
Raka dan Angga memutuskan agar mereka semua tinggal di villa Alvin sementata waktu. Sambil menunggu pengobatan Bulan selesai.
Obat yang di buat oleh orang Tolvar dan di bantu Dira itu sudah selesai dan sudah di kirim ke villa lagi. Dira sebenarnya ingin sekali kembali ke rumah untuk melihat Chupa. Tetapi saat ini belum bisa. Dia harus lebih fokus dengan masalah di kota.
Sedangkan Raka, dia sudah menjalankan perusahaan yang di miliki oleh Dira. Tetapi Dira sama sekali tidak mau langsung memimpin perusahaan itu di kantornya. Dia lebih suka berkerja di balik layar. Dira tidak mau di kenal banyak orang saat ini.
Apalagi dia masih di cari oleh nenek yang dia selamatkan waktu itu. Kondisi Bulan semakin hari semakin membaik. Semenjak di berikan pengobatan oleh Dira, kondisi Bulan sudah tidak separah sebelumnya.
Dia sudah mulai tidak mengamuk lagi. Dan Alvin mulai bisa lebih sering bersama ibunya dibandingkan Dira.
Bulan juga sudah mulai bisa terbiasa dengan kehadiran orang lain. Perlahan tapi pasti kesembuhan Bulan mulai terlihat.
" Ra... papa mau bicara apa bisa? "
Selama ini, selama tinggal di villa itu, sepertinya Dira dan Angga sangat jarang bicara berdua. Dira seolah mencari kesibukan sendiri dan tidak ingin berbicara dengan Angga. Dan berusaha menghindarinya.
" Ada apa pa? "
__ADS_1
" Apa kamu tidak menerima papa di samping kamu nak? "
Dira tau dirinya salah. Cuma dia bukan Dira asli, dia berusaha untuk bersikap biasa kepada Angga tetapi tetap saja tidak bisa. Dia merasa asing. Tapi saat ingat apa yang di minta pemilik tubuh asli pada Dira, dia langsung merubah sikapnya.
" Mana mungkin aku tidak menerima papa. Sedangkan aku dari dulu memang ingin kasih sayang orang tua pa "
" Tapi kamu seperti menghidar dari papa nak.. "
" Maaf pa, mungkin karena terlalu sibuk mengurusi soal nyonya Bulan, aku jadi mengabaikan papa. Kehadiran papa dan nyonya Bulan bersamaan jadi untuk membagi perhatian untuk itu aku agak sulit. Karena kondisi nyonya Bulan itu sangat menghawatirkan, jadi aku lebih fokus kepada dia. Maaf pa.. "
Dira tau apa yang di rasakan Angga langsung mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Angga. Angga yang mendapat perilalu begitu dari Dira langsung kaget sekaligus senang.
" Dira... bila kamu lelah, kamu bisa mengeluh dengan papa nak. "
Ucap Angga kepada Dira sambil mengelus sayang kepala Dira.
" Kalau begitu, aku akan bilang sama papa, aku sangat lelah saat ini. Aku ingin jalan jalan dan menikmati hari. Tapi... bagaimana dengan nyonya Bulan? aku tidak bisa meninggalkannya. "
__ADS_1
Angga sadar Dira memang butuh hiburan dan jalan jalan. Tetapi dia tidak bisa menyerahkan tanggung jawab Bulan pada orang lain.
" Apa kamu tidak bisa menyurul Alvin saja untuk merawat ibunya sebentar?"
" Aku rasa dia hanya tau soal berkas berkas perusahaan dan kerjasama saja. Dia tidak tau cara mengobati seseorang. "
" Kamu kenal dia dari siapa? "
" Bertemu orang bodoh bukan hal yang sulit pa. Kami bertemu saat dia ingin mengakhiri hidupnya saat di tinggal oleh wanitanya. "
Angga yang mendengar perkataan putrinya langsung tersenyum tipis. Dia tau, Dira akan berkata begitu karena saat ini Dira belum merasakan mencintai seseorang dengan sangat besar. Tetapi nanti bila sudah merasakannya, Dira baru paham bila sakit hati begitu, bisa membuat orang nekad.
" Aku tidak akan melakukan hal bodoh pa. "
Perkataan Dira seolah menjawab apa yang di pikirkan Angga sebelumnya. Dan itu membuat Angga langsung kaget dan mengingat istrinya.
" Dira... apa kamu.. "
__ADS_1