Life After Married

Life After Married
Kepergok


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gigi datang untuk memberikan kabar kepada Bian bahwa semua bukti yang menyatakan bahwa Bian tidak bersalah sudah lengkap. Tinggal diajukan dalam persidangan yang akan dilaksanakan minggu ini. Berarti tinggal menunggu hitungan hari Bian akan segera bebas.


"Pinter kan gue? Padahal baru sehari ngurus masalah lo, tapi semua sudah beras," ucap Gigi membanggakan diri.


Betapa senangnya Bian mendengar berita yang disampaikan Gigi kepadanya. Tidak sabar rasanya ingin berjumpa dengan sang istri tercinta. Kemudian menghabiskan hari-harinya dengan bermesraan dengannya. Ah sungguh indah, pikirnya.


Memikirkan hal itu membuat sampai-sampai membuat Bian melamun dan senyum sendiri. Gigi pun segera menyadarkannya dari lamunan. Tangannya dia lambaikan tepat didepan wajah Bian. Rupanya Bian melupakan sesuatu, sampai Gigi harus mengingatkannya.


"Gue sudah nggak sabar akan menjadi istri Tuan Sabian," ucapnya sumringah.


Bian menautkan alisnya dan tertegun mendengar penuturan Gigi. Ingatannya kembali pada perjanjian yang dibuatnya kemarin dengan Gigi. ****** gue lupa, batinnya.


"Gue kan harus nikahin dia, kalau dia berhasil membebaskan gue dari penjara," gumamnya dalam hati sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bian, lo masih ingetkan sama janji kita tempo hari?" tanya Gigi.


"E...e...iya inget kok," jawabnya gugup.


"Bagus deh kalau gitu."

__ADS_1


Kembali Bian tak bergeming memikirkan keputusan bodoh yang sempat dia ucapkan. Mana Gigi memberi waktu sehari saja untuk menjelaskan semuanya pada Lea. Apakah Lea bisa menerima semua ini? Ah jika Lea tidak mau dimadu bagaimana ya? Pikiran-pikiran itu menghantuinya secara bersamaan.


"Sayang tar pernikahan kita sederhana dulu saja ya. Yang penting sah dulu, nanti pestanya nyusul saja," tutur Gigi.


Gigi sempat kesal karena Bian sama sekali tidak merespon ucapannya. Malahan pria itu sibuk melamun, entah apa yang dipikirkannya. Sampai-sampai tidak sadar dengan lambaikan tangan Gigi. Sebelum akhirnya dibentak oleh Gigi, "Heh sayangku! Kamu kenapa?"


"E...e... tidak apa-apa kok," jawabnya gugup.


"Kamu dengar apa yang aku katakan barusan?" tanya Gigi.


"Hehe... memangnya kamu mengatakan apa?" Bian balik bertanya.


"Maafkan gue ya. Gue sedang banyak pikiran."


Keduanya melakukan perbincangan untuk persiapan sidang. Beberapa berkas dibawa Gigi untuk ditunjukkan kepada Bian. Tidak lupa Gigi juga sudah menghubungi Hendra untuk mengurus semua bukti yang sudah orang suruhan Gigi kumpulkan.


Setelah semua dirasa cukup, Gigi berpamitan kepada Bian untuk pulang. Tanpa persetujuan Bian, perempuan itu memeluk tubuh Bian dengan sangat erat. Pria yang dipeluknya itu tak bergeming, hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Gigi.


"Aku sayang banget sama lo. Sejak dulu sampai sekarang rasa sayang gue sama lo nggak pernah hilang," tutur Gigi masih dalam pelukan Bian.

__ADS_1


Dengan perlakuan Gigi padanya Bian langsung kepikiran istrinya. Bagaimana nanti jika istrinya tahu mengenai hal ini. Bian sungguh tidak mau menyakiti hati Lea.


"Sayang peluk aku balik dong," pinta Gigi seraya menggerakkan tangan Bian memeluk tubuhnya.


Lama sekali mereka berpelukan seperti itu. Ingin rasanya Bian melepaskan pelukan Gigi yang sangat erat itu. Seakan tidak mau dilepaskan, Gigi pun menolak, "Tolong jangan lepasin dulu. Gue nyaman."


Dan Bian lagi-lagi kembali pasrah dengan keadaan. Sungguh ini bukan Bian yang biasanya keras kepala dan pemberontak. Seolah terbius dengan semua yang dikatakan Gigi.


Tiba-tiba Bian sadar tatkala matanya menangkap seorang perempuan berkacamata hitam yang berdiri di depan pintu masuk. Meskipun mengenakan kacamata hitam, namun jelas sekali terlihat bahwa dia sedang berlinang air mata. Sontak Bian melepaskan pelukannya dengan Gigi.


"Lea..." panggil Bian.


Perempuan itu memundurkan langkahnya, berbalik badan, kemudian menjauh dari ruangan itu. Bian berlari ingin mengejarnya, namun apa daya saat petugas keamanan menangkap dirinya dan secara paksa memasukannya lagi ke dalam penjara. Memberontak sekuat tenaga pun rasanya percuma. Karena Lea sudah pergi menjauh dari hadapannya.


Yang bisa dilakukan Bian sekarang hanya meronta dan memanggil-manggil nama sang istri. Sungguh hancur rasanya melihat Lea yang tersakiti olehnya. Belum juga Bian menjelaskan semuanya pada Lea. Namun, dia melihat saat Bian berpelukan dengan Gigi di depan matanya sendiri.


"Gue memang bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.


"Argh...."

__ADS_1


__ADS_2