Life After Married

Life After Married
Bab 131- Kesalahpahaman


__ADS_3

"Aku ke toilet sebentar ya," ujar Dinda yang menghentikan obrolannya sejenak.


"Jangan lama-lama." Karin mengingatkan Dinda hanya mengangguk lalu pergi.


Dinda tidak terlalu memperhatikan jalannya. Karena matanya terus fokus pada ponsel yang dia genggam. Berulang kali Dinda mencoba untuk menghubungi Willy namun tidak ada jawaban. Dinda berdecak kesal namun harus mengerti mungkin Willy sedang sibuk dengan kasus kliennya saat ini.


Tanpa dia sadari dirinya telah berpapasan dengan Rey, dan juga Angela. Namun Dinda tidak melihatnya dan langsung berbelok ke arah kanan dimana toilet berada.


Namun tidak dengan Rey, yang melihatnya dengan jelas. Tatapan Rey, tidak berpaling pada tubuh Dinda yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Mas, kamu lihatin siapa sih?" tanya Angela yang melihat Rey menghentikan langkahnya.


"Sayang kamu duluan saja ya aku mau ke toilet."


"Iya Mas." Angel pun mengangguk lalu melangkah pergi mencari meja yang masih kosong. Dan meja yang dipilih ternyata berdampingan dengan meja Karin.


*****


Dinda baru saja keluar dari dalam toilet. Berkaca sejenak merapikan rambut dan dressnya. Dinda kembali melihat ponselnya dan mencoba menghubungi Willy. Namun, masih juga tidak ada jawaban.


"Tidak biasanya," ucapnya. Jarinya kembali mengusap layar ponselnya, kali ini bukan Willy, melainkan nomor asisten rumah tangganya yang berada di rumah yang dia sentuh.


"Halo Bik, apa Syena sudah pulang?" tanyanya.


"Belum Non," jawab seseorang di sebrang sana.


"Ya sudah Bi, Dinda hanya ingin menanyakan itu saja."


"Iya Non."


Sambungan telepon pun di tutup. Padahal ini sudah waktunya Syena pulang, namun belum pulang juga. Dan Willy sama sekali tidak menjawab teleponnya. Membuat Dinda khawatir dan cemas.


Dinda mencoba kembali memanggil Willy, dengan ponselnya. Seraya berjalan keluar dari dalam toilet.


"Kemana Mas Willy. Kenapa tidak menjawab teleponku."


"Itu hal biasa Dinda." Rey, tiba-tiba sudah berada di depannya. Tubuhnya bersandar pada dinding, dengan kedua kaki yang di silangkan. Membuat kakinya menghadang jalan Dinda.


Dinda merasa terkejut tiba-tiba melihat Rey, yang berada di depannya.


Rey, mengubah posisi tubuhnya lebih tegak tanpa menyender pada dinding. Tatapannya tertuju pada Dinda yang diam termangu.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Kenapa? Apa ini cafe mu?" tanya Rey, lalu berjalan mendekati Dinda. "Apa kamu kesal karena Willy tidak menjawab teleponmu." Rey tersenyum sinis.


"Itu hal biasa Dinda. Mengabaikan telepon demi wanita lain."

__ADS_1


"Maaf ya Rey. Willy tidak seperti dirimu. Yang seenaknya mempermainkan hati wanita."


"Lelaki tidak ada yang bisa di percaya Dinda."


"Tidak ada artinya aku berbicara denganmu." Kata Dinda yang langsung melangkah pergi. Namun baru saja hendak melangkah, tangannya di tarik paksa oleh Rey, membuat tubuhnya terdorong yang langsung terjatuh ke dalam pelukan Rey.


Rey, mendekapnya dengan erat. Wajah keduanya begitu dekat, sepasang netranya bertemu dan saling pandang dalam waktu yang cukup lama.


"Lepas Rey!" Dinda terus berontak namun Rey, tidak melepaskan pelukannya.


"Rey!" bentak Dinda dengan sorot mata tajamnya. Namun bukannya melepaskan Rey, semakin mempererat pelukannya.


"Kenapa Dinda? Kenapa kamu begitu percaya padanya di banding pada diriku!"


"Karena Willy dapat aku percayai. Apa kamu pikir aku akan percaya setelah melihat pengkhianatanmu. Dan sekarang kamu juga melakukan hal yang sama pada Velove. Sekarang pikirkan apa kamu lebih baik dari Willy!"


Rey, mengeraskan rahangnya. Tatapannya semakin tajam hingga menggertakkan giginya.


"Asal kamu tahu. Aku melakukan itu karena dirimu. Kamu yang sudah membuatku seperti ini Dinda, kamu menyakitiku Dinda."


"Apa!"


Rey, sudah kehilangan akal. Kedua tangannya menarik tubuh Dinda lebih dekat. Dan mencoba mencumbunya. Namun Dinda, terus berontak mencoba untuk menghindar.


Hingga saat bibir Rey mulai mendekat. Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Hingga Rey, langsung terdiam. Membuat pelukannya terlepas.


Suara isakan tangis terdengar nyaring. Dinda merasa hina karena perlakuan Rey, yang sudah berani menyentuhnya. Tubuhnya bersandar pada daun pintu, hingga melorot terduduk lemah di atas lantai. Dengan tubuh gemetar dan air mata yang berderai.


