Life After Married

Life After Married
Bab 100- Pergi Jalan-jalan


__ADS_3

"Dinda!" panggil Asih, yang sedari tadi melihat Dinda yang melamun karena gombalan sayang dari Willy.


Sedetik Dinda pun tersadar karena panggilan Asih, membuatnya salah tingkah.


"Ada apa Bu?" tanya Dinda yang baru menyadari panggilan Asih.


"Kamu yang ada apa ngelamun saja. Ayo cepat sarapan. Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu."


"Siapa?"


"Dari perusahaan."


"Jadi Dinda tidak perlu membawa mobil Bu."


"Tidak tahu lihat saja nanti."


Kini mereka kembali melanjutkan sarapan pagi nya. Syena terlihat begitu semangat memasuk kan makanannya ke dalam mulut kecilnya. Perkataan Willy membuat mood nya berubah seketika.


Seperti apa yang di katakan Asih, akan ada pihak perusahaan yang menjemputnya. Dan sekarang orang itu sudah berada di depan rumahnya. Dinda di jemput oleh seorang supir dari perusahaan Snack Food.


Yang Dinda tahu itu adalah perusahaan kakeknya. Padahal itu adalah perusahaan ayahnya yang sudah di alihkan atas nama dirinya.


Sepanjang perjalanan Dinda hanya terdiam sambil melihat-lihat pemandangan sepanjang jalan. Hingga tiba lah mobil yang di tumpanginya di depan sebuah gedung pencakar langit.


Kedua matanya menatap takjub bangunan itu. Yang tidak kalah besarnya dengan perusahaan-perusahaan di ibu kota.


"Bu Dinda mari."


Dinda tercekat saat sang supir membukakan pintunya. Sedetik kedua kakinya ia turunkan bersamaan dengan tubuh yang keluar dari dalam mobil. Sang supir menutup kembali pintu itu.


"Selamat pagi Bu Dinda."


Dinda kembali tercengang saat sorang wanita datang menghampirinya. Dirinya bagaikan ratu yang di sambut hangat oleh para pelayannya.


Dinda hanya mengangguk dengan senyuman. Sebagai balas sapaannya.


"Saya Siska sekretaris CEO. Saya di perintahkan untuk mengajak Bu Dinda pergi berkeliling perusahaan sebagai pengenalan."


"Oh iya, terima kasih."


"Mari." Tangan Siska menunjuk ke arah dalam mengajak Dinda untuk segera masuk dan melihat-lihat perusahaannya.


Dinda masih belum tahu apa jabatannya di perusahaan ini. Walaupun tahu perusahaan ini di berikan untuknya tetapi Dinda berpikir jika sudah ada yang memimpin.


Dengan telaten, jelas tanpa lelah Siska memperkenalkan setiap rinci perusahaan itu. Dari mulai divisi bawah hingga atas. Memperkenalkan para-para staf dan lainnya.


Tidak terasa satu jam sudah lamanya mereka berkeliling. Siska mengajak Dinda ke ruangannya.


"Silahkan Bu masuk, ini ruangan Bu Dinda." Tunjuk Siska pada satu pintu yang bertuliskan nama ruangan CEO


"Tunggu dulu. Ini ruangan saya?"


"Iya Bu."


"Mungkin salah kali Mba, ini ruangan CEO." Dinda merasa bingung mana mungkin dirinya menjadi seorang CEO.


Siska tertawa kecil. Bos barunya ini benar-benar lucu.


"Iya Bu benar. Ini ruangan CEO dan CEO nya itu adalah Ibu Dinda Kirana."


"Saya!" ucap Dinda yang tak percaya.


Siska tersenyum sambil membukakan pintu, mempersilahkan Dinda untuk masuk. Dinda hanya diam sambil mengamati setiap sudut ruangan itu. Jabatan itu tidak pernah ia bayangkan namun, ini lah hidup tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok.


*****

__ADS_1


Di tempat lain Willy baru saja datang menghentikan mobilnya di depan rumah Dinda. Syena yang sedang bermain di teras begitu antusias menyambut kedatangan Willy.


"Syena!" panggil Willy setelah turun dari mobil.


"Om!" Syena langsung berlari ke arah Willy, dengan sigap Willy menggendongnya.


Jika melihat pemandangan itu mereka seperti hubungan ayah dan anak. Asih hanya tersenyum melihat itu.


"Om ayo jalan."


"Aduh Syena sudah gak sabar ya. Kita bilang Oma dulu ya."


"Heem." Syena mengangguk.


Willy berjalan menghampiri Asih yang duduk di teras.


"Assalamu'alaikum," ucap Willy sambil mencium punggung tangan Asih.


"Walaikumsalam," jawab Asih.


"Masuk dulu Nak, Willy."


"Iya tante."


Mereka pun masuk ke dalam rumah duduk di ruang tamu. Perjalanan dari jakarta ke surabaya cukup melelahkan walaupun di bantu oleh si burung besi.


