Life After Married

Life After Married
Bab 156


__ADS_3

"Kamu bohong Dinda, sebenarnya kamu tahu 'kan! Hubungan mereka dari awal tapi kamu tidak ingin memberitahuku. Mungkin jika aku mengetahui ini dari awal aku bisa menghentikannya. Tapi sekarang … sudah terlambat. Rey sudah pergi dan ku yakin bersama wanita itu. Aku hanya kasihan pada Bian, dia masih kecil apa kamu tidak memikirkan itu Dinda?" 


Sedetik mata Dinda mendelik, menatap tajam pada wanita di hadapannya. 


"Apa kamu lupa? Dulu, Syena juga masih kecil apa kamu memikirkan itu?" 


Seketika bibirnya bungkam. Sorot mata tajam mereka saling menatap. Velove, tidak pernah berpikir tentang perlakuannya di masa lalu. Mungkinkah Velove, akan merenung menyadari kesalahan dan meminta maaf, atau sebaliknya. Hati kerasnya semakin benci pada Dinda.


"Jadi benar, kamu sudah tahu tentang hubungan mereka?" 


"Jika kamu terus menanyakan hal itu, percuma, karena aku tidak tahu keberadaanya. Lebih baik kamu pergi, cari Rey di tempat lain." 


"Aku akan menunggu di sini, aku yakin Rey, akan datang." 


"Apa mau mu?" tanya Dinda kesal. Bukannya menjawab, yang Velove lakukan adalah mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Rey, dan akan mengatakan jika dirinya ada di kediaman Dinda, supaya Rey datang. 


Namun Dinda tahan, dengan mengambil alih ponsel itu. 


"Apa maksudmu menghubungi Rey!" 


"Karena ku yakin jika Rey, tahu dimana aku sekarang dia akan datang." 


"Lebih baik kamu pergi! Urus saja masalahmu bersama Rey. Jangan membawa-bawa masalah itu ke rumahku. Pergi!" 


Dengan kesal Velove berdiri, mata tajam itu mendelik pada Dinda. Lalu merampas ponsel miliknya dan pergi. 


Tubuh Dinda terduduk lemah, bersamaan dengan itu nafas kasar ia hembuskan. Matanya terpejam sesaat untuk menenangkan hatinya. 


*****


Di tempat lain Rio dan Karin duduk berdampingan. Tatapan keduanya tertuju pada Syena yang bermain ayunan. Sesekali netra Rio mencuri pandang, dulu tangannya berani memeluk, menggenggam, namun tidak untuk saat ini. Yang hanya bisa menatapnya dalam diam.


"Aku akan menikah dalam waktu dekat," ucap Rio, membuat Karin menoleh seketika. 


"Menikah?" tanya Karin yang masih terkejut dengan pengakuan Rio. Rio, melirik padanya lalu mengangguk. 


"Ya," jawabnya datar.


"Selamat aku harap kamu akan bahagia, bersama wanita pilihanmu nanti." Karin merasa gugup. Entah kenapa hatinya begitu sakit, nafas terasa sesak dan air mata mulai membendung. Namun, tetap coba ia tahan. 


Rio, tersenyum miris. Bukan jawaban itu yang ingin dia dengar. 


"Wanita pilihan? Bahkan aku juga tidak tahu siapa wanita itu. Kami dijodohkan dan sama sekali belum saling mengenal. Apa kamu yakin aku akan bahagia?" 


"Ya, pilihan orangtua adalah pilihan yang terbaik. Belum tentu, menikahi wanita yang kamu cinta hidupmu akan bahagia. Contohnya aku, aku mencintai Vikram dan tetap menikah walau tanpa restu orangtuaku. Aku yakin aku akan bahagia bersamanya tapi nyatanya hubunganku kandas, dia mengkhianatiku, bahkan melukaiku. Jadi tetaplah pada pilihan orangtuamu." 

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Karena itulah aku menerima perjodohan ini. Pilihan orangtua tidak akan salah." 


Perih, itu yang Rio rasakan. Ingin rasanya ia mendengar 'Berjuanglah denganku, aku mohon batalkan perjodohan itu' kata-kata itu yang Karin ucapkan. Namun nyatanya ucapan selamatlah yang Karin katakan.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu akan segera menikah juga?" 


"Entahlah. Aku belum memikirkan hal itu." 


"Apa kamu masih mencintai lelaki itu?" 


Sedetik tatapan mereka bertemu. Karin hanya diam, sedangkan Rio tetap memandang. 


"Cinta? Luka yang ditusukkan pada perut ini masih ku ingat. Kejadian buruk itu masih terbayang. Apa aku terlihat masih mencintainya? Justru rasa takutlah yang ku rasakan bukan cinta." 


