Lahir Kembali Di Tubuh Baru

Lahir Kembali Di Tubuh Baru
Aku Lelah


__ADS_3

Angga yang melihat keadaan Raka begitu langsung mengalihlan pandangannya menuju Dira. Dia melihat Dira saat ini sedang memeluk erat ibu Alvin. Nyonya Bulan atau ibu Alvin ini terus mengelus punggung Dira yang memeluknya itu.


" Bik.. bolehkah aku meminjam tangan bibik? Aku perlu memastikan sesuatu. "


Nyonya Bulan langsung memberikan tangannya. Bagaikan anak kecil. Nyonya Bulan sangat patuh kepada Dira.


" Aku akan sangat kewalahan bila belum juga menemukan obat penawar dari racun yang ada di tubuh nyonya Bulan.Dia sangat tergantung pada aku. Dan hal ini membuat aku tidak bisa melakukan apapun. "


Dira melakukan pengecekan sederhana kepada nyonya Bulan sambil berguman dalam hatinya. Dia perlu menghubungi Tolvar untuk hal ini.


Atau akan jauh lebih baik membawa nyonya Bulan ke rumahnya di Hutan. Tapi bila dia melakukan hal Itu, berarti Angga akan mengetahuinya juga.


Dia agak bingung dengan apa yang harus di lakukan saat ini. Saat dia melihat kearah Raka, dia masih melihat Raka yang memejamkan matanya di sofa itu.


" Kak... "

__ADS_1


Raka hanya diam tidak mau merespons Dira. Dia masih kesal dengan apa yang Dira lakukan. Bisa bisanya Dira membuat kekacauan begitu. Bahkan tidak memikirkan resiko yang akan mereka hadapi nantinya. Bisa saja mereka terluka parah saat kejadian tadi di lakukan.


Karena tidak mendapatkan tanggapan dari Raka, Dira lalu menatap Alvin. Dia melihat Alvin juga sedang bengong. Jadi barulah Dira melihat kesekeliling. Mereka semua sama sama bengong menatap Dira.


" Pa.. "


Angga mendengar Dira memanggil membuat dia sadar dari keterkejutannya. Dia segera mendekati Dira. Tetapi nyonya Bulan langsung bereaksi. Dia langsung memeluk Dira erat.


" Bi... bi... gak apa apa.. Dia adalah papaku.. tenang oke.. tenang. "


" Aku sungguh sangat lelah dalam hal ini. Tetapi bila tidak segera aku keluarkan dia dari rumah sakit jiwa itu, bisa saja nyawa Bibik Bulan ini hilang karena kerasnya obat yang di berikan. "


Perlahan Angga ikut menidurkan Bulan di sofa itu. Dan membantu Dira supaya dia merasa lebih nyaman.


" Dira... kamu tidak apa apa nak? "

__ADS_1


" Aku tidak kenapa kenapa pa.. pa, tolong sebentar abilkan aku hp aku di dalam mobil kak Raka ya pa... hp aku jatuh tadi di sana. "


" Iya akan papa ambilkan. Tetapi bisa kamu jelaskan apa yang terjadi tadi? papa pikir kalian kecelakaan tadi. "


" Itu bukan hal yang besar pa... Itu hanya aku yang membawa mobil terlalu cepat saja. "


Jawaban Dira membuat Raka merespons cepat. Dia langsung duduk dan menatap tajam Dira.


" Apa tadi yang kamu bilang Dira? bukan apa apa? Saat kamu membawa mobil itu seperti kamu sedang main bom bom car apa itu bukan apa apa? kamu tau kan bagaimana akibat bila kamu salah perhitungan tadi dan apa kita bisa berada di tempat ini sekarang? Aku sangat yakin kita akan ada di rumah sakit saat ini"


Tau akan Raka yang marah, Dira diam saja. Memang tadi itu salah Dira. Dia terlalu cepat terpancing emosinya. Dia langsung saja menuruti emosinya saat ada yang memancing dirinya sedikit saja.


" Maaf kak... "


Melihat Dira yang meminta maaf dengan wajah memelas begitu membuat Raka mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau lemah dengan Dira saat ini. Dia harus tegas untuk mengajari Dira kalau emosinya harus sedikit di tahan.

__ADS_1


__ADS_2