
Di sebuah ruangan berukuran 3×3 seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang pasien rumah sakit. Wanita itu tidak lain adalah Dinda, yang pingsan akibat rasa nyeri pada perutnya.
Willy, dan Asih, masih menunggu Dinda, di luar ruangan UGD. Mereka duduk di kursi yang berjajar yang sudah di sediakan untuk para pasien menunggu. Tidak berselang lama, seorang pria matang dengan almamater putih yang di pakainya. Keluar dari ruang UGD tersebut.
Asih dan Willy, segera bangkit dari kursi, berjalan ke arah seorang dokter yang baru saja ke luar dari dalam UGD.
Wajah Asih, yang panik ingin segera menanyakan tentang keadaan putrinya saat ini. Berbagai pertanyaan pun segera Asih lontarkan, di iringi rasa cemas dan khawatir pada sang putri.
"Dokter apa yang terjadi pada anak saya? Apa anak saya baik-baik saja?"
"Tante tenang ya, kita tunggu penjelasan dokter." Tutur Willy, menenangkan Asih.
Dokrer, pun mulai bicara, "Tidak ada yang serius dengan penyakit Bu Dinda. Hanya masalah pada lambungnya saja. Dari pemeriksaan sepertinya lambungnya terluka hingga menyebab 'kan nyeri yang amat sakit, di tambah lagi pasien tidak makan apa pun selama dua hari ini."
Mendengar penuturan dari dokter, Asih jadi teringat bahwa saat sakit kemarin Dinda, tidak memakan apa pun. Dengan alasan tidak nafsu makan. Asih, pun merasa bersalah karena membiarkan Dinda, tidak memakan sesuap nasi pun.
"Kemarin putri saya memang sakit jadi nafsu makannya berkurang. Dan hari ini Dinda, juga belum memakan apa pun."
"Untuk beberapa hari ini biarkan pasien di rawat sementara. Bagaimana pun kondisi lambungnya sedang tidak baik."
"Baik dokter. Kami setuju saja jika itu untuk kebaikan pasien. Tolong pindahkan segera pasien ke ruang rawat. Administrasi akan segera saya urus," ucap Willy, dengan tegas.
Dokter pun mengangguk lalu meminta para perawat untuk segera memindahkan pasien ke kamar rawat. Asih, terdiam melihat Willy, yang bergegas pergi ke bagian administrasi.
Di pandangnya punggung lebar itu yang semakin menjauh menghilang dari balik koridor rumah sakit. Sedetik Asih, teringat tentang seseorang yang membayar administrasi Syena, saat cucunya di rawat.
"Mungkinkah Willy, yang membayar pengobatan Syena?" Pikirnya yang masih diam bereming.
*****
Di ruang kerja seorang pria dengan papan nama direktur di atas meja kerjanya duduk melamun di kursi kebesarannya. Satu jari kelingkingnya iya ketukan pada dasar meja, dengan satu tangan yang terus memegang sebuah benda pipih yang memiliki layar datar, slim, dengan simbol buah apel di belakangnya.
Berkali-kali ibu jarinya mengusap, di gerak 'kan ke atas dan ke bawah hanya sekedar membuka layar ponsel untuk memastikan ada pesan yang masuk padanya.
Di tatapnya layar ponsel yang hanya menampilkan walfaper indah sebuah pemandangan gunung fuji di sertai ke empat angka yang muncul menunjuk 'kan waktu indonesia saat ini. Tanpa ada satu pesan atau panggilan lainnya.
__ADS_1
Ibu jarinya kembali mengusap pada layar dan membuka kunci. Di sentuhnya ikon hijau dengan simbol telepon, sedetik rentetan pesan pun bermunculan dari beberapa nama kontak pada ponselnya.
Satu kontak yang bernama Dinda, ia tekan dan terbukalah isi pesan yang baru saja di kirimnya. Yang masih belum juga mendapatkan balasan. Namun tanda centang dua sudah berubah warna menjadi biru. Nama kontak pun terlihat online tapi tidak kunjung dapat balasan.
Kembali pada Dinda, yang sebelumnya mendapatkan pesan dari Rey, hingga akhirnya jatuh pingsan.
[Dinda, aku ingin bertemu putriku. Jangan larang lagi untuk kami bertemu. Sebagai ayah aku juga berhak atas Syena, dan aku hanya ingin meminta waktu agar Syena, bisa bersama dengan ku walau hanya beberapa hari ini saja. Jika kamu masih melarang ku untuk bertemu dengan putriku jangan salahkan aku jika membawa Syena, pergi.]
