
Rumah Sakit
Karin mengerjapkan matanya. Perlahan tubuhnya terbangun lalu duduk. Di pandangnya setiap sudut ruangan yang merasa asing baginya. Banyak brankar yang berjajar, bau khas rumah sakit yang menusuk hingga alat-alat medis yang berjajar di tempat itu.
"Apa aku di rumah sakit?" monolognya. Tiba-tiba rasa nyeri terasa di bagian pelipisnya. Saat di sentuh ternyata pelipisnya sudah berlapis perban.
Sedetik Karin, teringat Dinda. Hingga netranya terus menyapu setiap ranjang pasien di UGD berharap menemukan orang yang dia cari.
"Kemana Dinda?"
Karin, ingin turun dari ranjangnya namun kakinya terasa lemas begitu pun seluruh otot-otot tubuhnya. Membuatnya tidak mampu untuk bergerak.
"Kenapa tubuhku lemah seperti ini. Dimana Dinda? Aku harus menghubungi pengacaraku dimana ponselku."
Di saat dirinya mencari ponsel tiba-tiba tangan seseorang memberikan benda yang Karin cari. Di tengoknya wajah orang itu yang tak lain adalah Rio.
"Kamu! Ngapain di sini?"
"Kamu pikir saya mau ada di sini. Jika bukan karena teman mu aku tidak akan menunggu orang yang tidak penting seperti mu. Cepat ambil ponselmu dan ini semua barang-barang mu."
Rio, memberikan satu buah handphone dan satu tas yang di serahkan pada Karin. Setelah itu Rio, berlalu pergi namun langkahnya terhenti karena Karin.
"Tunggu kamu mau kemana?" Pertanyaan itu membuat Rio, membalikkan badan nya.
"Aku hanya menunggumu sampai bangun. Sekarang kamu sudah bangun dan selesai sudah tugas ku. Aku akan pergi."
"Hei!" Lagi-lagi Karin menghentikan langkah Rio.
"Apa lagi?" tanya Rio, dengan kesal.
"Apa kamu tega meninggalkan ku. Tubuh ku sangat lemah dan aku baru saja mengalami kecelakaan. Apa seorang pengacara tidak kasihan melihat wanita seperti ini."
Rio, menarik nafasnya dalam.
"Lalu apa mau mu?"
"Antar aku pulang. Mobilku rusak dan aku tidak punya siapa-siapa di sini."
"Bukankah kamu akan menghubungi pengacaramu."
"Ya … kalau sudah ada pengacara di sini. Kenapa aku harus menghubungi pengacara yang lain."
"Menyebalkan," gumam Rio, kesal. Namun langkahnya berjalan untuk membantu Karin turun dari ranjangnya. Dengan terpaksa Rio, memberikan Karin tumpangan.
*****
Dalam mobil Dinda dan Willy sama-sama diam tidak ada percakapan antara mereka. Dinda merasa canggung jika hanya berdiam diri seperti ini. Akhirnya Dinda membuka suara.
"Willy?"
"Ya," jawab Willy, singkat. Dengan tatapan yang masih fokus ke depan.
__ADS_1
"Terima kasih selama ini aku sudah merepotkanmu."
"Merepotkan? Merepotkan apa?"
"Aku tahu kamu yang membayar semua pengobatan Syena, tanpa menulis nama mu. Kenapa kamu merahasiakan itu?"
"Soal itu. Berbuat baik tidak perlu di umbar 'kan. Lagian aku tulus membantu kalian, jika kamu tahu aku yang membayarnya mungkin kamu akan menolak dan menambah beban pikiran karena harus membayar. Aku tidak suka itu karena kamu pasti merasa terbebani."
Willy, berkata dengan kedua tangan yang masih fokus menyetir. Sesekali ia melirik pada Dinda di sampingnya. Lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Aku punya nazar saat itu. Jika aku bertemu dengan seseorang yang menolongku waktu itu jika perempuan akan ku jadikan saudaraku dan jika lelaki …." Perkataan Dinda tertahan karena malu untuk mengatakannya.
"Jika lelaki apa?"
"Hm … jika lelaki … lelaki … akan ku jadikan kakak ku." Ujar Dinda, sambil nyengir. Sontak Willy tertawa.
"Nazarku memang konyol ya," ujar Dinda yang sangat malu. Mengatakan akan menjadikannya kakak saja Willy sudah tertawa apa lagi jika Dinda katakan nazar sebenarnya yang akan menjadikan suaminya. Mungkin Dinda tidak akan bisa menutup wajahnya karena malu.
"Tidak … tidak … itu lucu," sanggah Willy, menghentikan tawanya sejenak.
"Jadi sekarang apa aku kakakmu?" tanya Willy yang masih tertawa renyah. Membuat Dinda, semakin malu.
"Aku pikir kamu akan bilang jika siapa saja yang menolongmu membayar pengobatan anakmu jika laki-laki akan kamu jadikan suami. Seperti dalam cerita legenda itu apa namanya ya aku lupa."
"Memang itu nazar ku sebenarnya tapi aku malu mengatakannya Willy," batin Dinda.
"Jika nazarku yang sebenarnya itu. Apa kamu akan jadi suamiku?"
Hahaha … tawa Dinda, terpaksa.
"Aku bercanda. Maaf aku sudah mengejutkanmu. Ayo kita jalan lagi aku takut ibu menunggu."
