
Pagi hari saat Dira bangun dia merasa sangat segar. Dia tidak memimpikan kajadian buruk lagi.
Sudah cukup lama dia memimpikan kejadian kejadian buruk tapi baru saat liburan bersama Yasmin dan Albert semua seperti sangat nyata untuk dirinya.
" Pagi semua.. "
Dira yang sudah segar berjalan menuju meja makan dan menyapa semua orang yang ada di meja itu. Terlihat suasana di sana sangat kaku saat dirinya sampai di meja makan.
" Ada apa dengan kalian semua? Kenapa tegang begitu? Pagi bibi.. "
" Pagi Ra.. bibi tidak tau kalau semalam kamu datang kemari. Jadi bibi tidak menyambut kamu. "
Dira menganggukan kepalanya. Dia mendengar apa isi pikiran Alvin dan Raka saat ini. Mereka sedang ketakutan akan sikap yang akan di tunjukan Dira pada Nyonya Bulan. Begitu pula dengan nyonya Bulan. Dia takut Dira tidak menyukai dirinya.
" Aku tidak masalah untuk itu bi.. Lagi pula aku datangnya terlalu malam."
" Pagi sayang. Kamu asyik mengobrol dengan ibu Alvin sampai lupa memberikan ciuman untuk papa. "
__ADS_1
Dira lalu mengecup pipi Angga karena tidak mau papanya protes lebih lama lagi. Angga sebenarnya sedang deg degan juga dengan sikap Dira. Apalagi pembicaraan mereka semalam. Dira yang sempat menanyakan masalah hubungan dirinya dengan Bulan itu pasti bukan hanya kebetulan saja.
" Kenapa semua pada bengong? Apa kita tidak langsung sarapan saat ini? "
Semua orang di meja makan langsung tersenrak saat mendengar apa yang Dira katakan. Mereka takut dengan reaksi Dira sampai melupakan acara sarapan yang akan mereka lakukan.
" Ra.. ini makan yang banyak. Kamu mau makan apa lagi? "
" Makasi Bi.. semua sangat enak. Tapi aku tidak bisa makan banyak. Perut aku gak akan muat. "
Akhirnya semua hening saat mulai makan. Sampai satu persatu dari mereka selesai makan dan Dira juga sudah selesai makan. Tapi tidak ada di antara mereka yang meninggalkan meja makan sebelum semua selesai makan.
Angga dan nyonya Bulan merasa bingung harus menjawab apa. Mereka masih takut dengan Dira saat ini. Bahkan Raka yang sebelumnya masih makan seketika menghentikan acara makannya karena pertanyaan Dira.
" Kalian tidak mau mengatakannya pada aku? Kenapa? "
Di saat itu Angga sadar kalau diamnya dia akan di salah artikan oleh Dira. Jadi dia tidak akan menutupi apapun lagi pada Dira sekarang. Karena sudah pasti Dira sudah tau bagaimana situasi sebenarnya.
__ADS_1
" Bukan begitu sayang. Apa kamu benar setuju bila kami menikah? "
" Apa salahnya? Papa sendiri, bibi Bulan juga sudah sendiri. Lantas apa lagi? "
" Kamu tidak keberatan menerima ibu sambung seperti bibi Ra? "
Nyonya Bulan ikut bertanya karena dia masih merasa ragu saat ingat kalau anaknya masih memiliki rasa untuk Dira.
" Bibi baik. Punya anak juga baik. Aku sudah menganggap Alvin sebagai saudara aku. Jadi jangan kawatir bi. "
Semua yang ada di meja makan langsung lega setelah mendengar apa yang Dira katakan pada mereka. Mereka hanya tidak mau bila sampai Dira marah dan menjauh lagi dari mereka nanti.
" Jadi sudah tau kapan? "
" Kami belum memikirkannya Ra.. Tapi secepatnya akan papa pikirkan. "
" Baiklah.. nanti biar aku bisa menentukan pakaian yang akan kita gunakan di acara papa. Aku harus terlibat dalam persiapak pernikahan ini. "
__ADS_1
Semangat Dira itu membuat mereka ikut lega dan Bahagia. Tapi saat semua sedang mengobrol disana, terdengar suara tangisan dari luar rumah. Suaranya sangatbkencang sampai Dira bisa mendengarnya.
" Siapa? "