
Tangisan Angga masih terdengar samar samar saat ini. Dia seperti tidak bisa menahan tangisannya dan tangisan itu seperti meluapkan semua emosi yang dia punya selama ini.
Angga mengingat saat tadi dia bersama Dira. Dia sangat bahagia setelah bisa bertemu dengan gadis kecil tersebut. Tapi dia tidak tau kenapa dia bisa sangat nyaman dengan Dira.
Sampai Dira membuka tutup kepalanya dan terlihat jelas wajah Dira. Angga pun langsung diam membeku. Dia tidak bisa berkata apapun saat melihat di depan matanya sendiri sosok gadis yang mirip sekali dengan mendiang istrinya.
*Flashback*
" Kucing itu, setelah kamu berikan agar aku rawat, langsung aku bawa pulang. kamu mau liat kucingnya? Rumah aku dekat. Mau mampir? "
" Bolehkah om? "
Entah karena apa Dira malah ingin mengikuti Angga kerumahnya. Dia tidak memperdulikan Alvin yang menarik narik bajunya sebagai tanda ingin pulang.
" Tentu boleh... silakan mari... ayo ikuti om ya.. "
Angga menuntun mereka berjalan menuju rumah Angga. Dan sepanjang jalan Alvin terus meninta Dira agar tidak ikut, dan balik pulang saja. Karena dia takut Angga orang jahat.
Tapi Dira, dia bukan orang yang mau menuruti permintaan Alvin. Dira sengaja diam dan tidak memperdulikan tingkah Alvin.
" Silakan masuk... disini om tinggal... "
" Wahhh om, rumahnya bagus sekali ya... om tinggal dengan siapa? "
__ADS_1
Dira sempat terpukau dengan keindahan rumah Angga. Walaupun tidak sebesar rumah Dira di hutan, tapi rumah Angga terlihat sangat indah dengan desain rumah minimalis.
" Om tinggal sendiri karena istri om sudah meninggal dan anak om hilang. nah itu dia kucingnya..."
Angga mengambil kucing itu, dan berniat memberikan kepada Dira. Saat dia berbalik, dia melihat Dira sedang melepas tutup kepala hoodie nya. Dan saat itu langsung terlihat jelas di depan mata Angga wajah Dira.
"Ayu"
Angga sangat kaget sampai kucing itu dia lepaskan begitu saja. Tapi Dira langsung mengambilnya dan menggendong kucing itu.
" Nak... boleh aku tanya sesuatu? "
" Tanya aja om"
" Apa kamu punya orang tua? "
Dira langsung diam. Dira mendengar apa yang di pikirkan Angga. Dia langsung tersenyum tipis dan mengerti. kalau perasaan nyaman yang dia rasakan kepada Angga karena Angga orang tua kandung Dira yang asli.
" Aku dulu tinggal di panti asuhan om, dan di adopsi oleh sepasang suami istri. Tapi karena beberapa kejadian, sekarang aku tinggal sendiri."
"Boleh tau nama kamu nak"
Dira langsung melihat Angga dan tersenyum.
__ADS_1
" Aku Dira om... Terimakasi karena sudah menjaga kucing ini. Aku suka melihat dia sudah sehat. Om dan kucing ini saling melengkapi. Aku mau balik pulang sekarang. "
" Tu... tu... tunggu nak.. tunggu Dira... jangan pergi.. "
Saat Alvin mendengar hal itu, dia ingin marah. Tapi sentuhan tangan Dira membuat dia seketika diam. Ini pertama kali Dira mau menyentuh tangannya. Dan dia langsung merasa ketegangan saat tangannya di pegang oleh Dira.
" Ada apa om? "
" Dira... boleh om... "
" Mau memastikan sesuatu ya om... silakan.. ini ambil aja sample rambut aku. siapa tau berguna om. "
Dira langsung memberikan helaian rambutnya kepada Angga. Dan Angga tambah syok mendengar perkataan Dira.
" Jangan kaget begitu om, wajah om mengatakan segalanya. sudah ya... sekarang aku pergi dulu. "
" Jangan... jangan... jangan pergi lagi... "
Angga sudah sangat sulit untuk bicara saat ini. Dia ingin mengatakan segala hal. tapi tidak ada yang bisa dia ucapkan.
" Om bisa mencari aku di alamat ini. "
Dira memberikan alamat apartemennya kepada Angga. Dan segera pergi dari sana. karena saat ini tubuh Dira merespons dengan semua kejutan Angga. Dira ingin menangis. Tapi dia tidak mau menangis di depan banyak orang.
__ADS_1
*flashback off*