Life After Married

Life After Married
Bab 145- Ibu Sambung tidak terasa ibu kandung


__ADS_3

Berbeda dengan Dinda dan Willy yang sedang asyik liburan ke kota kembang. Syena, memilih untuk menginap di rumah Rey, melihat baby Bian adik dari papanya. 


Semenjak datang, Syena tidak bosan-bosannya menemani Bian di dalam kamar. Kasih sayangnya pada Bian sangat tulus. 


Walau bukan terlahir dari Mamanya Syena tetap menyayangi Bian, karena anak dari papanya. Usia nya memang belum cukup dewasa, namun Syena sudah mengerti dan menerima jika dirinya memiliki dua keluarga. Dari ayah juga dari ibu. 


Mencoba menerima Velove, sebagai ibu sambungnya walau tidak sebaik ibu kandungnya. 


Tapi Syena merasa beruntung karena memiliki ayah sambung yang baik seperti Willy, yang menyayanginya seperti anak kandung sendiri. 


"Jangan terus di ganggu nanti anakku bangun," gertakan Velove, membuat tubuh kecil itu langsung menjauh dari sang bayi yang sedang terlentang menggerakkan kedua tangan dan kakinya ke udara. 


Jangankan mendengar suaranya, melihat tatapan Velove yang menakutkan saja Syena sudah diam dan hanya bisa menunduk. 


"Non Syena tidak ganggu kok Bu, dia hanya bermain. Dede Bian nya juga senang," bela Ijah yang memang di tugaskan untuk menjaga Syena. 


Mata seram itu hanya mendelik. Merasa tidak suka dengan jawaban sang pengasuh anak suaminya. 


"Sok tahu kamu!" tukasnya, "Kamu diam saja masak buat makan malam sana, diam jangan saja kaya nyonya." Bi Ijah hanya mengelus dada saat mendengar kata-kata kasar dari Velove. 


Sangat berbeda jauh dengan majikannya di rumah. Dinda yang begitu perhatian dan peduli, bahkan tidak menganggapnya sebagai pembantu.


Bi Ijah hanya bisa menggelengkan kepala. 


"Bi ikut," ujar Syena saat Bi Ijah hendak pergi. Rasanya tidak betah berduaan dengan ibu sambung yang seperti penyihir. 


"Ayo Non, ikut Bibik." Bi Ijah langsung menuntun tangan Syena keluar dari kamar Bian.


Di rumah ini memang tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan Velove yang kerjakan juga Rita. Jadi … kedatangan Bi Ijah dimanfaatkan oleh mereka untuk mengurus dan beres-beres rumah. 


"Hei kamu, mau kemana?" tegur Rita yang baru saja keluar dari kamarnya. 


"Mau ke dapur di suruh masak Bu." 


"Oh, baguslah. Masak yang enak, jangan lupa bersihin ruangan juga." Merasa tidak ada Rey, Rita dan Velove bisa seenaknya menyuruh Ijah. 


"Non duduk di sini ya," titah Bi Ijah yang mendudukan Syena di atas kursi makan. Sedangkan dirinya mulai bergulat dengan alat dapur. 


Dalam hatinya Syena, merasa sedih. Niatnya ingin bermain bersama adiknya namun dilarang oleh Velove. Berulang kali jarum jam pada arlojinya ia lihat, masih lama menunggu kepulangan sang papa. 


Syena berharap Rey, segera pulang. 


"Bik, aku mau telepon papa." Katanya sambil mencoret-coret meja makan dengan kuku-kuku kecilnya. Seolah sedang menghilangkan rasa bosannya. 

__ADS_1


Kepala Bi Ijah menoleh sejenak, melihat pipi chubby itu yang menempel pada meja, serta gerakan sepasang jari-jari kecil menari-nari di atas meja. 


"Papa mana Non?" tanya Bi Ijah. Tangannya kembali fokus menggoyangkan spatula di atas wajan. Sekilas bibirnya melengkung melihat kebosanan Syena. 


"Papa Rey, Bik." 


"Papa Rey, masih kerja Non. Nanti juga pulang." 


"Bik, aku lebih suka Mama baru yang papa kenalkan." 


"Mama baru?" Bi Ijah sedetik tertegun, merasa bingung apa yang dikatakan Syena. Siapa yang di maksud Mama baru. Namun Bi Ijah tidak ingin bertanya lebih lanjut, karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.


"Mama baru aku baik Bik, cantik dan muda." 


"Mama baru apa Non? Mamanya Non cuma mama Dinda dan bunda Velove." 


