
Dira yang saat itu sedang membicarakan tentang pindah rumah dengan Angga, terganggu dengan telpon dari Raka.
" Halo.... "
" Ra... ada kecelakaan bus di jalan yang kakak lalui saat ini. Jadi kakak tidak bisa ke kota hari ini untuk mencari rumah."
" Kakak tidak apa apa kan? apa ada terluka? Aku akan ke tempat kakak sekarang. "
" Ra... hey... Ra... "
Dira langsung menutup telponnya dan bersiap pergi dengan Angga untuk mencari keberadaan Raka. Dia merasa khawatir dengan Raka. Karena tidak biasanya Raka akan mengabari dia begini saat terjadi sesuatu.
" Pa.. "
" Papa ikut. Tapi kamu harus pamitan dulu sama nyonya Bulan. Takutnya nanti dia mencari keberadaan kamu. "
Dira menuruti perkataan Angga dan berpamitan dengan nyonya Bulan. Walaupun perasaan Dira sangat khawatir, tetapi dia tetap bicara dengan pelan dengan Nyonya Bulan. Dia tidak bisa terburu buru bicara dengan nyonya Bulan. Mengingat kondisi Nyonya Bulan belum sepenuhnya pulih.
__ADS_1
" Bibi... Aku akan pergi sebentar dengan papa untuk mencari kak Raka. Bibi tinggal dulu di tempat ini ya... Nanti akan datang Alvin untuk menemani bibik di sini. "
" Kamu hati hati nanti Dira. Jangan ngebut membawa kendaraan. Jangan sampai terluka. Alvin bisa marah nanti. "
Dira hanya bisa tersenyum menanggapi Nyonya Bulan. Dia tidak mau memikirkan hal lain dulu sebelum semua pasti.
Saat dia sudah pergi dengan papanya ke tempat kecelakaan, Dira melihat mobil Raka terparkir di dekat jurang. Lalu dia segera turun dan ingin memastikan keadaan Raka dengan langsung.
" Aku pikir mobil bus tadi itu mobil yang membawa anak panti. Tetapi kenapa penumpang di dalamnya itu orang dewasa saja ya? "
Pembicaraan warga sekitar menarik perhatian Dira. Dia lalu melihat kesekitar dan terdapat beberapa korban yang sudah di temukan.
Dira mulai mendekat kesana dan mengurungkan niatnya mencari Raka. Ada yang lebih menarik perhatian Dira saat ini.
Tidak ada petugas yang menghentikan Dira dalam melihat jasad korban saat itu. Semua sibuk mengurus hal yang lain. Sehingga Dira dengan leluasa bisa melihat korban kecelakaan itu.
" Ini, mereka sepertinya bukan korban kecelakaan hari ini. Mayat ini sepertinya sudah mati beberapa hari sebelumnya. Aku rasa ada yang salah dalam hal ini. "
__ADS_1
Dira terus melihat mayat itu, dan dia mulai mencari bukti di tubuh korban. Ketiga korban disana, sama sama mempunyai luka yang samar di perut bawahnya. Dan itu terlihat sudah di samarkan oleh luka lain akibat kecelakaan.
" Ini seperti sudah di rencanakan. Apa di dalam mobil itu hanya ada mayat saja? Kenapa ini bisa terjadi? Siapa pelakunya?"
*pluk*
Dira yang sedang serius mengamati mayat itu, di kejutkan dengan sebuah tangan yang memukul pelan bahunya. Setelah di lihat, ternyata Raka dan papanya sudah ada di dekat dirinya.
" Kak.. "
" Kita bahas di villa saja ya... "
Seolah tau apa yang Dira ingin bicarakan. Jadi Raka mengatakan hal itu. Sedangkan Angga dia melihat sebuah tanda di bahu masing masing korban.
" Ini seperti sudah di rencanakan. Dan tanda itu, hanya kelompok perdagangan manusia yang memilikinya. Sepertinya kali ini mereka sedang mencari korban dalam jumlah yang besar. "
Pikiran Angga langsung Dira dengar dan dia jadinya berhenti untuk memastikan apa yang papanya lihat. Dan benar saja. Ada tanda kecil di bahu korban. Setelah itu Dira, Angga dan Raka segera kembali ke Villa. Dengan Dira yang membawa mobil Raka dan Angga mengendari mobil sendiri.
__ADS_1