Life After Married

Life After Married
Bab 143- Keinginan Syena tidak bisa di larang


__ADS_3

"Mas, aku lapar."


"Kita cari restoran dekat sini ya."


"Boleh, tapi aku mau makan kue beras yang ada gula merahnya Mas."


"Kue beras yang ada gula merah? Apa?"


"Bentar." Dinda langsung merogoh ponselnya, memperlihatkan sebuah gambar kue berbentuk kerucut, yang dimasak dalam anyaman kayu.


"Ini Mas namanya awug." Tunjuk Dinda pada gambar. Willy merasa heran, karena nama kue itu sedikit langka dan tidak pemiliar.


"Dimana kita cari makanan ini?"


"Ada di bandung kalau tidak di daerah sukabumi Mas." Sontak mata bulatnya terbelalak. Apa kali ini Willy harus pergi ke daerah itu hanya untuk mencari kue awug.


"Mas, kok ngelamun?" tegur Dinda sambil menyenggol sikut Willy dengan tangannya.


"Kalau kita ke bandung jauh sayang. Nanti pulang aku kerja ya. Hari ini aku harus bertemu klien dulu."


Dinda terlihat berpikir sejenak, satu telapak tangannya mengusap pelan perut ratanya. Tatapan matanya setengah menerawang. Sebelum akhirnya Dinda berkata, "Ya sudah, tidak apa-apa."


"Kamu gak marah 'kan sayang?"


"Ngapain marah. Ya udah ayo kita pulang," ajak Dinda. Namun hatinya sangat kecewa karena keinginannya tidak sempat terkabulkan.


*****


Sebelum ke kantor Willy mengantar Dinda terlebih dulu ke rumahnya. Lalu melajukan mobilnya menuju kantor New-Dream.


Di tengah perjalanan, lampu merah menyala, membuat mobilnya terhenti seketika. Jebra kos mulai dilewati para pekerja dan pelajar.


Sepasang netranya terus memutar, mengedarkan pandangannya. Sedetik pandangannya terhenti pada satu motor yang berada di sampingnya.


Seorang wanita dan seorang pria yang menaiki kuda besi. Mengingatkan Willy pada Dinda. Yang begitu ingin menaiki motor sport sebagai kendaraan-Nya.


Bibirnya melengkung sesaat entah apa yang sedang di pikirkannya. Lampu merah berganti lampu hijau, menandakan mobilnya sudah bisa melaju.


Segera bundaran stir itu di putar, pedal gas mulai diinjaknya. Sedetik kemudian mobilnya pun melaju dengan mulus.


*****


Dinda duduk melamun di tengah ruangan. Menopang dagunya dengan satu tangan yang bertumpu pada atas meja.


Matanya menerawang entah kemana. Mungkinkah terbayang-bayang kue beras yang dia inginkan, atau memikirkan hal yang lain.


Hingga suara Syena, mengejutkannya.


"Mama!" teriak Syena. Entah sejak kapan bocah kecil itu sudah berada di sampingnya membuat Dinda terkejut.


"Sayang ngagetin Mama saja." Kata Dinda yang tersenyum kecil pada Syena.


"Mama, papa telepon, adik aku udah lahir. Cowok lagi Ma. Namanya baby Bian." Dinda terhenyak, baru mengetahui kabar Velove yang sudah melahirkan.


"Kapan papa Rey telepon?"


"Bukan papa Ma, tapi aku yang telepon. Karena kangen sama Papa. Terus papa bilang punya dede bayi, aku boleh ya Ma nginep di rumah papa."


"Enggak sayang kamu gak boleh nginep. Nanti saja kita lihat sama-sama dede Bian nya ya." Syena mencebikkan bibirnya, sedikit lebih maju dan naik hingga bawah hidungnya.


Dinda mengerti jika putrinya itu sangat kecewa. Namun, bukan karena tidak mengizinkan melainkan sikap Velove yang masih dingin dan kaku pada Syena.


Dinda tahu Velove masih belum bisa menerima Syena menjadi putrinya. Masih trauma dengan kejadian satu tahun lalu.


Flashback on

__ADS_1


Syena baru saja diantar pulang oleh Rey, ke rumahnya. Namun, bukannya membuat Dinda senang tapi sedih, karena Syena dalam keadaan sakit.


