
Karin semakin mempercepat laju mobilnya. Membelah jalanan kota yang cukup ramai di siang ini. Hingga mobilnya berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup tua, usang, dan berdebu.
Karin turun dari mobilnya. Melangkah memasuki rumah itu.
"Syena! Syena!" teriaknya begitu menggema.
"Vikram! Keluar kamu! dimana Syena. Jangan menjadi orang pengecut yang berani menyekap anak kecil."
Karin terus melangkah memasuki rumah itu lebih dalam. Namun tidak ada tanda-tanda Vikram memunculkan diri.
"Vikram!" teriak Karin, hingga urat-urat lehernya terlihat sangat jelas.
"Syena!"
"Aunty!"
Suara itu mengalihkan pandangannya. Terlihat Syena berlari ke arahnya. Karin yang melihat Syena langsung berlari dan memeluknya.
"Syena kamu baik-baik saja? Tidak terluka kan!"
Bocah kecil itu hanya menggeleng.
"Kenapa Aunty menangis?" tanya Syena polos.
Karin tidak dapat menahan bendungan air matanya. Membuatnya menangis. Kedua tangannya terus memeluk Syena, tidak ingin melepaskannya.
"Syena kita pulang ya sayang. Mama mencarimu." Kata Karin yang terus mengusap lembut pipi chubby-Nya.
"Iya Aunty."
Karin bangkit berdiri. Menuntun Syena untuk segera berjalan. Namun, sosok Vikram berdiri tak jauh di hadapannya.
Karin membelalakan matanya, memangku Syena untuk melindunginya. Aturan nafasnya semakin tidak beraturan. Hatinya semakin bertalu-talu. Tubuhnya semakin gemetar melihat senjata tajam yang Vikram ayunkan.
"Mau apa kamu dengan senjata itu?"
Vikram hanya menyeringai menanggapi pertanyaan dari Karin.
"Aku ingin kamu tahu apa yang aku lakukan di dalam penjara. Apa kamu ingin tahu?"
Karin hanya menelan ludah sebagai penghilang kegugupanya. Tubuh Karin terus mendekap Syena, membalikkan tubuh kecil itu dari pandangan Vikram.
"Aunty."
"Syena tutup matanya jangan kamu buka."
"Kenapa Aunty?"
"Aunty punya kejutan."
"Benarkah!"
Mendengar kejutan Syena sangat senang. Namun tidak seperti Karin yang ketakutan. karin tidak ingin Syena melihat senjata tajam itu.
Langkah kakinya semakin mundur saat Vikram terus melangkah maju mendekatinya.
"Kamu lihat luka ini!" tunjuk Vikram pada wajahnya. "Dan ini." Sambungnya yang menyikap kaos oblongnya yang memperlihatkan luka tusukan pisau pada bagian perutnya.
__ADS_1
"Kamu yang mengantarku ke penjara. Dan inilah yang aku dapatkan disana."
Vikram menghentikan langkahnya sejenak. Lalu mengasah kedua pisaunya.
"Aku ingin kamu merasakannya. Sesakit apa yang kurasakan. Atau gadis kecil itu kita gunakan sebagai percobaan."
"Jangan pernah menyentuhnya." Karin mengertakkan gigi-giginya.
Baginya Vikram sudah gila. Dan Vikram hanya menginginkannya terluka. Namun, Karin tidak bisa bergerak atau melawan karena ada Syena diantara mereka.
Sepasang matanya dibiarkan bergerak menyapu setiap sudut ruangan. Mencari celah untuk kabur.
Namun, tingkah dan gerak-geriknya tertangkap oleh Vikram.
Bibirnya menyeringai. Satu pisau ia ayunkan ke udara. Di tatapnya tajam wanita yang pernah ia cintai. Dan yang menghancurkan hidupnya sendiri.
"Karin aku ingin kita bersama selamanya. Dan mari kita mati bersama."
"Gila kamu Vikram."
Haha … haha …
"Vikram!"
Sedetik Karin membalikkan tubuhnya. Tubuhnya seketika membeku, bibirnya bergetar hebat, hingga tumpahan air mata jatuh membasahi pipinya.
"Aunty," panggil Syena yang membuka mata.
"Tutup matamu Syena."
Bibir Karin semakin bergetar. Ada rasa nyeri yang luar biasa pada belakang pinggangnya. Di lihatnya cairan kental merah mulai menetes membasahi pakaiannya.
Sedetik tubuhnya melorot. Membuat tubuh mungil Syena ikut melorot.
"Aunty."
Karin tidak dapat lagi menahan beban tubuhnya. Dan tidak mampu lagi untuk berdiri. Terpaksa tubuhnya meringkuk serta membawa tubuh mungil itu meringkuk dalam dekapannya.
