Halo... saya hanya ingin menberitahukan kalau nenek anda akan menunggu kedatangan anda di cafe sebrang taman. "
" Hei... kamu siapa? "
Dira sama sekali tidak ada menjawab pertanyaan itu. Dan dia langsung mematikan telponnya.
" Nek... mari kita tunggu di cafe saja. Disana akan jauh lebih nyaman. "
" Kamu sangat baik nak..."
Dira sama sekali tidak ada menanggapi perkataan nenek tersebut. Pikirannya masih pada suara familiar yang di dengar tadi.
" Gak... ini belum saatnya... akan ada saatnya aku bertemu dengan dia. Tapi yang jelas bukan sekarang. "
__ADS_1
Dira bicara dalam hati sambil melangkah menuju cafe tersebut. Sesampainya di sana, Dira langsung ingin pamit karena harus datang ke kantornya. Dan juga menghindari pertemuan dirinya dengan cucu nenek itu.
" Nek... tunggu disini saja ya.. saya ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Tidak apa kan nek kalau nenek menunggu sendiri? "
" Apabila memang pekerjaan kamu sangat penting, silakan pergi nak... Terimakasi sudah menolong nenek.. "
" Maaf ya nek, aku tidak bisa menemani nenek. "
Dira langsung menghindar dari pembicaraan lebih lanjut dengan nenek tersebut dan dia langsung meninggalkan cafe.
" Ini bukan saat yang tepat untuk aku bertemu dengan mu.. Nanti bila sudah tiba waktunya, aku sendiri yang akan mendatangi kamu. "
Dia tidak mau bertindak tergesa gesa dan tanpa persiapan. Lagi pula, di kehidupan ini, dia belum bersinggungan dengan Wuhan secara langsung. Dia juga belum tau Wuhan itu lahir dengan nama siapa saat ini.
Sesampainya Dira di apartemen miliknya, dia langsung menghubungi orang yang berkerja di perusahaan. Perusahaan yang Dira bangun belum cukup besar dan belum terdaftar. Jadi belum ada yang tau mengenai hal itu.
Prusahaan Dira di bantu di urus oleh orang yang sebelumnya A ying suruh. Dia sudah menjadi asisten Dira dan orang kepercayaan Dira. Dia bernama Raka. Raka pemuda yang tegas dan cermat menurut Dira. Jadi dia mudah untuk mempercayakan peruhaan kepadanya. Selain itu, Raka juga sudah tau bagaimana dan siapa Dira.
__ADS_1
Jadi Raka tidak masalah dengan tindakan Dira yang spontan. Karena sebelumnya A Ying juga bertinda hampir sama seperti Dira. Bedanya A ying tidak pernah di lihat sadis ataupun kejam oleh Raka. Sedangkan Dira, Raka sudah pernah melihat hal itu.
Tapi Raka malah lebih hormat lagi kepada Dira setelah tau sisi buruknya. Kadang Raka menganggap Dira adik dia sendiri tapi tidak pernah dia tunjukan hal itu kepada Dira.Karena takut Dira tidak nyaman.
" Raka, apa semua baik baik saja di perusahaan? "
" Semua baik, jadi kenapa kamu tiba tiba memutuskan tidak jadi ke perusahaan? "
" Tidak ada alasan khusus, hanya aku ingin saja. "
" Besok rencananya aku mendaftakan perusahaan ke pengadilan untuk mendapatkan pengakuan dan pelegalan untuk usaha yang kita buat. "
" Aku pikir belum saatnya. aqku ingin kita main dari bawah dulu."
" Kamu jangan gila, itu melanggar hukum. "
" Aku hanya menunda sampai aku selesai menyeleksi karyawan saja. "
__ADS_1
Raka mengerti maksud Dira, dia hanya tidak mau ada tikus pengganggu di dalam perusahaannya. Jadi dia mendukung saja keinginan Dira. Walaupun gila, tapi Raka tau Dira tidak akan mau di bantah dan di tolak.