Disentuhnya kening lebar itu dengan punggung tangannya, menghasilkan hawa panas yang dirasakan. Demam tinggi membuat tubuh kecil itu menggigil.


Segera Dinda mengambil air dingin yang di balut dengan handuk kecil, untuk di tempelkan pada kening Syena. Namun demamnya semakin tinggi.


Peluh keringat bercucuran membasahi tubuh kecil itu. Hingga Dinda membuka baju katun yang melekat pada badan Syena.


Sungguh tidak percaya matanya terbelalak seketika, saat melihat luka lebam pada punggung datar putrinya yang sudah membiru. Seperti luka pukulan yang membekas.


"Syena bangun sayang. Jawab Mama kenapa dengan punggungmu? Siapa yang memukulmu?"


Mata kecil itu terbuka sedikit, bibirnya mulai bergerak untuk mengatakan sesuatu.


"Bunda Ma," jawabnya. Bunda yang di maksud adalah Velove ibu sambungnya.


Dinda tidak terima anak kesayangan ya di perlakukan seperti ini. Namun kenapa Rey, tidak mengatakan apa pun.


"Kenapa bisa dipukul? Apa papamu tidak menahan?"


Syena bangun dari tidurnya, terduduk lemah di atas kasur sambil menghadapnya. Lalu berkata, "Papa gak tahu karena gak ada di rumah. Syena gak sengaja Ma, pecahin guci bunga yang ada di atas meja. Syena juga sudah minta maaf namun Bunda marah, dan memukul."


"Seharusnya kamu bilang pada papa atau Mama."


"Syena takut Ma. Kalau bilang papa nanti Syena dipukul lagi Ma. Syena gak mau jadi anak nakal."


"Ini sudah keterlaluan." Telapak tangannya sudah mengepal. Nafasnya semakin naik turun, mencoba mengatur emosinya.


Detik itu juga Dinda menemui Velove, setelah mengobati luka Syena dan membawanya ke rumah sakit.


Amarahnya semakin memuncak saat berhadapan langsung dengan wanita itu. Hingga satu tamparan mendarat mulus pada pipi kanan Velove.


"Apa-apaan kamu! Beraninya menamparku."


"Karena kamu sudah memukul putriku. Kamu pikir Syena binatang, yang bisa dipukul seenaknya. Karena kamu Syena sekarang jadi sakit."


Flashback off.


Dinda tidak ingin, kejadian itu terulang lagi.


"Syena nurut sama Mama ya."


"Mama jahat selalu saja gak boleh."


"Syena!" teriak Dinda saat Syena berlalu pergi.


Helaan nafas di embuskannya, membuat Dinda merasa pusing dan kembali mual. Dinda sama sekali tidak ada niat melarang atau menahan Syena bertemu ayahnya.


Namun bagi seorang ibu, Dinda tidak ingin Syena terluka lagi.


Saat hendak melangkah menyusul Syena ke dalam kamar. Suara bising dari kenalpot motor menghentikan langkahnya. Membuatnya penasaran siapa yang datang ke rumahnya.


Langkahnya terayun berjalan ke luar rumah. Dilihatnya sebuah motor sport berwarna hitam yang ditunggangi seorang pria dengan helm fullpace dan jaket kulit yang dikenakannya.


Pria itu duduk tenang di atas kuda besi itu, Menyimpan kedua tangannya di bawah dada. Pandangannya tertuju pada Dinda, yang diam mematung di atas teras.


"Siapa?" tanyanya dalam hati.


Detik kemudian, tangan pria itu terangkat menempel pada helm fullpace nya. Di angkatnya helm itu ke udara, memperlihatkan wajah tampan Willy, dengan bibir ranum yang tersenyum lebar.


"Willy." Mata Dinda terbelalak seketika. Willy segera turun dari motornya menghadapi Dinda yang masih berdiri di depan teras.


"Halo sayang. Kenapa bengong?" tanya Willy setelah memeluk dan mengecup lembut keningnya. Dinda masih merasa heran dan bergeming.


"Ini motor siapa Mas?"

__ADS_1


"Motor akulah siapa lagi."


"Serius!"


"Dua rius."


"Keren Mas, mau dong boncengin," rengek Dinda. Yang merajuk seraya menarik-narik manja tangan Willy.


