
"Dinda," ucap Fras, yang tercengang.
Dinda, terus berjalan tanpa melihat ke sekelilingnya. Yang di lihatnya saat ini hanya Syena, putrinya yang sedang bermain di sebrang jalan sana.
Sedangkan di dalam mobil. Tangan Fras, mulai membuka pintu mobilnya. Berniat untuk menemui Dinda.
Tatapan Dinda, masih tertuju pada Syena, ada rasa bahagia melihat putrinya yang tertawa renyah. Apalagi saat melihatnya bersama Willy. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Namun, kebahagiaan itu hanya sekejap sebelum akhirnya suara Fras, memudarkan senyumannya. Membuat wajahnya berubah menegang.
"Dinda."
Tubuh Dinda, segera berbalik menghadap arah suara, membelakangi objek di depannya.
Fras, berdiri tepat di samping mobilnya. Menatap Dinda, dengan tatapan penuh penyesalan. Ada rasa bahagia bisa di pertemukan walau terlambat.
Bibir ranum Fras, mulai melengkung menciptakan sebuah senyuman kebahagiaan, guratan halus pada wajahnya terlihat jelas penyesalan selama hidupnya. Bayangan Dinda, kembali terlintas saat dimana gadis kecil dulu selalu berlari menyambut kedatangannya.
Tapi tidak dengan wanita di depannya saat ini. Yang hanya diam dengan wajah datarnya. Jangankan untuk berlari, tersenyum saja tidak. Dinda, hanya memasang wajah datarnya.
Fras, mengerti dan memahami putrinya. Yang memang tidak sesenang dulu saat bertemu dengannya. Namun, Fras tidak peduli. Bagaimana pun sikap putrinya yang terpenting dirinya sudah bertemu, setidaknya bisa mengatakan maaf walau hanya sekali.
Di sebrang sana Asih, dan Syena, masih sibuk dengan aktifitas mereka. Tanpa melihat ke arah sebrang jalannya. Hingga ucapan Willy, mengalihkan pandangannya.
"Dinda, sepertinya sedang berbicara dengan seseorang," ucap Willy, yang tidak sengaja sepasang netranya menangkap sosok Dinda, bersama seorang pria di sebrang jalan.
Asih, membelalak 'kan matanya. Ketika menangkap sosok Fras, di depannya. "Fras, Dinda," batinnya. Yang mungkin bertanya-tanya sedang apa mereka berdua. Apa yang di bicarakannya.
Tiba-tiba Asih, teringat ucapan Dinda, mengenai kutukan. Karena Dinda, masih menyimpan amarah pada Fras, ayahnya itu. Dan sangat tidak ingin bertemu dengan ayahnya.
"Willy?" panggil Asih, membuat Willy, menoleh.
"Iya Tante?"
"Apa kamu bisa membawa Syena, ke dalam. Di sini sangat panas di tambah dengan asap yang keluar dari kendaraan yang lewat. Tante hanya takut mengganggu kesehatan Syena. Syena sedang batuk."
"Oh iya, tentu. Syena kita mainnya di dalam ya?" ajak Willy, yang mendapat angguk 'kan dari Syena.
"Tante, tidak ikut masuk?" tanya Willy, yang hendak melangkah 'kan kakinya. Namun kembali terhenti karena melihat Asih, yang masih berdiri di tempatnya.
"Tante, mau temui Dinda di sana." Tunjuk Asih, pada Dinda, yang masih berdiri di sebrang jalan. "Tante titip Syena, sebentar," ucap Asih, dengan ekpresi memohon.
__ADS_1
"Tentu Tante," ucap Willy, lalu melangkah memasuki kantornya.
Tatapan Asih, kembali beralih pada Dinda.
POV Dinda
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya dingin. Fras, menghela nafas sejenak, lalu kedua kakinya melangkah mendekati Dinda.
"Aku sangat terkejut namun bahagia saat kamu memanggilku ayah," ucap Fras, mengingat pertemuannya kemarin.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak memiliki ayah." Perkataan Dinda, mampu mengiris hati Fras, terasa sangat menusuk ulu hatinya. Serasa jika dirinya tidak pernah berperan sebagai ayah untuk putrinya itu.
"Lupakanlah perkataanku yang kemarin." Lanjut Dinda, yang ingin melangkah namun terhentikan oleh Fras.
"Dinda!"
"Untuk apa aku harus memanggilmu ayah? Sudahku bilang aku tidak memiliki ayah."
Deg! Hati Fras, semakin tercabik-cabik.
"Maafkan ayah … maafkan ayah Dinda."
Tidak hanya Fras, yang merasakan itu. Dinda, juga merasakan hal yang sama. Lidah berucap bukan karena hati, melainkan karena emosi. Bila bisa jujur hatinya saat ini sangat sakit, kecewa, bahkan air matanya hampir menetes namun ia bendung. Karena baginya air mata ini tidak berarti di banding luka yang Fras, berikan selama ini.
