Life After Married

Life After Married
Bab 140- Kembali menjadi seorang ayah.


__ADS_3

Karin, masih sibuk merapikan dress yang dipakainya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya, membuat tubuhnya terjatuh dalam dekapan seseorang. 


Sedetik matanya terbelalak saat melihat Rio, yang ada dihadapannya. Sepasang netranya kini saling beratatapan. 


Tanpa sadar wajah Rio, semakin mendekat hingga kedua bibir mereka hampir bersentuhan, jika tangan Karin tidak terlepas mungkin benda kenyal itu sudah saling membelit.


"Apa yang mau kamu lakukan? Apa kamu lupa kita sudah lama putus. Aku bukan lagi kekasihmu jadi jangan seenaknya kamu menyentuhku." Tubuh Karin langsung menjauh, tangan Rio yang sempat memeluknya sudah ia lepaskan. Matanya mendelik sejenak lalu melangkah pergi. 


Kata putus yang dulu di ucapkan masih terbayang dan diingat. Hati Karin tidak hanya kecewa namun juga hancur. 


Detik itu juga tangan Rio langsung meraup wajahnya. Darah pada aliran nadinya semakin mendidih. Nafasnya terasa sesak seketika. Penolakan Karin membuat hatinya kecewa. 


*****


Di tempat lain kebahagian sedang di rasakan Rey, dan Rita. Walau karena terpaksa hati mereka sangat bahagia karena Velove, berhasil melahirkan seorang putra. 


Untuk kesekian kalinya, Rey kembali menjadi seorang ayah. Bibirnya melengkung sesaat menciptakan sebuah senyuman. Jari tangannya tidak henti-hentinya menyentuh tangan mungil yang belum bisa bergerak. 


Kedua tangannya terus mengayun-ayun tubuh kecil itu yang dibalut selimut. Yang hanya memperlihatkan wajah kecil yang masih belum merupa. 


"Rey, berikan pada Mama." Kata Rita yang mengulurkan tangannya. Sedetik tangan Rey, pun memindahkan bayi mungil itu dalam pangkuannya. 


Rita memangku cucunya sesaat. Sebelum akhirnya menidurkan cucunya pada sebuah bok bayi, yang di simpan di samping Velove yang masih tertidur. Karena keadaannya lemah yang membuatnya hilang kesadaran beberapa saat. Dan sampai saat ini Velove belum juga mengerjapkan mata.


"Rey ikut Mama," ajak Rita. Rey, masih diam melongo hingga saat Rita melangkah, kedua kakinya langsung terayun mengikutinya. 


"Ada apa Ma?" tanya Rey setelah berada di luar. Rita, belum menjawab, bokongnya langsung mendarat di atas kursi besi berwarna silver. Melihat mertuanya duduk Rey, pun ikut duduk di sampingnya. 


"Apa yang mau Mama katakan? Kenapa harus keluar?" tanya Rey, lagi.


Sedetik kelopak mata dengan garis-garis halus menghiasi kulitnya itu menengok, menatap tajam Rey, di sampingnya. Seketika kepalanya bergerak berpaling dari tatapan Rey. 


"Apa yang kamu lakukan pada putriku? Apa kalian bertengkar? Sehingga Velove pergi dari rumah hanya untuk mencarimu." 


Rey, masih diam, tidak mungkin juga dirinya mengatakan yang sebenarnya. Mungkin Rita tidak akan menerima dan tidak akan memaafkan kesalahannya. 


Suasana menjadi hening sejenak. Rita, terus menatap Rey, mencoba menemukan masalah apa yang terjadi pada putrinya. Namun sulit sekali membaca pikiran seseorang hanya melihat dari matanya saja.


"Tidak ada apa pun Ma. Kemarin aku lupa mengabarkan jika aku mampir ke rumah teman. Membuat Velove khawatir." 


"Hanya itu? Rasanya tidak mungkin, jika Velove pergi malam-malam hanya untuk mencarimu. Bahkan mulutmu bau alkohol malam itu." 