*****


Di sisi lain Karin dan Mirna masih menunggu kembalinya Dinda dari toilet. Sudah satu jam lamanya Dinda belum juga kembali.


Di samping mejanya juga terlihat seorang wanita yang gelisah menunggu sang kekasih belum juga kembali.


"Eh, ini Dinda kirim chat." Kata Karin, yang langsung membuka ponselnya. Dibacanya satu pesan dari Dinda yang mengatakan jika dirinya sudah pulang terlebih dulu dengan alasan menjemput Syena.


"Dinda sudah pulang, katanya menjemput Syena sekolah."


"Kalau begitu kita pulang saja," ajak Mirna Karin pun setuju. Karin dan Mirna beranjak dari kursi lalu pergi. Dalam waktu bersamaan Rey, datang namun tidak berpapasan dengan mereka berdua.


Dengan tampang yang menahan amarah dan kesal Rey, berjalan mendekati Angel yang sudah duduk lebih dulu.


Dinda masih berada di dalam toilet. Tangisannya mulai reda. Di usapnya air mata itu dengan kedua telapak tangannya. Lalu tubuhnya berdiri, merapikan rambut, wajah, dan dress yang sempat berantakan. Setelah merasa rapi Dinda melangkah pergi meninggalkan toilet.


Nafasnya dihembuskan dengan perlahan, berulang kali dilakukannya untuk menenangkan hatinya. Setelah merasa tenang Dinda langsung pergi keluar meninggalkan cafe.


Baru saja satu langkah, terpaksa Dinda harus berhenti karena ponselnya berdering. Dinda berharap itu Willy namun ternyata bukan, yang menghubunginya saat ini adalah dari pihak sekolah yang memberitahukan bahwa Syena belum ada yang menjemput dan masih menunggu di sekolah.

__ADS_1


"Halo Bu Dinda, saya dari pihak sekolah mau memberitahukan jika pak Willy belum datang menjemput. Sedangkan kegiatan belajar sudah selesai satu jam yang lalu. Kasihan Syena masih menunggu, apa ibu bisa menjemputnya?"


"Jadi Willy belum menjemputnya," batin Dinda yang merasa heran.


"Baik Bu, sepertinya suami saya sedang sibuk mungkin dia lupa. Saya akan segera datang menjemput Syena."


"Baik Bu. Kami tunggu ya Bu."


Sambungan telepon pun terputus.


Sedetik Dinda melupakan kejadian yang baru saja menimpanya. Kakinya langsung berlari secepat mungkin. Karena tidak ingin Syena menangis.


Sesegera mungkin dirinya melangkah. Namun, saat baru selangkah keluar dari cafe langkahnya kembali terhenti karena melihat sebuah pemandangan yang menyayat hatinya.


Tubuhnya bergeming, tatapannya tetap fokus pada seorang pria yang memeluk seorang wanita. Perkataan Rey kembali terngiang. Yang mengatakan jika itu hal biasa seorang lelaki mengabaikan teleponnya demi wanita lain.


"Willy," gumamnya bersamaan dengan tatapan Willy yang tertuju padanya.


Seketika Willy membelalakkan matanya. Willy merasa terkejut dan langsung melepaskan pegangan tangannya pada Jessica yang hampir terjatuh.


Willy tidak ingin Dinda salah paham. Niatnya hanya menahan tubuh Jessi yang akan terjatuh. Namun Willy tidak menyangka jika Dinda melihatnya.


"Dinda kamu jangan salah paham." Katanya tiba-tiba.


"Salah paham? Salah paham kenapa?"


Willy, membuang nafasnya kasar. Jawaban Dinda yang tenang tidak seperti tatapannya yang dingin. Willy mengerti Dinda pasti salah paham melihatnya yang memeluk Jessi.


"Dinda aku tahu kamu …."


"Jika kamu tidak bisa menjemput Syena, setidaknya kamu menjawab teleponku Mas." Kata Dinda yang langsung melangkah pergi.


Willy masih terdiam seperti orang bodoh. Dirinya baru mengingat jika ponselnya tidak ada padanya.


"Ponselku." Katanya yang meraba setiap saku celana dan jasnya. Tiba-tiba Jessica mendekat memberikan sebuah benda pipih padanya.


"Maaf, aku lupa memberikannya padamu. Tadi kamu meninggalkan ponselmu di kantor, aku pikir kamu pasti membutuhkannya itu sebabnya aku membawanya."


Tanpa mengatakan apa pun Willy langsung merampas ponsel itu dari tangan Jessica. Tatapannya sangat tajam dan tidak suka dengan perlakuan Jessica yang sudah berani mengambil barangnya.


"Kamu sudah berani mengambil barang yang bukan milikmu," ucapnya dingin.


"Maaf aku lupa."


"Cari saja pengacara lain. Kita sudah tidak ada urusan lagi."


Jessica tidak menyangka Willy akan mengatakan itu. Willy melangkah pergi menaiki mobilnya. Meninggalkannya sendirian yang masih diam termangu.

__ADS_1


__ADS_2