
"Danu," batin nya saat melihat nama yang tertera pada layar.
"Siapa Bu?"
"Teman," jawab Asih gugup. "Ibu angkat telepon dulu sebentar."
"Iya Bu." Dinda mengangguk.
Asih beranjak dari kursi, sedikit melangkah lebih jauh dari Dinda.
"Ada apa Danu menelpon." Batinnya yang langsung mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.
Bab sebelumnya ….
*****
Sedetik mimik muka nya berubah. Antara gelisah, sedih, dan takut. Benda pipih itu ia turunkan dari daun telinganya. Tatapannya mendadak kosong dan menerawang.
Sedetik kepalanya menoleh ke arah Dinda yang masih duduk di kursi. Memandangi indah nya malam tanpa bintang dan bulan.
Asih menunduk sedih, seraya mengusap layar ponselnya.
"Ibu," panggil Dinda membuat Asih mendongak.
Asih mengulum senyum lalu berjalan mendekati Dinda.
"Ada apa Bu? Siapa yang telepon?"
Asih hanya diam. Masih ragu untuk mengatakannya.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan apa aku harus mengatakannya atau tidak," ucapnya dalam hati.
"Bu!" Dinda memanggil kembali. Asih membuang nafasnya berat. Ada sesuatu yang harus di sampaikan namun terasa berat dan sulit untuk mengatakan.
"Dinda, apa kamu yakin sudah tidak peduli lagi pada ayah mu?"
"Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"
"Ibu tidak ingin kamu menyesal seperti Ibu. Yang mengambil keputusan dalam sepihak tanpa mendengarkan penjelasannya dulu."
"Ibu katakan ada apa? Kenapa ibu tiba-tiba seperti ini."
Asih menatap Dinda dengan lekat. Air matanya mulai terbendung dan berkaca-kaca.
"Ibu dapat kabar bahwa ayah mu sedang kritis."
"Kritis! Maksud Ibu ayah sakit?" Asih mengangguk sedih.
__ADS_1
"Untuk apa kita peduli Bu. Ayah juga tidak pernah peduli pada kita. Biarkan saja, lagi pula masih ada anak dan istrinya kan."
Dinda mengalihkan pandangan dari tatapan Asih. Rasa kesal dan kecewa belum hilang dalam hatinya. Namun, dari sorot matanya terlihat kecemasan, kekhawatiran. Bahwa dirinya masih peduli pada sang ayah.
"Itu tidak benar Dinda. Ayah mu masih peduli padamu. Rumah, perusahaan, dan semua yang kamu miliki saat ini adalah pemberian darinya."
Dinda cukup terkejut. Kecurigaan nya akhirnya terjawab. Rumah yang dia tempati, mobil yang dia miliki dan perusahaan tempatnya bekerja adalah pemberian ayahnya bukan kakeknya.
Asih telah membohonginya itu yang Dinda pikirkan.
"Apa yang Ibu katakan! Ibu selama ini membohongiku. Ibu bilang ini semua pemberian kakek tapi ternyata ini semua pemberian lelaki itu!"
Dinda mendadak emosi.
"Apa Ibu lupa apa yang sudah dilakukannya selama ini. Ayah meninggalkan ibu demi wanita itu. Dan Ibu dengan mudah nya menerima barang pemberiannya. Kenapa hati Ibu mendadak berubah."
"Dinda dengarkan ibu dulu." Tangan Asih mencoba meraih tangan Dinda untuk menenangkan nya. "Ibu menyesal karena dulu tidak mendengarkan penjelasan ayahmu. Ibu hanya menganggap semua yang ibu lihat adalah benar, dan hanya melihat kesalahan ayahmu saja."
"Jadi Ibu menyesal sekarang? Ayah memang salah karena menikah lagi dengan wanita lain. Ayah telah mengkhianati Ibu. Dulu Ibu benar-benar membencinya kenapa sekarang hati Ibu berbalik? Apa yang ayah katakan! Siapa yang menghubungi Ibu tadi."
"Ayahmu di jebak Nak, dia sama sekali tidak bersalah dan hanya korban." Suara Asih sedikit berat di tambah dengan iringan tangisan.
"Di jebak maksud ibu apa?" Dinda merasa bingung dengan semua yang Asih katakan.
Asih pun mengatakan pembicaraan nya dengan Danu pada sambungan telepon.
"Ada apa Danu menelpon." Batinnya yang langsung mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.
"Halo," ucap Asih saat sambungan telepon sudah terhubung.
"Bu Asih, maaf saya mengganggu malam anda. Tapi ini sangat penting."
