
"Udah ya jangan marah. Maafkan aku sayang jika kata-kata aku menyinggung kamu," ucap Lea.
"Hmm ... aku gak marah kok sayang," akhirnya Bian buka suara.
"Aku hanya sedang berpikir," sambungnya.
"Apakah KB itu tidak berbahaya?" tanya Bian.
Lea bernapas lega karena ternyata suaminya itu tidak marah kepadanya. "Kan jenis KB ada banyak sayang. Kita milih yang paling aman. Oke?" jawab Lea.
"Memang kamu tahu yang aman dan bagus kaya gimana?" tanya Bian lagi.
Lea berpikir sejenak, sejujurnya dia juga belum tahu banyak tentang KB. Yang dia tahu KB fungsinya untuk menunda momongan. "Hehe ... aku juga kurang tahu sih sayang. Tapi mulai besok aku mau baca-baca tentang KB dulu deh," ujar Lea.
"Tetapi kamu nggak apa-apa kan misal kita menjalankan KB dulu," Lea bertanya untuk meyakinkan.
"Aku sih tidak masalah sayang, demi kebaikan untuk kamu juga calon anak kita. Kasihan saja kalau nanti punya anak terus kurang terurus gara-gara maminya sibuk," ujar Bian.
"Syukurlah, aku kira kamu tidak setuju sayang," Lea memeluk manja suaminya itu.
"Mungkin ini tidak lama kok sayang, setelah aku selesai urusan kuliah. Kita bisa program punya anak," imbuhnya.
"Tetapi untuk 'main' bisa tetap setiap hari kan sayang?" goda Bian sembari mengerlingkan matanya genit.
__ADS_1
"Dasar laki-laki genit," Lea memukul pelan perut Bian.
Keduanya pun tertawa bersama akibat godaan Bian. Namun tidak lama tawa keduanya berhenti bersamaan karena lelah.
"Alangkah baiknya kamu konsultasi ke dokter saja sayang," pesan Bian.
"Iya rencananya juga begitu sih. Tapi aku bingung memilih dokter kandungan yang bagus," kata Lea.
"Kalau dokter kandungan aku punya kenalan sayang. Malahan dia sepupu aku," kata Bian.
"Oh ya? Siapa sayang? Alamat praktiknya dimana?"
"Namanya Emiliya Sulaiman, dokter kandungan terbaik di kota ini. Aku hubungi dulu dia, rencana kapan kita kesana?"
"Besok aku sendiri saja sayang, kasih tau alamat praktiknya. Kamu kan masih sibuk, aku gamau ganggu kerjaan kamu," ucap Lea.
"Emang kamu berani?"
"Beranilah emang kenapa tidak berani," Lea menjulurkan lidahnya mengejek Bian.
Merasa diejek oleh Lea dengan menjulurkan lidahnya. Bian yang gemas langsung mengacak rambut Lea secara manja.
"Besok kalau aku nyusul kamu deh kalau ada waktu," kata Bian.
__ADS_1
"Tidak usah dipaksakan kalau memang nggak bisa," kata Lea.
"Kan aku juga pengen konsultasi sama dokter sayang," protes Bian.
"Terserah deh," ucap Lea.
"Eh tapi kayaknya besok aku ada meeting sampai sore deh," ucap Bian kemudian.
"Tuh kan, udah maksa-maksa sendiri. Eh batalin sendiri. Capek deh," ejek Lea.
Lagi-lagi Bian mengacak rambut Lea karena gemas akan ejekan itu.
"Pesan aku tolong konsultasikan dengan baik. Jangan sampai membahayakan kamu atau rahim kamu. Pilih jenis KB yang kualitasnya bagus dan terjamin. Harga tidak masalah," pesan Bian.
"Kok kamu jadi bawel sih sayang?" kini giliran Lea yang protes.
"Jelas aku bawel, soalnya bersangkutan dengan orang yang paling aku cintai di dunia ini," ucap Bian.
"Mulai deh," Lea menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu itu ya harus dengerin semua kata aku. Ya tolong perhatikan baik-baik pesan aku supaya memilih KB yang terbaik dan konsultasikan secara detail. Jangan sampai ada kesalahan dalam keputusan ini," pesan Bian lagi.
Sementara Bian terus berceloteh, Lea membalikkan tubuhnya membelakangi Lea. Tampaknya dia sudah jenuh dengan apa yang diucapkan Bian. Membiarkan Bian terus berbicara sampai dia capek dan berhenti sendiri.
__ADS_1