Akan lebih baik air matanya tidak menetes sedikit pun saat bertemu dengan ayah yang selama ini meninggalkannya.
"Maafkan ayah Dinda, dulu …." Perkataan Fras, terhenti karena sanggahan Dinda.
"Untuk apa meminta maaf. Semua sudah terlambat."
"Ayah tidak pernah berniat untuk meninggalkan kalian. Tapi Asih, yang meminta cerai dariku dan pergi menjauh … membawamu."
Dinda, tersenyum getir. Sedetik wajahnya mendongak menatap mata lelaki yang di penuhi dengan guratan halus di bawah kelopak matanya. Dan uban yang menghiasi rambut hitamnya.
Lalu Dinda, berkata, "Wanita mana yang ingin di duakan. Yang siap berbagi cinta. Seharusnya anda sebagai pria bisa memilih. Dan pergi meninggalkan wanita itu. Tapi apa yang ayah lakukan! Ayah lebih memilih wanita yang baru ayah kenal di banding dengan ibu yang bertahun-tahun menjalani hidup, melewati suka dan duka bersamamu."
Air mata pun pecah, Dinda dan Fras, tidak dapat lagi membendung air matanya. Luka yang dulu hilang kini kembali di rasakan.
"Sekarang Dinda, tanya apa salah ibu meminta cerai? Apa salah seorang wanita memilih mengakhiri hubungannya dengan bercerai. Apa ibu harus menjalani hidup penuh luka! Bahkan sampai saat ini luka itu masih ada … masih Ad-da!"
__ADS_1
Suara Dinda, sedikit meninggi. Di iringi hembusan nafas yang terasa sesak.
"Apa ayah pikir ibu tenang, damai, menjalani hidupnya? Mungkin iya bagi ayah. Selama 20 tahun, ayah pasti bersenag-senang mengurus perusahaan, tertawa, hidup dengan kemewahan bersama wanita yang membuat ayah lupa pada ibu dan aku."
Dinda, meluapkan semua emosinya. Mata merah, di iringi dengan tangisan.
"Tapi apa yang terjadi dengan ibu! Sampai saat ini ibu bahkan tidak pernah menikah lagi. Tahu kenapa? Karena luka itu terus mengikutinya dan tidak bisa berdamai dengan hatinya."
"Selama ini ayah mencarimu Dinda, tapi ayah tidak pernah menemuimu. Dan sekarang ayah bertemu denganmu ayah sangat senang bisa melihatmu tumbuh dewasa, menjalani hidupmu dengan baik. Asal kamu tahu setelah bertemu denganmu ayah sangat ingin meminta maaf padamu. Maafkan ayah yang sudah pergi meninggalkanmu saat itu. Maafkan ayah Dinda."
Tangisan semakin pecah. Setiap emosi sudah mereka lepaskan. Antara sedih, bahagia, kecewa, dan penyesalan. Tidak peduli dengan keadaan sekitar, kendaraan berlalu lalang, panas terik matahari yang semakin membakar emosi keduanya. Luluh keringat mulai bercucuran membasahi pipinya.
Keadaan Dinda, yang tidak Vit, membuat wajahnya terlihat pucat. Apa lagi setelah meluapkan amarahnya, melepas suaranya hingga oktaf tertinggi. Namun, sakit yang di rasakan saat ini masih tidak sebanding dengan luka yang di berikan ayahnya. Apa lagi Dinda, mengalami hal yang sama seperti ibunya.
Danu, di dalam mobil melihat jelas wajah Dinda, yang terlihat pucat. Kedua tangannya mengepal kuat seolah sedang menahan rasa sakit pada tubuhnya. Ingin sekali Danu, turun memberitahukan Fras, tentang kondisi putrinya saat ini.
Kedua tangannya hendak membuka pintu namun, sedetik niatnya itu terhenti. Saat melihat Asih, berjalan mendekati Dinda, dan bosnya. Danu, lebih memilih diam membiarkan mereka menyelesaikan masalah ya.
"Dinda, kamu tidak apa-apa Nak? Wajahmu pucat sekali." Fras, langsung menyadari keadaan Dinda, saat ini. Namun Dinda, tetap terlihat tegar.
"Dinda! Kamu sakit? Lebih baik kita ke rumah sakit?"
"Apa pedulimu Fras! Dinda sakit karena bertemu denganmu."
Suara Asih, mengalihkan pandangan Fras, dan juga Dinda yang sama-sama meliriknya yang berdiri di belakang Dinda.
"Asih!"
"Ibu!"
Ucap keduanya bersamaan.
"Untuk apa kamu datang setelah meninggalkan luka. Apa kamu datang hanya untuk menaruh luka!" Tatapan Asih, begitu tajam.
...----------------...
Jujur author sedih nulis part ini 😭
"Dalam hidup ada satu yang tidak bisa d lupakan. Kenangan, masalalu, cinta, dan kebaikan seseorang tapi terkadang kita melupakan itu. Hanya satu yang tidak bisa dan tidak mudah di lupakan itulah LUKA"
__ADS_1