Life After Married

Life After Married
Bab 129- Mama Baru


__ADS_3

"Maaf karena aku telat menjemput Syena. Mungkin jika aku datang tepat waktu semua ini tidak akan terjadi."


"Bukan salah kamu Mas. Aku kesal saja sama Rey. Semakin hari dia semakin keras kepala." Dinda membuang nafasnya kasar. Lalu duduk di bibir ranjang samping Willy.


Malam ini menjadi malam canggung bagi mereka berdua. Karena kejadian tadi pagi yang sempat menguras emosi. Beruntung keduanya selalu menghadapi semua masalah dengan hati dingin sehingga tidak terjadi pertengkaran.


Kini mereka sama-sama diam. Hingga sebuah deringan ponsel mengejutkan lamunan keduannya.


Willy langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Matanya menyipit, keningnya mengkerut saat melihat sebuah nomor tanpa nama.


"Siapa Mas?" tanya Dinda, yang merasa heran karena Willy tidak juga menjawab teleponnya.


"Tidak tahu, nomor tanpa nama," jawabnya.


"Mungkin klienmu. Jawab saja dulu," titah Dinda, Willy pun mengangguk.


"Aku turun ke bawah. Jika sudah selesai langsung ke bawah kita makan malam bersama."


"Iya, aku jawab telepon dulu sebentar."


Dinda mengangguk lalu beranjak dari duduknya. Melangkah keluar dari kamarnya.


Tangan Willy bergerak mendekatkan ponsel itu pada daun telinganya. Di jawabnya telepon itu yang membuat Willy, tertegun sejenak.


"Halo?"


"Dengan pak Willy?"


"Ya, saya sendiri."


"Apa anda tidak mengenal suara saya. Saya Jessica yang bertemu anda tadi siang."


"Jessica?" Willy tertegun sejenak mencoba untuk mengingat. "Ah, iya saya ingat. Tapi maaf sepertinya saya tidak bisa bicara lama-lama. Jika memang ada yang ingin di bicarakan anda bisa datang ke kantor saya besok."


"Tu-tunggu." Baru saja Jessica hendak bicara Willy sudah menutup teleponnya terlebih dulu. Kedua bibirnya langsung mengatup saat mendapatkan penolakan dari Willy.


"Pria ini aneh. Dia langsung menutup teleponnya begitu saja. Padahal aku belum selesai bicara, sudahlah biar besok aku datang saja ke kantornya. Firma hukum New-Dream." Bibirnya mengulum senyum sambil menatap kartu nama yang sempat Willy berikan.


****


"Bi makan malamnya sudah siap?"


"Sudah Non. Sudah Bibi siapkan di meja makan. Kalau begitu Bibi permisi ke belakang ya Non." Seorang wanita dengan pakaian sederhana berkata sambil merengkuhkan badannya. Wanita itu adalah asisten rumah tangganya yang selama ini membantunya.


"Makasih ya Bi." Kata Dinda dengan senyuman.

__ADS_1


"Sama-sama Non." Wanita itu pun melangkah pergi.


Dinda melangkahkan kakinya menuju meja makan. Di lihatnya bermacam-macam hidangan di atas meja, semua menu sungguh menggiurkan. Namun kursi masih terlihat kosong tanpa penghuni.


"Syena!" panggil Dinda sambil melangkah menuju ruang keluarga. Terlihat TV berukuran 32 inch menyala yang memutar gambar kartun. Sudah bisa di tebak siapa lagi yang menonton jika bukan putri kecilnya.


Syena terlihat duduk di atas sofa sambil menonton serial kartun kesukaannya.


"Pantesan Mama panggil gak nyahut. Ternyata sedang asyik nonton TV." Dinda berkata lalu mendaratkan bokongnya di atas sofa. Tatapan matanya tertuju pada Syena yang tertawa renyah.


"Ketawa mulu nih anak Mama. Kita makan dulu yuk sayang," ajak Dinda lalu berdiri meraih tangan Syena untuk ia tuntun. Tubuh kecil itu langsung turun dari atas kursi.


"Matiin dulu sayang TV-Nya. Pinter anak Mama," ucapnya setelah Syena mematikan TV-Nya. Lalu mereka berdua melangkah menuju meja makan.


Dalam waktu bersamaan Willy turun dari lantai atas. Mereka berjalan bersama-sama menuju meja makan.


"Mama?"


"Iya sayang."


"Aku punya mama baru lagi," ucap Syena membuat Willy dan Dinda saling pandang. Sedetik sendok dan garpu mereka simpan, hingga mulut yang bergoyang berhenti mengunyah.