"Iya-iya, nanti aku boncengin."


"Ayo sekarang." Dinda sudah tidak sabar naik ke atas motor itu. Namun Willy menahannya, karena pakaian yang Dinda kenakan tidak pantas di gunakan saat menaiki motor.


"Nanti sore."


"Ih, kok sore Mas. Sekarang!"


"Ganti dulu bajunya, masa pakai dress yang ada paha mulus mu nanti kelihatan."


"Ih, kamu cemburu ya Mas. Jika aku dilihatin cowok-cowok." Goda Dinda, sambil menaik-turunkan alis dan matanya. Membuat Willy kesal, hingga memasang wajah datarnya.


"Gak ada naik-naik motor."


"Ih, kok gitu Mas. Udah janji loh."


"Ya udah. Ganti baju, pakai celana panjang dan jaket," ketus Willy, membuat Dinda semakin ingin mengggodanya.


"Ih, sewot banget sih Mas." Jailnya Dinda, mencolek-colek dagu Willy dengan jari telunjuknya.


"Dinda!" teriak Willy yang tidak tahan di goda, langsung memangku tubuh Dinda membawanya ke dalam rumah. Bahkan hampir membawanya ke dalam kamar namun, Dinda hentikan. Karena kembali mengingat Syena.


"Mas, turunin."


"Enggak."


"Ih, Mas mau ngapain? Masih siang juga."


"Enggak akan Mas turunin."


"Mas Syena!" teriak Dinda.


"Syena? Ada apa dengan Syena?" Willy langsung menurunkan tubuh Dinda detik itu juga. Dinda pun menjelaskan bahwa Syena, sedang marah padanya. Karena tidak diizinkan menginap di rumah Rey.


"Syena, sedang marah sekarang. Aku belum bisa melepaskan Syena apalagi di biarkan tinggal bersama Velove. Mas tahu kan? Kejadian dulu Syena hampir cedera."


"Begini saja, bagaimana kalau Bi Ijah ikut menemaninya. Setidaknya Syena ada yang jaga. Kita juga tidak bisa menahan Syena, yang ada Syena merasa terkekang karena dilarang bertemu papanya."


"Tapi Mas," ucap Dinda tertahan. Saat sebuah tangan menggenggamnya.


"Aku yang antar. Kita antar Syena ke sana." Dinda masih diam. Dalam hatinya masih ragu tidak mengizinkan Syena menginap di rumah Rey. Namun jika dilarang Syena akan semakin benci padanya.


Akhirnya Dinda pun setuju dan mengangguk.


Willy dan Dinda pun melangkah bersama menuju kamar Syena. Gadis kecil itu masih menekuk wajahnya di atas bantal. Willy, berjalan menghampirinya berkata pelan pada Syena, jika dirinya mengizinkan namun dengan syarat.


Di temani Bi Ijah dan hanya satu malam. Syena diizinkan menginap. Syena pun mengangguk mengerti. Senyumnya langsung berbinar, kedua tangan itu memeluk tubuh Willy di depannya.


"Terima kasih papa."


"Sama-sama sayang." Kata Willy yang mengusap lembut punggung Syena. "Minta maaf dulu sama Mama, dan bilang terima kasih. Yakinkan Mama bahwa Syena akan baik-baik saja," ujarnya demikian.


Mata kecil itu menatap Dinda yang berdiri di ambang pintu. Tubuhnya langsung bergerak lalu turun dari ranjang, berjalan mendekati Dinda, lalu memeluknya. Begitu pun dengan Dinda yang memeluknya.


"Ma, maafin Syena yang udah marah. Makasih udah izinin. Syena janji akan baik-baik saja, jika ada apa-apa Syena akan bilang sama Mama. Mama jangan khawatir ya, ada Bi Ijah yang nemenin."


"Iya sayang, maafkan Mama ya gak ngertiin kamu. Bukannya Mama melarang namun karena Mama sayang sama Syena."

__ADS_1


"Iya Ma. Makasih."


Willy tersenyum. Melihat kedua wanitanya rukun kembali. Terkadang Dinda tidak bisa mengendalikan emosinya, dan Syena tidak mengerti dengan keadaan ibunya. Namun Willy selalu bisa menjadi penengah antara mereka berdua.


__ADS_2