Yah, bayang-bayang masalalu masih menghantuinya. Bahkan setiap malam mimpi buruk itu selalu hadir, selama ini hidup Karin masih belum tenang. 


"Aku permisi ke toilet sebentar, tolong jaga Syena." Rio, hanya diam saat Karin pergi meninggalkannya. Sedangkan Karin melangkah cepat memasuki toilet yang ada disekitar taman. 


Sedetik tubuhnya terjatuh lemah pada permukaan lantai, bendungan air mata yang tertahan seketik tumpah. Nafas yang sesak mulai naik turun menyeimbangkan emosinya. 


Berpura-pura bahagia, namun hatinya begitu sakit saat mendengar lelaki yang dia cinta akan segera menikah. Begitu pun dengan Rio, setetes butiran bening jatuh dari sudut matanya. 


"Om! Om nangis?" 


Rio, segera menghapus air matanya saat Syena berada di dekatnya. 


"Aku lihat Om." 


"Mata Om kelilipan." 


"Oh, dimana Aunty Om?" tanya Syena, kepalanya celingukan mencari Karin. 


"Ke toilet," jawab Rio. 


Tidak berselang lama Karin datang, yang memberitahukan jika Syena harus segera pulang. Karena Dinda menunggu. Mereka pun pergi bersama, Rio dan Karin membisu, tidak ada percakapan apapun antara mereka yang ada hanyalah keheningan. 


****


"Bu Dinda?" panggil Ijah membangunkan Dinda, yang tertidur di depan teras. Matanya mengerjap seraya memegang punggung leher yang terasa sakit karena bersandar pada dinding. 


"Bik."


"Bu Dinda kenapa tidur di sini?" 


"Ketiduran Bi, tadi cari Bibi gak ada. Apa Syena sudah pulang?" 

__ADS_1


"Gak tahu Bu, Bibi baru nyampe. Beli mangga muda sama jeruk pesanan Bu Dinda." Kata Bi Ijah yang menunjukkan kedua kantong kresek belanjaannya. 


"Oh iya. Bikinin rujak sekarang ya Bi." 


"Iya Bu. Tapi Bu Dinda sudah makan 'kan?" 


"Sudah dikit." 


"Ya udah, Bibi kedalam dulu ya. Mau buat rujaknya." Dind mengangguk, Bi Ijah pun melangkah memasuki rumah. 


Dinda sudah berdiri dan hendak melangkah, namun kedatangan Willy, membuatnya terhenti untuk menunggu suaminya. 


Willy turun dari mobil lalu berjalan ke arah Dinda, yang tersenyum ke arahnya. 


"Baru pulang Mas?" tanya Dinda, yang langsung mencium punggung tangan suaminya. 


"Kamu kok diluar?" 


"Nunggu Syena, ketiduran. Syena nya mana Mas?" 


"Memangnya Syena belum pulang?" 


"Belum." 


"Tadi aku suruh Karin untuk jemput, aku pikir sudah pulang. Biarku telepon lagi," ujarnya yang siap mengambil ponsel untuk menghubungi Karin. Namun tertunda, karena Karin dan Rio sudah datang. 


Syena turun dari mobil itu berlari, berteriak memanggil papa dan mamanya. Sedangkan Willy, merasa heran dengan kebersamaan Rio dan Karin. 


"Mama Papa tadi aku jalan-jalan dulu sama Om dan Aunty." 


"Mama pikir kamu kemana. Karin makasih ya sudah jemput. Ada Rio juga?" 


"Kalian kenapa bisa barengan?" tanya Willy yang langsung di jawab Rio. 


"Bukannya kamu mengirim pesan padaku, dan kamu mengirim pesan juga pada Karin?" 


Willy pun mengerti, lalu tergelak. 


"Aku pikir kamu tidak menerima pesan itu. Ya sudah aku pinta saja Karin untuk menjemput Syena. Ternyata kalian jadi bersama, seharusnya kamu senang dong Rio." 


"Jadi kamu juga yang membuat ban mobilnya kempes?" 


"Soal itu aku tidak tahu." Willy mengelak sambil menggeleng cepat. 


Mereka pun memasuki rumah. Dinda membawa Karin ke kamarnya. Dan saat tiba di dalam kamar, tangisan Karin kembali pecah seraya memeluk sahabatnya itu. 

__ADS_1


Dinda tidak mengerti apa yang terjadi pada Karin. Setelah tangisannya mereda, Dinda mencoba bertanya masalah apa yang sedang Karin hadapi. Dan jawaban yang Karin berikan sangat mengejutkan.


__ADS_2