Rita masih ingat betul. Saat dirinya sampai di rumah sakit. Berlari dengan panik mencari dimana putrinya berada. Hatinya mulai lega saat melihat Rey, yang berdiri di depan sebuah ruangan.


Namun setelah mendekat, Rita mencium bau alkohol pada tubuh Rey membuat hidungnya berkerut seketika. "Mungkinkah Rey, mabuk?" Itu yang dipikirkannya. Di tambah dengan keadaan Rey, yang sangat berantakan. 


Seorang wanita berbalut masker yang menutup wajahnya. Dengan almamater putih yang melekat pada badannya. Wanita itu adalah dokter yang memberitahukan, jika Velove harus segera melahirkan. Perkataan itu membuat Rita kaget, bola matanya terbelalak seketika. 

__ADS_1


Usia kehamilan putrinya masih berumur 8 bulan. Masih jauh untuk melahirkan. Namun kenapa tiba-tiba dokter meminta Velove untuk melahirkan secepat ini. 


Pikiran buruknya langsung melayang. Memikirkan masalah yang terjadi pada Rey, dan putrinya. Hingga Rita berpikir pasti ada hal lain yang mengundang kontraksi lebih cepat. hingga Velove mengalami pendarahan.


"Jika kamu tidak mengatakan apa pun hari ini. Velove akan menjelaskannya nanti. Aku tidak akan memaksa agar kamu bicara masalahmu saat itu. Namun jika kamu berani menyakiti hatinya jangan harap kamu akan bertemu dengan putramu." 


"Maksud Mama apa? Mama mau menjauhkan ku dari putraku?" 


"Kenapa tidak." Kata Rita, yang langsung beranjak pergi masuk kembali ke dalam ruangan dimana Velove berada. 


Rey, masih diam. Dalam hatinya sangat takut jika Velove, mengatakan tentang pengkhianatannya. Dan itu tidak akan Rey, biarkan. Jangan sampai hal yang terjadi padanya dulu terjadi lagi. Cukup Dinda yang menjauhkannya dari putrinya.


Tubuhnya langsung terbangun melangkah masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Velove masih terbaring lemah dengan mata terpejam. Rita masih setia menemani dan duduk di samping ranjangnya. 


Satu tangannya terus menyentuh dan mengusap lembut deretan jari tangan yang masih marapat.


"Ma, biar aku yang menjaga Velove. Sebaiknya Mama pulang dulu."


"Tidak aku tidak akan pulang." 


"Apa Mama tidak berganti pakaian? Dari semalam Mama belum berganti pakaian." Rita langsung menunduk. Melihat piyama tidur yang melekat pada tubuhnya. Sedetik dirinya berpikir, malu juga jika harus mengenakan pakaian tidur semalaman mungkin orang-orang akan mencium baunya. 


"Benar juga. Ya sudah Mama pulang dulu." 


"Ma, boleh Rey, minta tolong? Bawakan beberapa baju untuk Rey." 


Rey langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi. Menatap wajah Velove yang begitu pucat. Satu tangannya bergerak, mengelus lembut jari tangan yang kini mulai bergerak. 


Sontak Rey, membelalakan matanya, jari tangan Velove sudah bergerak, bersamaan dengan sepasang matanya yang mengerjap. 


"Sayang kamu sudah sadar?" 


"Aku dimana?" 


"Kamu di rumah sakit sayang, anak kita sudah lahir, terima kasih sudah memberikanku seorang putra." Satu kecupan Rey, daratkan pada punggung tangan istrinya. 


"Dimana anakku aku ingin melihatnya." Tangan Rey, membantu tubuh Velove untuk berdiri. Lalu bergerak mengambil bayi kecil yang tertidur dalam box bayi. Diambilnya lalu dipindahkan pada tangan Velove yang siap memangku bayinya.


"Anakku tampan sekali." Kata Velove yang jari telunjuknya tidak henti-hentinya mengetuk pada pipi yang lembut dan halus. Bibirnya terus melengkung menciptakan senyuman.


"Sayang." Tiba-tiba tangan Rey, meraih tangannya. Menyentuhnya dengan lembut. Bibirnya mulai bergerak ingin menyampaikan beberapa kata yang siap dilontarkan.