Willy hanya menatapnya bingung hatinya saat ini seperti di permainkan. Ada rasa berdebar dalam hatinya namun hanya sesaat setelah kata candaan muncul menghilangkan debaran jantungnya.
Dinda, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Hatinya saat ini bertalu-talu jantungnya berdebar tidak menentu. Hembusan nafas perlahan Dinda keluarkan hanya untuk menetralkan detak jantungnya.
Mobil yang mereka tumpangi belum juga membunyikan asal suaranya. Menandakan mobil ini masih diam di tempat. Membuat Dinda, menoleh ke samping kanannya Willy, masih diam bergeming.
"Willy? Ada apa kenapa kamu tidak menjalankan mobilnya?"
"Apa menurutmu hati ini hanya untuk candaan."
"Maksudmu?" Dinda semakin gugup. Saat Willy, mendongak menatap nya penuh cinta.
"Apa nazarmu yang sebenarnya katakan."
"Nazar!"
"Katakan Dinda, aku ingin tahu. Bukankah seseorang yang bernazar harus di tepati." Willy, berkata dengan datar. Tanpa berkedip atau tersenyum.
Dinda semakin gugup dan hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Jika aku bertemu dengan orang yang sudah membayar pengobatan Syena aku akan ucapkan terima kasih. Namun aku juga bernazar jika seorang wanita aku akan menjadikan nya saudara. Dan jika orang itu laki-laki aku akan menjadikannya suami ku."
Dengan gugup Dinda, berkata. Tatapan Willy, semakin tidak bisa di artikan.
"Dan laki-laki itu adalah aku. Aku akan menepati nazarmu."
Dinda membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang Willy katakan.
"Apa maksudnya apa dia akan menjadi suamiku?" tanya nya dalam hati.
Kedua wajah mereka saling mendekat. Membuat kedua mata masih saling bertatapan. Tidak peduli banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, cuaca panas seakan tidak terasa. Di dalam mobil yang seharusnya terasa panas namun tidak dengan Willy, dan Dinda yang terasa dingin, adem, dan nyaman.
Dada Dinda, semakin naik turun, kegugupan nya semakin terasa saat wajah Willy semakin mendekat. Matanya semakin membulat, bibirnya semakin ia rapatkan saat jarak bibir keduanya begitu dekat dan hampir rapat.
Sedetik kedua matanya langsung Dinda pejamkan. Seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun bibirnya tidak merasakan sentuhan apa pun. Membuat Dinda kembali membuka matanya.
Di lihatnya Willy yang tersenyum kepadanya. Lalu memundurkan tubuhnya kembali pada kursinya. Dinda merasa malu seperti sangat berharap jika Willy akan menciumnya.
"Aku tidak akan menyentuhmu sebelum aku menjadi suamimu."
Perkataan Willy membuat angan-angannya terbang setinggi langit. Entah memang tuhan yang mengirimkan lelaki seperti Willy untuknya. Lelaki yang benar-benar menjaga kesucian seorang wanita membuatnya terenyuh.
Bolehkah Dinda percaya jika lelaki seperti Willy tidak akan mengkhianatinya.
Dengan wajah bahagia Willy, kembali melajukan mobilnya menuju apartemen milik Dinda. Hati Willy memang sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bibirnya terus melengkung menciptakan senyuman indah tanpa henti. Hingga mobil mereka berhenti di depan kantor New-Dream.
"Kita sudah sampai. Ibu dan Syena ada di dalam." Kata Willy yang membuka seatbeltnya.
"Tunggu Willy, aku bingung dengan hubungan kita maksudku …" ucap Dinda tertahan.
"Aku juga bingung siapa tadi yang melamar. Karena kamu yang bernazar. Kalau begitu aku ulangi Dinda Kirana aku mau menjadi suamimu." Kata Willy di iringi dengan senyuman. Membuat kedua lesung pipinya terlihat indah, manis, dan tampan.
"Tapi … kamu tidak bercanda kan? Aku sudah pernah menikah dan mempunyai anak apa itu tidak masalah?"
Dinda merasa ragu dan takut jika statusnya akan menjadi penghalang hubungannya.
Willy, menarik nafasnya dalam lalu berkata seraya menatap Dinda.
"Aku sudah tahu tentang itu. Kita sudah mengenal cukup lama. Baiklah akan aku katakan lagi, dengarkan baik-baik. Aku akan menjadi suami untukmu dan ayah untuk Syena."
Seketika bulir air mata turun begitu saja pada sudut matanya. Dinda merasa sedih juga bahagia. Dinda pikir masa lalu pahit akan membuatnya trauma namun kata-kata Asih selalu di ingatnya. Untuk membuka hati dan memulai hidup baru Semoga ini lah awal dari kehidupan barunya.
Satu jemari dengan lembut menyeka air matanya. Dengan tulus Willy, menghapus tangisannya.
"Jangan menangis nanti ibumu khawatir " ucap Willy, seraya merapikan rambut Dinda yang sempat berantakan dan menghapus air mata nya yang sempat berderai.
Dinda dan Willy pun segera turun dari mobil. Melangkah bersama kedalam kantor New-Dream.
...----------------...
Kasih hadiah dong buat Dinda dan Willy yang lagi bahagia-bahagianya. Hehe
__ADS_1
Like, komentar dan votenya jangan lupa ya reader di tunggu loh dukungannya