
Dira setelah bicara dengan Alvin, dia lalu mengahadap Angga. Dia ingin secepatnya menyelesaikan semua masalahnya. Dira tidak mau menunggu lebih lama lagi.
" Om... "
" Dira... maaf saya datang kemari mendadak. Tetapi ada yang ingin saya katakan. Mungkin kamu tidak akan percaya akan hal ini. Tetapi, ini saya sudah membawa buktinya. "
Dira masih membiarkan Angga bicara karena menghargai apa yang ingin Angga ucapkan. Terlihat Angga dalam bicara itu beberapa kali meremas tangannya. Hal itu pasti untuk menghilangkan kegugupannya saat bicara dengan Dira.
"Dira... sebenarnya kamu anak kandung saya yang sudah hilang dari bayi. Entah kamu percaya atau tidak, tetapi saya membawa buktinya saat ini. "
Angga langsung menyodorkan hasil tes DNA dirinya dengan Dira. Alvin yang mendengar hal ini tampak terkejut dan dia lalu menatap wajah Dira.
Tidak ada perubahan apapun dari wajah Dira. Tidak kaget tidak juga sedih atau bahagia. Wajah Dura datar dan tidak ada ekspresi apapun disana.
Angga yang melihat hal ini juga kaget melihat Dira. Ini seolah Dira sudah tau apa yang akan dia ucapkan. Dan semua itu membuat Angga khawatir. Dia takut Dira tidak menerima dirinya dan menjauhi dirinya.
__ADS_1
" Aku percaya apa yang om bilang barusan. Aku juga tidak perlu melihat surat itu lagi. Dari ekspresi om. Dan gerak tubuh om, sudah buat aku percaya akan hal itu. Om tidak mungkin akan meremas tangan om berulang kali saat bicara dengan aku saat om tidak bicara jujur. Om khawatir karena aku diam dan menatap om saja. Om seharusnya tidak perlu cemas akan hal ini. Karena aku percaya semua kebenarannya."
Angga yang mendengar apa yang Putrinya katakan merasa sangat senang. Walaupun Dira sampai sekarang belum bisa memanggil dia papa. Tetapi Dira cukup senang akan hal itu.
" Dira... "
" Papa... boleh aku memanggil begitu sekarang? "
Ucapan Dira tidak bisa lagi menahan air mata Angga yang sedari tadi di tahannya. Angga merasa sangat bahagia sehingga dia menangis tersedu sedu.
Tidak ada tindakan Dira untuk menenangkan Papanya. Walaupun Dira berkata ingi memanggil papa, tetapi sikap Dira tidak menunjukan hal itu.
Dira larut dalam pikirannya. Dia memikirkan masalah yang sedang dia hadapi nanti kedepanya. Masalah Tolvar belum selesai, masalah dia dengan Wuhan juga belum selesai. Sekarang ada masalah Alvin dan ibunya. Serta nanti dia harus menghadapi masalalu dari papanya.
Banyak sekali beban yang ada di pikiran Dira. Dan semua ingin dia selesaikan satu satu.
__ADS_1
Saat tangisannya mulai mereda, Angga melihat Dira melamun. Dia segera menyentuh tangan Dira.
" Dira... apa yang kamu pikirkan nak? "
Tersentak kaget Dira langsung menatap papanya.
" Aku hanya memikirkan bagaimana nanti kedepannya pa... "
" Maksud kamu apa? "
" Aku berpisah dari papa pasti ada sebabnya. Tadi papa bilang itu semua karena kesalahan. Aku yakin ada hal yang besar di balik semua itu. Dan sekarang aku harus siap ikut menghadapinya. "
" Kamu tenang saja. papa tidak akan biarkan ada orang yang menyakiti kamu. Papa janji... "
Perkataan Angga tidak di jawab oleh Dira. Tetapi Raka yang baru datang langsung menjawabnya.
__ADS_1
"Anda tidak usah berjanji bila anda tidak bisa nanti menepatinya. Untuk Dira, saya bisa menjaganya sendiri. Saya ingin anda tidak mengganggu Dira lagi. "