Life After Married

Life After Married
Season 2 Jungleland


__ADS_3

"Yeay! Kita sampai."


Reyhan sangat antusias ketika turun dari mobil. Melihat wahana Jungleland yang besar. Hingga Angel dan Jo harus mengejarnya.


"Reyhan jangan lari!" teriak Angel.


"Tidak apa-apa biar aku yang mengejar," ujar Joshua berlari menyusul Reyhan.


"Ayah Jo! Aku mau naik itu." Tunjuk Reyhan pada sebuah wahana.


"Kamu bebas bermain apa pun, tapi kita tidak bisa menaikinya tanpa tiket," ujar Jo sedikit dengan senyuman.


Bibir Reyhan mencebik lalu melirik pada Angel yang baru membeli tiket. Sedetik senyumnya mengembang. "Lihat! Mama belikan aku tiket. Yeay ... Kita bermain Ayah Jo."


"Oke, oke. Kita tunggu Mama mu dulu."


"Apa kalian tidak bisa masuk? Beli tiket dulu baru masuk."


"Mama!" rengek Reyhan, ketika Angel menahan tiketnya.


"Lain kali jangan lari tanpa Mama mengerti!"


"Hah, oke Mama."


Reyhan cukup nakal dan pandai bersandiwara, bocah itu akan mengangguk ketika di tegur dan kembali berulah saat Angel lengah. Mereka bertiga pun memasuki Jungleland.


Reyhan berlari bersama Jo, lalu menaiki sebuah wahana air, Angel hanya menggeleng ketika di ajak karena dia tidak ingin bajunya basah.


"Mama ayok!"


"Bersama ayah Jo saja," ujar Angel. Reyhan hanya menaikkan kedua pundaknya sebagai tanggapan.


Angel hanya diam di sisi pagar melihat mereka berdua bermain.


Bugh,


"Eh!"


Tiba-tiba seorang anak laki-laki sekitar usia 6 tahun jatuh dihadapan Angel. Angel terkejut yang langsung berjongkok membantu anak laki-laki itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Angel.


Anak laki-laki itu berdiri. "Tidak apa-apa, maaf Tante."


"Hati-hati jangan lari," ujar Angel.


"Iya." Anak itu pun pergi.


"Ke mana orang tuanya? Malah membiarkan anak itu sendirian." Angel berkata seraya menatap kepergian anak itu.


"Mama lihat apa?" tanya Reyhan, saat turun dari permainan.


"Tidak melihat apa-apa," jawab Angel. "Sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah. Permainannya sangat seru," jawab Reyhan dengan suara imutnya. "Mama kita naik itu, Mama juga harus ikut naik."

__ADS_1


"Baiklah ayok."


"Yeay!" Senangnya Reyhan yang menuntun Angel dan Jo bersamaan. Mungkin, bagi orang yang melihat mereka adalah keluarga kecil yang harmonis.


"Bian!" teriak seorang wanita memanggil anak laki-laki yang sempat terjatuh tadi.


"Den, Bian dari mana saja. Jangan kabur lagi nanti Ibu marah sama Bibi," tegur wanita itu sebagai pengasuhnya. Karena orang tua Bian cukup menakutkan.


"Bian, ingin naik itu. Abisnya Mama hanya fokus sama gadget saja, tidak asyik," keluh Bian.


"Bian, bukankah Mama sudah bilang bermain sendiri, jangan libatkan Mama. Kamu bukan anak kecil, kan."


Suara seorag wanita mengalihkan pandangan mereka. Velove terlihat tegas berkata pada putranya, tatapan yang tajam dan wajah yang tidak seramah seorang ibu.


Lima tahun sudah berlalu, Velove yang sempat dirundung karena penyakit bipolar, kini sudah lebih baik. Bian si bayi kecil pun sudah besar, sudah duduk di sekolah dasar.


Namun, sifat Velove yang tidak berubah sangat acuh dan masa bodo pada putranya.


"Jangan buat Mama emosi, Bi Num, temani Bian jangan naik wahana yang membahayakan mengerti," pesan Velove.


"Lalu Mama mau ke mana? Bukankah papa bilang Mama harus menemaniku?"


"Bian ... Mama tidak suka ya, jika kamu manja seperti ini. Mama mau telepon papa dulu, bermainlah sebentar dengan Bi Num, nanti Mama menyusul," kata Velove lalu pergi.


