
Sepanjang malam tubuh Syena mendadak demam. Kecemasan Dinda semakin tidak karuan. Hati gelisah, pikiran berkecamuk, badan kurang sehat, ditambah lagi dengan masalah rumah tangganya saat ini.
Willy, masih enggan bicara. Cemburu buta telah merasuki hatinya. Bahkan mereka belum saling menyapa sampai saat ini.
"Ini Non, air dinginnya." Kata Bi Ijah seraya menyimpan termos berisi bongkahan es di atas meja samping ranjang tidur Syena.
Sebuah alat pendeteksi suhu Dinda lepaskan dari dalam mulut putrinya. Melihat sejenak barisan angka yang menyatakan jika suhu panas tubuh Syena begitu tinggi.
Ingin menghubungi dokter namun, hari masih dinihari. Terpaksa Dinda memberikan pertolongan pertama dengan mengompres dahi Syena dengan handuk yang di celupkan dengan air dingin.
"Bu, biar saya saja. Ibu pasti capek baru pulang dan belum tidur juga, kan." Bi Ijah menawarkan diri.
"Demam Syena belum turun Bik." Kata Dinda, seraya memeras handuk sebelum mendaratkannya pada dahi Syena.
"Sepertinya aku harus telepon dokter," monolognya.
"Bik, jagain Syena bentar."
"Iya Bu."
Dinda segera melangkah keluar. Menuju kamarnya. Langkahnya terhenti sesaat, ketika melihat Willy yang berguling di atas kasur.
Tatapannya begitu sedih, melihat suami yang sampai saat ini masih mengacuhkannya. Semenjak kepergian Rey, Willy masih enggan bertanya.
Helaan nafas kasar ia embuskan. Sedetik pandangannya di alihkan pada sebuah ponsel yang teletak di atas meja. Di ambilnya ponsel itu, segera Dinda menghubungi dokter.
Entah karena masih dalam waktu jam tidur, dokter yang di hubunginya tidak menjawab sama sekali.
Ponsel itu ia matikan. Kakinya kembali terayun membuka setiap laci, berharap ada obat yang di temukan untuk penurun demam. Namun, belum sempat ia mencari tiba-tiba perutnya bergejolak, serasa diaduk-aduk hingga menekan ke ulu hati.
Dahaga kering merasa ada yang tercekat. Sesuatu yang bisa saja keluar dari mulut secara tiba-tiba.
Sedetik mulutnya ia tutup, saat rasa mual semakin menjadi. Merasa tidak tahan, Dinda bergegas pergi ke kamar mandi, berlari menundukan punggungnya tepat pada westafel.
Bersamaan dengan itu mulutnya terbuka, turunlah cairan bening yang keruh membasahi wadah alumunium di bawahnya. Hingga menciptakan suara-suara aneh, seperti mulut yang tercekat.
Seketika tubuhnya lunglai, terduduk lemah di atas lantai.
Willy, membuka matanya saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar mandi. Di liriknya tempat tidur di sampingnya yang masih kosong tanpa penghuni.
Tubuhnya langsung terbangun, duduk sejenak, sebelum akhirnya kakinya turun melangkah menuju kamar mandi.
Bola matanya terbelalak seketika. Saat menangkap sosok wanita yang bersandar pada dinding tembok. Entah sejak kapan hatinya kembali khawatir, melihat Dinda yang terduduk lemah.
Tubuh itu segera diraihnya, dirangkul, digendog, dipangkunya, menidurkannya di atas kasur empuknya.
Mungkin Willy memang marah dan cemburu. Akan tetapi rasa cemas dan khawatir tidak bisa ia sembunyikan.
"Dinda? Dinda bangun." Berulang kali telapak tangan itu menepuk pipi istrinya, namun sepertinya Dinda memang sudah hilang kesadaran.
__ADS_1
Willy, jadi panik tidak biasanya Dinda pingsan hanya karena mual dan pusing. Bersamaan dengan itu suara ketukan pintu terdengar. Bi Ijah memanggil, memberitahukan keadaan Syena pada Dinda.
Tanpa dia tahu. Majikannya sedang tidak sehat.
"Bu, Bu Dinda," panggil Ijah. Untuk kesekian kalinya.
Mendengar seruan yang tiada henti, Willy langsung bangun, melangkah mendekati pintu, dan membukanya.
"Ada apa Bik?"
"Syena Pak demamnya makin tinggi."
"Syena demam? Sejak kapan?"
"Dua jam yang lalu. Tadi Bu Dinda bilang mau telepon dokter. Tapi …"
"Istri saya pingsan."
"Apa! Bu Dinda pingsan. Ya Allah." Bi Ijah tidak kalah panik. Willy kembali masuk ke dalam kamar. Meraih kunci mobilnya, lalu memangku Dinda, entah akan membawanya kemana.
"Bik tolong bawa Syena, kebawah. Saya akan membawa mereka ke rumah sakit."
"Baik Pak."Segera Bi Ijah berlari, membawa Syena dalam pangkuannya.
Willy, mendudukan Dinda di dalam mobilnya, tidak berselang lama Bi Ijah datang memangku Syena. Di ambilnya segera tubuh Syena, untuk di pindahkan ke dalam mobil.