Asih menyuguhkan secangkir teh, sedangkan Syena terus duduk menempel di atas pangkuan Willy. Tidak ingin turun atau pun beranjak ke tempat duduk lain.


Melihat itu Asih sangat senang karena Syena begitu dekat dengan Willy. Tidak akan terlalu sulit jika nanti mereka jadi satu keluarga.


"Syena sini sama Oma sayang. Kasihan Om pengacaranya pegal nanti."


"Enggak Oma." Syena merajuk.


"Apa Nak Willy ada pekerjaan di sini?" tanya Asih yang merasa heran karena Willy tiba-tiba datang.


"Iya tante. Kebetulan klien saya dari surabaya untuk sementara saya akan tinggal di sini sampai proses sidang selesai."


"Apa Nak, Willy akan mencari penginapan atau sewa rumah?"


"Saya punya keluarga di sini. Mereka keluarga dari ibu saya."


"Oh begitu. Syukurlah jadi tidak harus sewa rumah atau hotel."


"Om ayo Om," ajak Syena yang terus merajuk ingin segera pergi. Namun Asih masih ingin mengobrol bersama Willy.


"Nak Willy?"


"Iya tante."


"Tante sudah tahu hubungan kamu dan Dinda. Apa kamu serius dengan hubungan ini. Maksud tante sudah bukan saatnya lagi untuk kalian yang harus menjalani hubungan biasa. Seperti pacaran atau hanya sekedar jalan."


"Willy mengerti apa yang tante katakan. Willy tidak pernah berniat untuk main-main. Mungkin memang terlalu cepat untuk kami yang baru mengenal beberapa bulan. Tetapi hati ini sudah yakin jika Dinda adalah wanita yang ku pilih."


"Apa kamu yakin?"


"Yakin tante."


"Apa kamu tidak memiliki kekasih?"


Willy tertegun mendengar pertanyaan itu. Namun Willy mengerti pasti Asih mencemaskan statusnya. Karena Asih tidak ingin cinta Dinda tersakiti untuk kedua kalinya.


"Apa tante pernah melihat saya dengan wanita? Saya tidak pernah memiliki kekasih atau istri. Saya belum menikah tante. Jika tante tidak percaya bisa tanyakan pada Rio. Dia teman seangkatan saya yang tahu semua tentang saya."


"Bukan tante tidak percaya, tante hanya takut jika Dinda tersakiti lagi."

__ADS_1


"Aku tidak akan menyakitinya."


"Terima kasih karena sudah mau menerima Dinda dan juga Syena."


Willy hanya menjawab dengan anggukkan dan senyuman.


******


"Bu Dinda." Panggil Siska yang membuat fokus Dinda teralihkan.


"Iya Siska ada apa?"


"Ada yang menunggu Bu Dinda di bawah."


"Siapa?" tanya Dinda


"Syena," jawab Siska.


"Syena!" Dinda merasa heran dengan siapa Syena datang. "Dimana putriku sekarang?"


"Ada di lobby Bu."


Dinda segera bangun dari duduknya. Menutup laptop nya lalu pergi keluar menemui Syena.


Sepanjang langkahnya Dinda berpikir dari dengan siapa putrinya datang. Saat tiba di lobby, Dinda melihat Syena berada dalam pangkuan Willy.


Seketika senyumnya pun merekah.


"Siska aku temui putriku dulu."


"Baik Bu," jawab Siska yang sedari tadi berada di belakang Dinda.


"Syena!"


"Mama." Dinda langsung mengambil Syena pada pangkuannya.


"Willy, jadi kamu yang membawa Syena ke sini?"


"Iya Mama. Kita akan pergi jalan-jalan."


"Sayang tapi Mama gak bisa."


"Tidak apa-apa Bu. Ibu boleh pergi," ujar Siska yang tiba-tiba mendekat.


"Tapi Siska …"


"Kasihan Syena Bu, pekerjaan biar saya yang handle. Lagi pula jadwal ibu kosong hari ini tidak ada meeting. "


Dinda merasa aneh. Siska dengan mudahnya mengizinkan pergi di hari pertamanya bekerja. Jika pun itu perusahaan kakeknya tidak mungkin juga kan Dinda bekerja seenaknya.


"Mama!" Namun rengek kan Syena tidak mampu untuk menolak.


"Ya sudah kita pergi jalan. Tapi Mama ambil tas dulu ya."


"Ini Bu sudah saya ambilkan." Siska memberikan tas selempangnya.


"Terima kasih Siska."


Setelah mengambil tasnya Dinda melangkah pergi bersama Willy.


Siska terlihat mengambil potret mereka dari jauh. Setelah nya gambar itu ia kirimkan pada seseorang.


[Pak Bos]


[Bu Dinda pergi bersama seorang pria.]

__ADS_1


__ADS_2