"Enggak Bik, papa kenalkan aku sama mama …," ucap Syena tertahan. Karena Bi Ijah langsung menghentikan ucapan itu dengan satu telunjuk yang di daratkan pada bibir Syena. 


Bi Ijah takut jika Velove, yang mendengar bisa jadi masalah. 


"Jangan di terusin ya Non, nanti Bunda nya marah. Non gak mau kan di marahin Bunda." Syena pun mengangguk dan menurut dengan apa yang diperintahkan Ijah. 


Tidak berselang lama Rey, datang membuatnya girang dan berlari kearah Rey yang mendekatinya. 


Rey langsung memangku tubuh mungil itu. Mengecupnya dengan cinta kedua pipi chubby-nya. Tanpa sadar perlakuannya itu membuat Velove iri dan kesal, karena Rey lebih perhatian pada Syena. 


Tubuh Syena langsung Rey turunkan dari pangkuannya. Mengecup lembut pipi Velove yang memeluknya. Mendengar Bian yang sudah bangun dan tidak tidur Rey, langsung melangkah masuk ke dalam kamar. Tidak lupa membawa Syena bersamanya.


"Bian bangun? Ayo sayang kita ke kamar Bian," ajak Rey, yang langsung menuntun Syena. 


Velove hanya diam melihat kepergian mereka. Sedetik tatatapannya tertuju pada Ijah yang sedang menyajikan masakannya di atas meja. 


Helaan nafas kasar ia embuskan. Dengan mata mendelik, kakinya terayun mendekati Ijah. Entah apa yang Velove inginkan tiba-tiba tangannya menggenggam kasar tangan Ijah. 


"Awas, jika kamu berani bilang pada Rey. Jika aku memarahi anaknya." 


"Enggak Bu, saya tidak bilang apa-apa," ujar Bi Ijah dengan bibir gemetar. Cengkraman itu pun langsung Velove, lepaskan. 


"Aku pegang omonganmu," ucap Velove lalu pergi meninggalkan Ijah.


"Ya ampun galak bener istrinya pak Rey. Kayanya gak baik deh kalau Syena nginep," gumam Ijah yang memikirkan keadaan Syena.


Di Dalam kamar

__ADS_1


"Mas mandi dulu sana, biar Bian main sama Syena saja. Setelah ini kita makan malam. Iya kan Syena?" 


Senyuman palsu yang Velove pancarkan. Hanya untuk Rey. Dirinya seolah baik dan sangat menyayangi Syena, namun itu hanya di depan Rey saja. 


Elusan lembut dari tangannya, agar di pandang ibu yang begitu perhatian bagi anaknya terutama Syena.


Syena tetap diam, tidak menolak atau bergerak saat kepalanya di sentuh oleh Velove di usapnya dengan lembut. Bibir mungil itu tidak bergerak dan tetap Bungkam. 


"Ada titipan buat Bian." Kata Rey, yang memberikan sebuah toote bag pada Velove.


"Apa ini Mas? Dari siapa?"


"Kado buat Bian dari sekretarisku." 


"Baik sekali. Kenapa tidak sekalian saja di undang makan malam Mas?" 


"Dia sibuk, dan hanya menitipkan saja." 


"Sampaikan terima kasihku padanya ya Mas." 


"Iya. Aku mandi dulu." Rey pun pergi ke arah kamar mandi. Velove langsung berdiri, melepaskan sentuhan tangannya pada Syena. 


Tanpa ada salah, tangan itu mentoyor kepala mungil itu. Entah karena kesal atau melampiaskan kecemburuannya pada Syena. 


"Bunda," tegur Syena saat kepalanya terasa didorong. Namun tatapan Velove, membuatnya takut. 


"Awas jika kamu ngadu sama papamu." 


"Bunda kenapa jahat? Apa salah aku?" 


"Salah kamu karena selalu mengganggu kebahagiaanku. Aku tidak akan biarkan kamu merebut kasih sayang papamu dari Bian." 


"Bibik!" teriak Syena yang berlari dan hendak menemui Bi Ijah. Namun, tertahan karena Velove menarik belakang bajunya membuat langkahnya terhenti. 


"Bunda," rengek Syena. 


"Kamu mau ngadu sama Bibik mu?" 


"Enggak." Kepala Syena langsung menggeleng.  


"Bagus. Awas kalau kamu ngadu. Usap air matamu." Syena langsung mengusap air matanya. Lalu berjalan kembali keluar dari kamar Bian.


Entah apa yang membuat Velove begitu benci pada Syena. Namun sepertinya semua itu berhubungan dengan masa lalu.

__ADS_1


...----------------...


Geram deh sama Velove 😠


__ADS_2