Namun tidak dengan Syena yang masih menikmati makanannya.


"Mama baru. Maksudnya apa sayang?" tanya Dinda.


Di gesernya piring di depannya. Kedua tangannya langsung melipat di atas meja. Tatapan matanya semakin fokus pada Syena. Mulut mungilnya masih fokus menguyah.


"Syena, tatap Mama sayang." Syena pun langsung mendongak menatap melakukan apa yang Dinda perintahkan.


"Maksud Syena apa punya Mama baru?"


"Tadi waktu jalan sama papa. Papa Rey, bawa mama baru."


"Mama baru." Kening Dinda mengerut. "Maksudnya Mama Velove?"


"Bukan Ma, orangnya beda. Cantik, muda, baik. Deket banget sama Papa. Bahkan tadi saat anter pulang papa cium sayang Ma."


Maksud cium sayang Syena adalah, mengecup kening atau pipi yang biasa dilakukannya oleh Dinda, atau Willy padanya. Dan Syena selalu menyebutnya cium sayang.


Dinda langsung terdiam. Pikirannya saat ini kembali teringat pada perlakuan Rey saat di perusahaan. Dinda memang tidak tahu siapa wanita itu karena tidak melihat wajahnya.


Namun Rey, sudah berani memperkenalkan Syena pada wanita itu.


Dinda hanya bisa membuang nafasnya kasar. Lidahnya kini sudah tidak berselera. Namun Dinda masih tersenyum di saat hatinya kini sedang merasa kesal.

__ADS_1


"Habiskan makannya sayang."


"Iya Ma."


"Apa kamu mengenal wanita yang dimaksud Syena?" tanya Willy sedikit berbisik.


Dinda langsung mendekatkan bibirnya ke samping telinga Willy lalu berbisik. "Aku tidak tahu pasti. Sepertinya wanita itu kekasih Rey."


"Apa! Bukankah Rey …," ucap Willy yang tertahan. Karena tangannya digenggam oleh Dinda.


"Apa kamu lupa Mas, itu juga yang dilakukan Rey dulu. Namun aku sangat kesal. Beraninya Rey memperkenalkan wanita itu pada Syena. Bagaimana tanggapan Syena? Kamu tahu sendiri kan tadi Syena bilang apa? Mama baru."


"Anak kecil tidak tahu apa pun. Dan tidak seharusnya Rey, mengecup kening wanita itu dihadapan Syena."


"Bagaimana lagi Syena sudah melihatnya. Lebih baik kita membenarkan apa yang sudah dilihatnya." Willy semakin bingung. Masalah Rey, semakin merambat.


*****


Di tempat lain Rey, sedang asyik merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan satu ponsel yang di genggamnya.


Bibirnya terus melengkung. Entah apa yang membuatnya tertawa. Tanpa disadari seorang wanita sedang memperhatikannya.


"Asyik banget sedang balas pesan siapa?" tanya Velove, yang langsung mengambil benda pipih itu di tangan Rey.


"Siapa yang kirim pesan aku sedang bermain game," ucapnya berbohong.


Mata Velove masih fokus pada layar ponsel. Satu tangannya terus bergerak menggeser ke atas layar itu. Dilihatnya beberapa nama pada sebuah chat aplikasi biru. Namun, tidak ada satu pun yang membuatnya curiga.


Setelah merasa puas mengecek, Velove langsung memberikan ponsel itu pada Rey.


"Jangan main game terus." Katanya seraya mengusap lembut perut buncitnya.


"Hanya sebentar," sahut Rey, yang langsung mengecek ponselnya.


"Sayang, tolong dong pijitin, punggungku terasa sakit." Velove terus mengusap punggungnya. Satu tangannya memijat-mijat pinggangnya. Kehamilan yang sudah membesar membuat tubuhnya merasakan sakit seperti pegal dan lainnya.


Velove langsung duduk di atas ranjang. Berharap Rey sudah siap memberikan pijitan untuknya.


"Sayang cepat dong."


"Iya sebentar." Setelah mengecek ponselnya tubuh Rey, segera bergerak mendekati Velove. Kedua tangannya mulai bergerak memijat punggung istrinya.


Tanpa Velove tahu ada satu nama dan pesan pada aplikasi biru. Namun nama itu tidak terlihat mencurigakan. Rey, hanya tersenyum karena hubungannya aman.


...----------------...

__ADS_1


Maaf reader kalau banyak typo di part ini. Mata author sudah ngantuk banget nih jadi gak fokus. Biar besok author revisi jika ada typo dari penulisan. 🙏


__ADS_2