"Maafkan aku yang sudah khilaf. Aku mohon lupakan masalah semalam. Ada anak kita yang lebih butuh perhatian. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi." 


Velove tertegun, mengingat semalam membuatnya sakit. Namun, masih ada seorang malaikat kecil yang butuh perhatian. Haruskah dirinya memaafkan dan melupakan. Nafasnya tertahan sejenak, sebelum akhirnya mengembus dengan perlahan. 


Sedetik netranya kembali menatap Rey, kepalanya mulai mengangguk lalu berkata, "Baiklah, aku maafkan. Akan aku anggap itu sebagai karmaku. Tapi kamu harus berjanji tinggalkan wanita itu." 

__ADS_1


"Iya, aku janji. Tapi aku mohon jangan katakan masalah kita pada Mama. Aku tidak ingin Mama terpikiran." Bukan tidak ingin terpikiran dan menambah beban sang ibu mertua. Namun, yang di takutkan Rey adalah ancamannya yang akan menjauhkan dari putranya. 


Velove terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. Setidaknya hati Rey, kini tenang. Entah Rey, akan menepati janjinya atau tidak. 


"Apa kamu sudah memberikan nama?" 


"Belum. Apa ya namanya?" 


"Aku belum memikirkannya Mas."


"Ya sudah kita pikirkan itu nanti. Kita cari sama-sama nama yang cocok untuk anak kita." 


******


Rey, keluar dari toilet setelah mengganti pakaiannya. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan. 


Dilihatnya nama yang tertera, membuat matanya terbelalak seketika. Segera kakinya berlari meninggalkan pakaian kotor yang sempat ia tunda. 


Langkahnya semakin cepat menyusuri setiap koridor dan sepanjang lorong. Hingga langkahnya terhenti saat melihat wanita muda dengan pakaian formalnya. Mata sipitnya menyipit sempurna hingga tidak terlihat bola mata indahnya. Rambut bergelombang membuat auranya semakin terpancar.


Rey, langsung menarik tangan wanita itu membawanya bersembunyi di balik tembok yang sempit jauh dari keramaian. 


"Kenapa kamu datang kesini?" tanya Rey, sedikit panik. Kepalanya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Berharap tidak ada yang melihatnya.


"Aku hanya ingin tahu keadaan istrimu. Aku melihatnya Mas, malam itu istrimu pingsan," ujar seorang wanita yang tidak lain adalah Angel. 


Rey, meraup wajahnya sejenak lalu berkata, "Velove melahirkan, keadaannya baik-baik saja. Sekarang kamu pulang jangan datang lagi kesini. Bahaya jika mertuaku melihat." 


"Tapi Mas, lalu bagaimana denganku? Bagaimana hubungan kita?" 


"Kamu sudah tahu kan aku sudah punya istri. Dan kamu tidak mungkin mau denganku." 


"Apa cintamu benar-benar tulus Mas?" 


"Aku tidak pernah bermain-main dengan cinta." 


"Kamu juga tidak boleh mempermainkan hatiku Mas. Aku ingin kepastian." 


Rey, terdiam sesaat. 


"Aku sudah punya istri, apa kamu tetap ingin menjadi kekasihku?"


"Aku sudah coba melupakan dan benci padamu Mas. Namun tidak bisa, kamu sudah merebut hatiku. Aku akan menerimamu apa adanya, termasuk status mu yang sudah menikah. Aku rela menjadi yang kedua. Asal bersama mu Mas." 


Sedetik kecupan lembut Rey, berikan. Benda kenyal itu saling menempel. Membuat kedua mata mereka terpejam dalam sesaat. Sebelum akhirnya kecupan itu terlepas. 


"Terima kasih sudah menerima ku. Pulanglah, aku akan datang padamu nanti. Aku harus pergi istriku pasti menungguku." 

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Rey, berlari pergi meninggalkan Angel yang masih terdiam. Sepertinya dirinya harus bisa mengerti dan mulai memahami. Bahwa cinta Rey, bukan hanya untuknya melainkan untuk kedua wanita dan dirinya harus siap berbagi cinta.


__ADS_2