"I-iya pak." Dengan gugup. Bi Ijah masuk ke dalam mobil. Bersamaan dengan itu Willy masuk dan duduk di bagian kemudi.
Deruan mesin pun terdengar keras, tanpa harus menunggu lama. Willy segera melajukan mobil itu, meninggalkan pekarangan rumahnya.
****
Berbeda dengan Willy, yang sedang di landa kecemasan. Keadaan Rey, lebih kacau darinya. Bukan hanya kecemasan melainkan pertengkaran hebat yang dilalui pada dinihari.
Semua barang yang ada beterbangan, mendarat kacau di atas lantai. Velove masih marah dan kesal. Karena Rey, tidak memperdulikannya dan malah pergi menemui Syena hingga waktu subuh hampir tiba.
Luapan emosi yang dicurahkan. Tidak peduli pada sang bayi yang merengek dan menangis begitu keras.
Tentu saja Bian merasa terganggu, disaat tidurnya sedang lelap, kedua orangtuanya saling berdebat. Bukannya berhenti, dan menggendong Bian, Velove dan Rey, semakin memperpanjang debat mereka.
Hingga membangunkan seorang wanita di kamar sebelah.
"Suara apa itu? Apa mereka bertengkar di pagi buta seperti ini. Apa yang sedang mereka perdebatkan, membuat Bian menangis."
Rita segera turun dari ranjangnya. Mengikat rambutnya sambil melangkah keluar.
"Velove … Rey! Hentikan!" teriaknya, lalu melangkah mendekati Bian untuk memangkunya. Menenangkannya hingga suara tangisannya mereda.
"Apa kalian tidak dengar suara tangisan anak kalian!" teriaknya lagi, membuat pertengkaran Rey, dan Velove berhenti.
__ADS_1
Sejenak suasana hening. Deruan nafas terdengar lembut. Mereka berdua sedang menenangkan dirinya masing-masing.
Velove menerawang kosong. Dan Rey, langsung pergi tanpa sepatah kata pun.
"Mau kemana lagi? Jika kamu pergi jangan pernah kembali." Velove berteriak sekuat tenanga. Hingga urat-urat lehernya terlihat jelas.
Rey, tidak peduli dan terus berjalan. Masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Rita menatap putrinya, langsung bertanya apa yang sudah terjadi.
"Apa yang kamu lakukan Velove? Kamu menakuti putramu."
"Aku kesal Ma," jawabnya. "Rey, tidak pernah peduli padaku. Yang dia pedulikan hanyalah Syena dan Syena. Dan sekarang dia pergi lagi. Pasti akan menemui anak itu," sambungnya.
"Hanya karena itu kamu menelantarkan anakmu!" Bukannya mendapat pembelaan. Yang ada mendapat makian.
"Katakan dimana kesalahan Rey? Velove dengar!" pekik Rita.
"Syena adalah anaknya, wajar saja jika mereka bertemu. Jika sikapmu seperti ini, yang ada Rey akan semakin marah dan benci padamu. Kamu ingin Rey, meninggalkanmu."
"Tidak Ma."
"Jika tidak, kamu harus menerima dan menyayangi putrinya. Anakmu bukan hanya Bian tapi juga Syena." Emosi Rita, saat mengetahui perlakuan buruk dari Velove.
*****
Rey menghentikan mobilnya. Di depan sebuah rumah. Entah kenapa mobilnya menuju kediaman Angle.
Hari mulai pagi, langit yang gelap mulai memutih, Memperlihatkan sedikit warna jingga di ujung sana.
Mungkin sang raja alam siap menampakan dirinya. Namun keadaan masih sangat sunyi. Sepertinya para makhluk bumi masih belum tersadar dari mimpinya.
Suara ketukan pintu membangunkan seorang wanita di dalam bawah selimut. Seketika matanya terbuka, wanita itu terbangun, lalu turun dari ranjangnya. Melangkah berjalan mendekati pintu utama.
Suara ketukan lagi-lagi terdengar.
"Iya, sebentar. Siapa sih yang datang pagi-pagi," ujar wanita itu yang tidak lain adalah Angle.
Tangannya mulai memutar kunci, lalu handle pintu itu di tarik menurun membuat pintu terbuka lebar. Matanya membulat seketika saat melihat Rey, yang datang padanya.
"Mas!"
Belum juga di persilahkan masuk. Kaki jenjang Rey, sudah melangkah terlebih dulu. Wajahnya begitu kusut, penampilan yang berantakan. Sedetik tubuh iru terkapar di atas sofa.
Mungkin karena lelah, Rey hanya membutuhkan waktu tidurnya. Angle merasa heran. Namun, melihat raut wajah sang kekasih saja Angle sudah bisa menebak. Jika Rey, sedang berada dalam masalah.
Angle kembali ke kamar, membiarkan Rey, tidur dengan tenang.
"Aku tidak tahu apa masalah yang sedang ku hadapi Mas. Semoga cepat selesai." Kata Angle seraya menutup tubuh Rey, dengan selimut.
__ADS_1