Bian terlihat memendam amarah, kedua tangan mungil itu dia kepalkan lalu pergi dengan amarah.


"Den Bian! Aduh, marah lagi," ujar Bi Num.


...----------------...


Getaran ponsel mengalihkan pandangan Rey, yang hanya melihat nama yang tertera lalu mengabaikan. Rey, sudah bosan dengan sikap Velove yang terlalu over protektif, hal yang ditanyakan tidak akan jauh dari hal-hal negatif.


Velove tidak pernah berubah yang selalu cemburu.


Hingga saat meeting selesai, barulah Rey menjawab panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Rey, pada sambungan telepon.


"Di mana saja? Bian terus menanyakan mu," ujar Velove di seberang sana.


Rey, hanya bisa menghela nafas, Velove tidak pernah mengerti. "Aku baru selesai meeting, di mana Bian?" tanya Rey, yang pasti menanyakan keberadaan mereka karena Bian.


"Kita di Jungleland, datanglah," jawab Velove.


"Aku segera ke sana," ucap Rey, yang langsung menutup sambungan telepon.


"Ada apa Pak?" tanya sang Asisten.


"Aku harus pergi, kamu bisa menghandle semuanya, kan?"


"Apa yang barusan telepon itu Bu Velove?" tanya Dika, Rey hanya mengangguk. Semua karyawan dan teman Rey tahu bagaimana sikap Velove pada Rey, sehingga tidak ada wanita yang berani mendekati Rey.


"Aku pergi dulu," ujar Rey.


"Baik Pak. O ya Pak untuk besok ada pertemuan penting dengan perusahaan Walter grup, jangan lupa katakan pada Bu Velove untuk tidak mengganggu."

__ADS_1


Rey, hanya mengangguk dan tersenyum.


...----------------...


"Ah, lelah sekali," ujar Angel turun dari sebuah wahana. Lalu duduk di antara kursi yang tersedia.


"Mama aku lapar," kata Reyhan yang memelas.


"Kalau begitu kita cari tempat makan."


"Aku mau ice cream Mama," ucap Reyhan membuat Angel menyipitkan matanya.


"Lapar tapi malah ingin ice cream. Ya sudah Mama belikan ice cream dulu, kamu tunggu sama Jo ya."


"Oke Mama," ujar Reyhan dengan gemasnya.


Angel mendatangi sebuah toko yang menyediakan ice cream dan air minum. Angel kembali bertemu Bian yang juga membeli ice cream.


"Tante, baik."


"Halo, kita ketemu lagi. Siapa namamu?" tanya Angel.


"Bian," jawab Bian. Sedetik Angel tertegun, dia teringat Bian, anak Rey dan Velove.


"Tante, beli ice cream banyak sekali," kata Bian ketika seorang pelayan kedai memberikan beberapa ice cream pada Angel.


"Iya, kamu mau? Ambillah." Angel menyerahkan satu buah ice cream.


"Untuk aku?" Tunjuk Bian pada dirinya, lalu mengambil ice cream itu dengan rasa senang.


"Bu, tidak usah kami akan beli juga," ucap Bi Num.


"Tidak apa-apa aku masih punya dua," ujar Angel.


"Untuk siapa Tante?" tanya Bian penasaran


"Untuk anak Tante," jawab Angel..


"Ouh ...," gumam Bian.


Angel pun pamit meninggalkan kedai. Tidak berselang lama Rey, datang membuat Bian senang.


"Papa!"


Teriakan Bian menghentikan langkah Angel, yang menengok ke belakang, tapi Angel hanya bisa melihat punggung Rey, yang membelakanginya.


"Mungkin, nama mereka sama," ucap Angel lalu pergi .


"Papa kok lama? Aku mau naik wahana papa." Bian merajuk.


"Oke, kita naik wahana apa saja yang kamu suka," kata Rey, semakin membuat Bian senang. "Bi di mana Velove?" tanya Rey pada Bi Num, karena Velove tidak menemani Bian.


"Tadi di sana Pak, katanya mau nyusul," jawab Bi Num menunjuk ke arah jalannya Angel.


"Ayok sayang, kita temui Mama dulu." Rey, membawa Bian dal pangkuannya.

__ADS_1


Rey mengambil jalur kiri karena Bian menunjuk sebuah wahana air, sedangkan Velove keluar dari jalur kanan. Mereka tertawa renyah sambil bercanda. Reyhan berada di atas pundak Jo.


__ADS_2