
Derap langkah terdengar berlarian di lantai bawah. Terlihat semua pegawai yang bekerja di rumah Keluarga Pranoto pada panik. Beberapa orang terlihat keluar dari rumah, menuju sebuah mobil yang siap dilajukan.
"Ada apa ini Bi?" tanya Bian setelah sampai di depan rumah.
"Kenapa Bi?" Lea yang berlari dibelakang Bian ikut bertanya.
"Bi ..." Lea menggoyangkan lengan Yati.
Yati masih dalam kepanikan hanya menunjuk kearah kemana mobil itu melaju meninggalkan rumah. Mulutnya terasa kaku, susah untuk mengucapkan kata-kata. Dan terus menujuk dengan jari telunjuknya.
"Bi apa yang terjadi?" tanya Bian sekali lagi.
"E ... i-itu tuan," ucap Yati terbata-bata.
"Itu apa Bi?" Lea menimpali.
Tingkah Yati membuat Bian dan Lea semakin panik dan penasaran. Bian melangkah mendekati para satpam yang berada di pos satpam. Satpam dan beberapa pekerja laki-laki di rumah itu sedang membicarakan sesuatu disana.
__ADS_1
"Pak ada apa ini?" tanya Bian tergesa-gesa.
"Itu tuan. Nyonya besar tiba-tiba pingsan dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit," ucap Yono.
Mendengar pernyataan singkat dari salah satu satpam di rumahnya itu. Bian langsung berbalik badan, berjalan menuju garasi. Menyalakan mobil miliknya dan melajukan mobil meninggalkan rumah.
"Sayang tunggu!" teriak Lea yang langsung menyusul suaminya.
Lea langsung masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan malam ibukota yang masih saja tampak padat. Klakson mobilnya terus dia tekan selama mengebut di jalan utama ibukota.
"Hati-hati sayang," pesan Lea pada suaminya.
Permintaan Lea tidak dihiraukan oleh Bian. Mobil yang ditumpanginya terus melaju dengan kencang. Tak sedikitpun mengurangi kecepatannya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah segera sampai ke rumah sakit dimana maminya berada.
Sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di Rumah Rakit Medica Internasional. Salah satu rumah sakit elit di kota ini. Yang terkenal dengan kelengkapan medis, kualitas tenaga medis, fasilitas, dan tentunya biayanya yang terbilang sangat mahal.
"Ayo sayang," ajak Bian menarik tangan Lea.
__ADS_1
Kedua pasang kaki itu melangkah cepat menuju UGD. Mengedarkan pandangannya untuk mencari orang yang dikenalnya. Dan segera menyusul orang yang dicarinya yang tidak lain adalah Pranoto.
"Papi bagaimana keadaan mami?" tanya Bian setelah sampai disampingnya Pranoto.
"Bian ... Lea ..." Pranoto berdiri dari duduknya.
"Mami bagaimana Pi?" tanya Lea yang menggenggam tangan Bian.
Pranoto mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian menatap Bian dan Lea secara bergantian. Raut kesedihan tampak jelas pada wajah tuanya.
"Masih menunggu kabar dari dokter," ucap Pranoto.
Bian dan Lea hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ingin bertanya lebih banyak terhadap kondisi maminya sekarang. Bian menuntun Pranoto untuk duduk pada salah satu kursi panjang di ruang tunggu.
"Sayang sini," panggil Bian kepada Lea yang masih termenung ditempatnya semula.
Lea segera mendekat dan duduk bersama Bian beserta papinya. Bian mengelus punggung Pranoto untuk memberikan ketenangan pada papinya. Sementara Lea terdiam dan berdoa agar semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Semoga mami segera pulih," doa Bian dalam hati.
Dan malam ini Pranoto, Bian, dan Lea menginap di rumah sakit itu. Petugas rumah sakit menyiapkan ruang khusu VIP untuk salah satu pemegang saham di rumah sakit itu. Sehingga mendapatkan pelayanan yang lebih dibandingkan penunggu pasien biasa.