
Suasana di ruang kerja A ying sangat sepi. Tidak ada pembicaraan hanya suara napas saja yang dapat di dengar oleh penghuni ruangan.
" jadi Dira, sejak kapan kamu sudah tau ini semua?"
" apa maksud kakak? "
" Jangan pasang tampang bodoh itu lagi di depan aku. jelaskan semuanya. "
" Baiklah, aku tau kakak akan pergi baru saja tadi. saat nyentuh tangan kakak"
" yang lainnya. "
" yang lain apa? aku tidak tau hal lain. aku hanya kaget, kenapa kakak mau pergi secepat itu. "
" aku tidak akan meninggalkan kamu tanpa alasan Dira. kalau umur aku sudah berkurang, berarti kamu sudah mulai bisa aku lepas sekarang."
" jadi tau ataupun tidak kakak akan perkembangan aku, umur kakak tidak akan bisa di tipu? "
__ADS_1
" kamu pikur siapa yang menentukan hidup dan mati seseorang? apa masih bisa kita ajak berunding? "
" tapi kak... "
" jawab saja jujur Dira. bagaimana sekarang dengan dirimu. "
" sebelum aku bilang, bisakah kakak bilang dulu ramuan apa agar kakak tidak cepat ninggalin aku?"
" kamu pikir ini main main Dira? aku sudah seharusnya dari dulu mati... "
" tapi aku belum siap. "
" kak, aku rasa aku gak bisa. "
" kalau kamu gak ingin menjelaskannya, aku gak akan memaksa. aku juga baru sadar kalau aku sudah tidak bisa membaca pikiran kamu lagi. mungkin sekarang kamu sudah mulai memahami banyak hal. "
" kak, jadi kapan waktu terakhir kakak? "
__ADS_1
A ying tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Dira tidak memaksa lagi dan langsung pergi dari ruangan itu.
" kamu tidak tau saja Dira... aku sudah menahan luka terlalu lama dan saat kepergian aku, itu hal yang sangat aku nantikan. aku menyayangi kamu, tapi aku tetap ingin pergi untuk melepaskan semua beban di dada aku ini. terlalu banyak hal yang sudah aku lihat selama aku hidup. Dan banyak juga penyesalan yang aku alami salah satunya tidak bisa menyelamatkan kamu di kehidupan yang sebelumnya. aku harap kali ini persiapan kamu untuk bertemu mereka lebih matang. "
A ying masih merenung di dalam ruang kerjanya. Sedangkan Dira, dia duduk diam di dalam kamarnya. Dia duduk di lantai di dekat pintu menuju balkon kamarnya. Dira diam sambil menatap bintang dan merenungi semua perkataan A ying.
Dari awal A ying sudah mengatakan, kalau dia akan melatih Dira sebelum kepergiannya.
seharusnya dulu dia sudah paham akan hal itu. setiap kemajua dirinya, akan membuat A ying semakin dekat dengan kematian.
" kenapa aku bisa ceroboh begini. sekarang apa yang harus aku lakukan. apabila aku tidak meneruskan belajar, aku yakin akan lebih buruk dampaknya. bukan hanya untuk A ying, tapi juga untuk aku dan chupa. "
Dira masih memikirkan berbagai hal. Sedangkan Angga, dia mendapatkan kabar kalau putrinya di adopsi oleh sepasang suami istri. tapi mereka memperlakukan anaknya lebih buruk dari pembantu.
Angga jelas marah dan ingin secepatnya menemui suami istri tersebut. tapi tidak bisa karena kelanjutan laporan pengawalnya.
" mereka sudah lama meninggalkan rumah tersebut tuan. dan dari informasi yang saya terima, mereka juga sudah menjual putri anda kepada pria hidung belang. Dia adalah rentenir. yang bernama Baron".
__ADS_1
" Baron... cepat bereskan dia. dan tanya dimana putriku berada saat ini. "