Life After Married

Life After Married
Asal Usul Keluarga


__ADS_3

"Oliv bagaimana kamu belum jawab pertanyaan papi," Pranoto fokus kembali pada pembahasan latar belakang pacar baru Olivya.


"E ... em ... kenalnya sudah lama sih Pi. Tetapi dekat dan pacarannya baru beberapa bulan yang lalu," jawab Olivya.


"Berapa bulan?" tukas Pranoto.


"Dua bulan, Pi," jawab Olivya.


"Dua bulan sudah berani merencanakan lamaran? Yang benar saja kamu ini?" tutur Pranoto.


"Bukannya bagus Pi, kalau langsung menikah saja daripada kelamaan pacaran?" ucap Olivya.


Pranoto menggelengkan kepala karena tidak habis pikir dengan keputusan sang anak bungsu itu. Bisa-bisa hubungan baru seumur jagung mau serius ke pelaminan. Belum juga mengetahui latar belakang pasangan dia secara lebih mendalam.


"Bagus apanya Oliv? Zaman sekarang banyak laki-laki pembohong. Dan papi tidak mau anak papi menjadi salah satu korbannya," ujar Pranoto.


"Tapi Bryan baik kok Pi," sahut Olivya dengan cepat.

__ADS_1


"Jangan memotong ucapan papi dulu!" seru Pranoto.


"Papi nggak mau tahu pokoknya sebelum jelas latar belakang keluarga pacar kamu. Tidak ada akan lamaran!" imbuhnya.


"Tapi Pi--" lagi-lagi Olivya menyambar dan langsung dipotong kata-katanya oleh Pranoto.


"Jangan potong kata-kata papi dulu!" tegas Pranoto.


Pranoto tampak mengelap bibirnya dengan lap makan yang tersedia dimeja makan. Menandakan dia telah menyudahi sarapannya. Matanya kembali fokus menatap Olivya yang masih sibuk dengan makanan dipiringnya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau untuk mencari tahu semua tentang pacar kamu. Maka papi sendiri yang akan mengerjakan semuanya," ujar Pranoto.


"Jika sudah tahu, serahkan ke papi dan papi akan menyuruh pengawal untuk memeriksa asal usul keluarganya secara detail," imbuhnya.


Mendengar perintah papinya yang terkesan memaksa itu. Sontak Olivya yang tidak terima menghentikan aktivitas makannya dan menoleh kearah Pranoto. Olivya tidak terima dengan papinya yang terbilang over protective dalam urusan pribadinya.


"Lho papi tidak bisa begitu dong!" seru Olivya.

__ADS_1


"Kenapa harus segitunya sih Pi?" tanya Olivya.


"Itu kan urusan pribadi Olivya dan Bryan. Papi tidak perlu ikut campur, apalagi pakai pengawal yang turun tangan. Oliv keberatan dengan hal itu!" tukas Olivya.


"Papi sudah bilang papi tidak mau kecolongan terhadap laki-laki calon menantu papi," balas Pranoto.


"Papi tidak adil! Kenapa cuma Olivya yang ditanya asal usul keluarga pacarnya. Sedangkan Kak Bian tidak?" Olivya tampak kesal dengan papinya.


Pranoto tersenyum simpul mendengar Olivya yang tidak terima dengan keputusan yang akan diambilnya. "Siapa bilang Bian tidak diberlakukan hal yang sama dengan kamu?" ucap Pranoto.


"Jauh sebelum dia menikah. Papi sudah mengulik keluarga Lea," imbuh Pranoto.


"Pokoknya Oliv tidak mau menuruti papi untuk mencari tahu asal keluarga Bryan!" seru Olivya seraya bangkit dari duduknya dan hendak melangkah meninggalkan meja makan.


"Baiklah jika kamu tidak mau. Maka lamaran dan pernikahan dengan dia tidak akan terjadi!" seru Pranoto dengan lantang.


Sontak Olivya yang akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Menghentikan langkahnya sejenak untuk meresapi ucapan sang papi. Namun, tidak lama kemudian dia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda itu. Dengan perasaan yang amat kesal dia kembali ke kamarnya. Dan batal untuk berangkat ke kampus hari ini. Rasanya mood-nya sudah kacau pagi ini.

__ADS_1


Sedangkan di ruang makan semua terdiam melanjutkan sarapan masing-masing. Selain Pranoto yang hendak berangkat bekerja. Mulut Lea rasanya gatal dan ingin menyampaikan apa yang dia lihat tempo hari. Tentang Bryan yang saat ini menjadi kekasih adik iparnya. Namun apa yang ingin dia katakan tidak bisa dia katakan sekarang. Karena suasana yang sedang memanas.


__ADS_2