Satu pesan yang Rey, kirimkan. Hingga detik ini belum juga dapat balasan.
"Aku tahu kamu tidak akan mengizinkan. Ancaman ku tidak hanya sekedar menggertak namun akan aku buktikan perkataanku yang akan membawa Syena." Ucap Rey, yang langsung menutup layar ponselnya lalu di simpannya di atas meja.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Rey, menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka lebar. Danu terlihat muncul dari balik pintu dengan tampang nya yang datar, tanpa senyuman.
Tubuh Rey, segera bangkit saat mengetahui Danu, yang datang menemuinya.
"Pak Danu," serunya.
"Pak Fras, menunggu anda di ruangannya," ucap Danu datar. Lalu berbalik melangkah ke luar dari ruangan Rey.
*****
Dinda, sudah di pindah 'kan ke ruang rawat inap sesaat setelah Willy, mengurus administrasinya dengan cepat. Dinda, masih belum mengerjapkan mata karena dokter memberikan obat agar dirinya tertidur cukup lama.
Asih, dan Willy, masih menatap wajah teduh sang wanita yang berbaring di atas ranjang tidurnya. Sedetik Asih, kembali teringat pada seseorang yang misterius yang membayar biaya pengobatan cucunya.
"Nak Willy." Panggil Asih, yang melirik Willy, di hadapannya.
Willy, yang sedang sibuk membalas pesan pada ponselnya langsung mendongak menatap wanita tua di hadapannya.
"Iya Tante?"
"Bisa Tante tanyakan sesuatu?"
"Tentang apa? Tanyakan saja Tante."
__ADS_1
"Beberapa hari lalu …." Perkataan Asih, terjeda, karena suara nada dering yang berasal dari ponsel milik Willy. Membuat Willy, harus segera menjawabnya.
"Maaf Tante, aku angkat telepon dulu. Dari Rio, aku lupa memberitahu 'kan Rio, jika kita ada di sini. Rio, dan Syena, pasti mencariku."
Seketika Asih, pun teringat cucunya yang sempat ia titipkan pada Willy. Karena pertemuannya dengan sang mantan suami di tambah lagi Asih, di kejutkan dengan keadaan Dinda, yang tidak sadarkan diri membuatnya panik dan cemas.
"Tolong tanyakan kabar Syena, ya Nak Willy."
"Iya Tante." Willy, menjawab di sertai angguk 'kan dan senyuman. Lalu berlalu pergi keluar dari kamar rawat untuk menjawab panggilan dari Rio.
Willy, mendekat 'kan benda pipih itu pada daun telinganya. Tubuhnya berdiri di ambang pintu dengan tangan kiri yang ia tumpu 'kan pada pinggangnya.
"Halo Rio?"
"Willy, kamu dimana? Apa yang terjadi? Ponsel Dinda, tertinggal dan pecahan beling berserakan di lantai." Terdengar suara Rio, memekik di ujung sana.
Tangan kirinya berpindah untuk meraup wajah ya kasar. Lalu kembali Willy, letak 'kan di atas pinggang nya.
"Maaf Rio, aku lupa memberitahu mu. Tadi Dinda, pingsan itu karena panik tanpa sadar aku melempar gelas yang ku bawa untuk Dinda, sekarang aku ada di rumah sakit sekarwangi. Bagaimana Syena, apa dia masih bersama mu?" Willy, mendadak panik karena mencemaskan Syena.
"Syena, baik-baik saja dia bersama ku. Sampai saat ini aku masih menggendong nya." Sahut Rio, dari sebrang sana.
"Aku pikir kamu pergi berkencan dan lupa pada ku juga putrinya," tambah Rio, yang makin ngaur saja.
"Rio, kamu ini ngomong apa sih! Sekarang datang kemari bawa Syena."
"Iya, aku akan datang ke sana. Sudah dulu ku tutup teleponnya." Ucap Rio, yang langsung menutup panggilannya.
"Aku harus kasih tahu Willy, tentang pesan ini." batinnya yang terus menggenggam ponsel milik Dinda.
*****
Maaf kemarin libur dulu gak update hari ini double update ya reader ... tungguin update selanjutnya. Jangan lupa tinggal 'kan komentar di setiap bab. Like dan Vote jangan lupa, kasih ulasan juga dan bintang 5 ya bestie.
Salam author
__ADS_1
Dini_ra