"Ada apa?"
"Pak Fras, masuk rumah sakit. Keadaannya saat ini sedang kritis."
"Kenapa bisa? Apa yang terjadi padanya?"
Asih tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Bagaimana pun Fras adalah lelaki yang telah mengisi hatinya.
"Pak Fras, terserang penyakit jantung saat mengetahui sebuah kebenaran." Jelas Danu.
"Kebenaran! Kebenaran apa?" Asih merasa heran.
Terdengar hembusan nafas Danu yang begitu berat. Asih bisa mendengarnya.
"Kebenaran … bahwa Velove bukan lah anak kandungnya. Dan Bu Rita telah membohonginya juga menjebaknya di masa lalu."
__ADS_1
"Danu, saya benar-benar tidak mengerti."
"Sulit untuk di jelaskan. Sebelumnya saya pernah mengatakan jika Velove bukanlah anak kandung pak Fras, dan tidak berhak untuk menjadi hak waris. Itu lah sebabnya saya meminta anda untuk meyakinkan Dinda agar menandatangani surat penerima hak waris itu. Karena ada sesuatu yang saya khawatirkan seperti saat ini."
Asih masih setia mendengarkan.
"Ada yang tidak anda ketahui, ada kebohongan di balik pernikahan suami anda saat dulu. Mereka menikah bukan karena saling mencintai, tetapi karena pak Fras di jebak sehingga di tuntut untuk menikahi Bu Rita."
Danu pun menceritakan apa yang Fras ceritakan padanya. Saat dimana Fras bertemu Rita, hingga berakhir di sebuah kamar dan di tuntut untuk menikahinya.
"Pak Fras di jebak. Beliau hanya ingin menolong namun sayang, niat baik beliau di salah pahamkan. Seseorang memukulnya hingga berakhir di dalam sebuah kamar yang tertidur bersama Bu Rita. Tapi pak Fras tidak melakukan apa pun padanya. Dan Rita memanfaatkan keadaan, yang menuduh Fras sebagai lelaki yang telah menghamilinya. Dengan ancaman akan menghancurkan karier nya. Terpaksa beliau menikahinya."
Asih tercengang, mulutnya menganga lebar. Kenyataan yang baru di ketahuinya setelah dua puluh tahun lamanya. Tubuhnya mendadak lemas, hatinya bergetar hebat. Nafasnya terasa sesak, bahkan air mata tak mampu terbendung.
Rasa sesal yang kini Asih rasakan. Kenapa? Betapa bodohnya dia yang tidak percaya pada suaminya sendiri. Dan malah pergi tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Namun percuma, rasa sesal tidak ada artinya saat ini.
"Dan karena kenyataan itu pak Fras syok, dan serangan jantungnya kambuh. Hingga saat ini pak Fras, belum tersadar dalam keadaan kritis. Saya berharap anda dan Dinda bisa datang untuk menjenguk. Dan saya tidak bisa pergi meninggalkan nya karena nyawanya mungkin saja terancam."
"Maksudmu?"
"Rita sangat mengharapkan kematian beliau. Yang dia inginkan hanyalah menguasai seluruh hartanya. Jadi saya mohon pada Dinda, untuk menjaga perusahaan yang di pimpinnya saat ini. Jangan sampai semua aset miliknya jatuh pada orang yang salah."
"Jika Bu Asih sudah siap. Datanglah ke hospital jakarta. Saya berharap anda akan datang dan saya akan menunggu anda."
Sambungan telepon pun tertutup. Danu menutup sambungan teleponnya.
Flashback Off
Dinda terdiam setelah mendengarkan perkataan Asih, tentang kebenaran, di masa lalu dan keadaan Fras saat ini.
Dinda masih tidak berkata apa pun. Perasaannya saat ini masih bimbang. Antara kecewa, marah, namun cemas pada keadaan ayah nya saat ini.
"Dinda, kamu dengar kan! apa kata Ibu?"
Dinda masih diam.
"Lebih baik kita kubur dalam-dalam rasa benci, dendam dan marah. Kita buka hati kita untuk memaafkan. Tidak ada artinya kita hidup terus menyimpan dendam."
"Lagi pula, jika kamu berjodoh dan menikah lagi. Kamu harus ingat jika kamu membutuhkan nya sebagai wali mu."
...----------------...
Semoga Dinda mau memaafkan Fras.
Kita hidup jangan menyimpan dendam ya, harus ikhlas dan merelakan. Karena menyimpan dendam itu tidak baik dan akan menyakitkan akhirnya.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiah nya 🙏🥰