
Dira sudah menjelaskan segala hal dan memberikan pengaturan untuk orang orang yang tinggal di kastil itu. Termasuk Chupa yang sudah di beritahukan tentang rencana Dira. Chupa memang terkihat tidak senang dengan renacana Dira. Tapi dia tidak bisa melakukan protes apapun saat Dira sudah memutuskan.
Karena perkataan Dira dan perintahnya adalah mutlak untuk Chupa. Dia tidak berani melawan Dira. Jadi dia terima saja segala keputusan Dira.
Jadi saat ini, Dira sedang berada di sebuah taman dekat dengan kantor yang dia punya. Dia ingin duduk sejenak di taman itu dengan tenang sebelum pergi ke kantornya.
" Taman ini sangat indah, tapi sayang tidak ada yang suka berada di tempat ini. "
Saat menikmati waktu santainya, Dira mendengar ada ribut ribut di dekat taman itu. Jadi dia mulai menajamkan pendengarannya dan berjalan mendekati tempat itu. Di dekat taman itu, ada gang sempit dan di sana terliat ada nenek nenek yang sedang di palak oleh para preman.
Dira melihat ini mengerutkan sedikit keningnya dan mulai mendengarkan pembicaraan mereka.
" Cepat nenek tua, serahkan uang kamu dan semua benda berharga milikmu. sebelum aku mengambilnya secara paksa dari mu. "
" Kalian tidak bisa melakukan hal ini. kalau sampai cucuku tau apa yang kalian perbuat, tamat kalian dengan nya. "
" Hah... nenek tua. sebelum kamu melapor, kami akan lebih dulu menghabisi kamu kalau begitu. "
__ADS_1
Mereka dengan tega ingin memukul nenek nenek tersebut. Dira yang melihatnya langsung mengmbil kaleng bekas dan melemparkannya tepat mengenai kepala pereman itu.
" Aduh... siapa itu? siapa yang berani ikut campur?"
Dengan perlahan Dira mulai keluar dari tempatnya dan menghampiri mereka. Dia dengan penampilannya sekarang sudah pasti akan di anggap gadis yang lemah oleh pereman itu.
" Nak, pergi nak... jangan kemari!"
Nenek itu memperingatkan Dira. Tapi Dira tidak menanggapinya. Dia tetap berjalan mendekat kepada mereka.
" Gadis manis... kenapa kamu ikut campur masalah kami? kamu tidak takut kepada kami? "
" Aaakkkkkhhh... Brengsek.... "
" Kalau tidak ingin mendapatkan lebih banyak rasa Sakit, lebih baik pergi sekarang juga. "
Dira sudah memperingatkan mereka. Tapi mereka merasa tidak terima seorang gadis kecil melawan mereka. Akhirnya mereka mencoba menyerang bersama. Dengan sekali pulukan dan tentangan, Dira langsung bisa mengalahkan mereka.
__ADS_1
" Nek, mari... jangan di tempat ini lagi.."
Mereka menjauhi temapat itu dan mencari tempat yang aman. Sedangkan pereman itu di biarkan pingsan begitu saja oleh Dira.
" Trimakasi banyak ya nak... sudah mau menolong nenek. "
" Tidak apa, nenek mau pulang? mau saya antar? atau bisa naik taksi sendiri? "
" Nenek harus menunggu cucu nenek dulu nak, tadi kami datang bersama. Dan dia bilang ada urusan sebentar dan akan datang secepatnya.
Dira melihat penampilan nenek itu, dan tau kalau nenek itu bukan orang miskin. Yang pasti cucunya tidak akan menelantarkannya.
" Kalau begitu, mari kita tunggu dulu di cafe itu nek, disini panas. Apa nenek mempunyai nomor cucu nenek? biar saya kabari kalau nenek ada di cafe menunggu dia. "
Setelah menerima nomor orang itu, Dira langsung menghubunginya. Dia berharap orang itu secepatnha datang menemui sang nenek.
" Halo... "
__ADS_1
Saat mendengar suara di balik telpon itu, seketika Dira membeku. Dia merasa tidak asing dengan suaranya.