"Aunty!" panggil bocah kecil itu. Matanya sedetik melirik ke arah Vikram yang berdiri di atas sana. Netra kecil itu melihat sebuah benda runcing yang berselaput cairan merah kental.
Menyadari tatapan Syena, Karin langsung menarik Syena dalam dekapannya. Menenggelamkan kepala kecil itu dalam dada bidangnya.
"Tutup mata lagi ya! Aunty ingin tidur sejenak," ucap Karin lirih. Wajahnya begitu pucat namun Karin masih bisa menampakkan senyumnya.
"Berhenti!"
Suara bariton terdengar keras. Beberapa anggota berseragam berbaris lengkap dengan senjata apinya. Karin masih bisa mendengar suara itu.
"Saudara Vikram anda kami kepung. Jangan bergerak!"
Vikram tidak peduli dengan teriakan dan ancaman polisi itu. Satu tangannya kembali terangkat dan siap menghunus benda tajamnya itu.
Karin bisa merasakan langkah Vikram yang mendekati tubuhnya. Tangan Karin langsung menutup telinga Syena, seolah tahu apa yang akan terjadi. Dan Karin tidak ingin Syena mendengar atau melihat kejadian yang tidak layak ia lihat dan suara yang Syena dengar.
Hingga terdengar suara tembakan yang menggema memenuhi se isi ruangan. Para polisi berhasil membidikkan pistolnya pada Vikram membuat tubuhnya langsung bersimpuh. Terduduk lemah diatas lantai.
Para petugas polisi langsung berlari menghampiri Vikram dan mengamankannya.
__ADS_1
Dalam waktu bersamaan Rio muncul bersama Dinda, Danun, dan juga Rey.
"Syena!" teriak Dinda yang langsung berlari kearah Syena yang berada di pekukan Karin.
"Mama!" Mendengar suara Dinda bocah itu langsung bangkit dari tidurnya.
"Aunty bangun. Ada Mama," ucap Syena sambil menggoyang-goyangkan tubuh Karin yang sama sekali tidak ada respon.
"Aunty"
"Syena! Karin!" Dinda terkejut melihat keadaan Karin yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mama Aunty tidur Ma."
"Karin! Karin bangun."
"Cepat bawa Syena pergi. Biar aku yang membawa Karin," ucap Rio, yang langsung memangku tubuh Karin. Namun sebelum itu Rio, membuka dasinya untuk ia ikatkan pada punggung Karin yang terluka.
"Pendarahan nya cukup banyak." Rio segera memangku Karin membawanya kedalam mobilnya.
Begitu pun dengan Dinda yang langsung membawa Syena kedalam mobil Danu.
"Syena! Dinda biarkan aku melihat Syena."
"Tidak akan ku biarkan kamu mendekatinya lagi." Ucap Dinda dengan tatapan tajamnya.
"Pak Danu tolong bawa Syena ke mobil."
"Baik Dinda."
Danu membawa Syena. Sedangkan Dinda masih menatap tajam Rey, di hadapannya. Rasa kesal, amarah dan emosi yang siap diluapkan.
"Kamu tahu kesalahanmu apa kan Rey? Kamu sama sekali tidak bisa menjaga Syena. Lihat apa yang terjadi hari ini. Syena di culik dan hampir saja terluka. Itu semua karena kamu Rey, yang tidak bisa menjaga Syena."
"Dinda aku minta maaf. Tapi tolong izinkan aku melihat Syena."
"Tidak akan pernah."
Setelah mengatakan itu Dinda melangkah pergi memasuki mobil Danu. Rey, hanya bisa meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri.
Flashback on
Rio menatap kepergian mobil Karin dari apartemennya. Cukup mengherankan dan membuat bingung ada apa dengan Karin yang terlihat panik.
Tubuhnya langsug berbalik kembali berjalan ke arah kantornya. Tiba-tiba Rio mendapatkan pesan dari kasus yang sedang di selidikinya.
Tentang Vikram yang mencelakai mobil Karin dan Dinda. Polisi memberitahukan bahwa ada seseorang yang melihat Vikram di sebuah taman wahana dan membawa seorang anak kecil. Vikram telah menculiknya.
Polisi itu pun memperlihatkan foto seorang anak yang telah di culik. Matanya seketika membulat sempurna saat tahu jika itu adalah Syena.
Rio bergegas pergi dan menghubungi polisi untuk mencari jejak kemana Vikram pergi. Setelahnya Rio menghubungi Dinda tentang keadaan Syena yang di culik. Namun Rio tidak tahu jika Karin telah menuju ke lokasi dimana Vikram bersembunyi dan menyekap Syena.
Namun pada akhirnya mereka bertemu di tempat itu. Rio harus melihat Karin dalam keadaan terluka.
Flashback off
...----------------...
__ADS_1