Life After Married

Life After Married
Bab 130- Bertemu Mirna.


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di depan kantor New-Dream. Firma hukum yang sederhana kini menjadi sebuah firma hukum yang besar. 


Bangunan yang dulu berada diantara apartemen yang diapit oleh bangunan lainnya. Kini kantor itu berada di sebuah pusat kota, dan bangunan yang besar dan tinggi. Bahkan kantor itu sekarang menjadi tempat notaris-notaris hebat.


Semua itu berkat kerja keras kedua pengacara tampan Willy dan Rio. 


Sebuah mobil berhenti di depan kantor itu. Turunlah seorang wanita yang menatap lekat bangunan itu. Sedetik nafasnya ia hembuskan lalu melangkah masuk ke dalam kantor. 


"Permisi, ruangan pak Willy dimana ya?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Jessica. 


"Ruangan pak Willy berada di lantai atas sebelah kanan. Tapi sepertinya pak Willy belum datang," jawab seorang wanita yang bekerja di firma itu. Entah apa jabatannya. 


"Pak Rio?" teriaknya pada seorang pria tinggi, yang berjalan gontai ke arahnya. 


Pria itu mengenakan stelan jas dengan warna senada. Tidak lupa kacamata bening yang menempel di wajahnya, juga beberapa berkas yang berada pada kedua tangannya. 


Rio berjalan ke arah wanita yang baru saja memanggilnya. 


"Ada apa?" tanya nya.


"Ini pak, wanita ini menanyakan pak Willy," ujar wanita itu lalu melangkah pergi kembali pada pekerjaannya.


"Apa anda sudah ada janji?" tanya Rio, pada Jessica.


"Ya, semalam kami berbicara lewat telepon dan dia memintaku untuk datang ke kantornya." 


"Willy belum datang. Kamu bisa menunggu di ruangannya." 


Rio, berjalan terlebih dulu. Mengantarkan Jessica menuju ruangan sahabatnya itu. 


Pintu kaca terbuka lebar, memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup besar. Yang dilengkapi sofa, meja, dan komputer pastinya. 


Beberapa tumpukkan buku tertata rapi di sana. Ruangan itu terlihat rapi. Rio, mempersilahkan Jessica untuk duduk setelahnya Rio, pun berlalu pergi. 


Jessica hanya diam. Bokongnya sudah mendarat di atas sofa. Sepasang netranya terus memindai setiap sudut ruangan itu, hingga tatapannya terhenti pada satu foto yang terdapat di atas meja kerja Willy. 


Tubuhnya langsung berdiri, kedua kakinya langsung terayun melangkah menghampiri meja itu. Di raihnya foto itu oleh tangannya, dirinya masih diam menatap foto seorang wanita yang tersenyum lebar memeluk seorang gadis kecil yang imut dan lucu. 


Yang menjadi perhatiannya bukanlah kedua wanita itu, melainkan seorang pria yang juga ikut berfoto bersama. Pria itu adalah Willy, yang tersenyum lebar dengan kedua tangan yang memeluk kedua wanita itu. 


"Ternyata dia sudah berkeluarga." Katanya yang langsung menyimpan foto itu kembali. 


Suara pintu terbuka, membuat tubuhnya berbalik menghadap Willy yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Mereka sama-sama membungkuk hormat, namun keduanya terlihat canggung.


"Maaf jika aku lancang. Namun aku di antar oleh seorang pria untuk menunggumu di sini." 


"Sedang apa kamu berdiri di depan mejaku? Jangan menyentuh apa pun yang ada di sana." Kata Willy seraya berjalan ke arah mejanya. 


"Tidak ada yang ku sentuh. Kecuali foto ini, ternyata kamu sudah memiliki istri dan anak." Willy hanya menatapnya sekilas, tanpa menjawab sepatah kata pun. 


Dingin, satu kata untuknya. Willy tidak suka berbasa-basi dan hanya akan bicara jika dia ingin. 


"Duduklah," titahnya pada Jessica. Wanita itu pun langsung duduk di sebuah sofa yang sudah di sediakan. Begitu pun juga dengan Willy. 


Mereka pun mulai membicarakan perihal tentang kepentingannya.


*****

__ADS_1


Di ruangannya Dinda duduk termenung seraya menekuk-nekukkan jari manisnya pada meja. Dinda masih memikirkan siapa wanita yang menjalin kasih dengan Rey. Namun, memikirkan hal itu membuatnya pusing. 


Dinda lalu meminta Danu untuk memberikan laporan tentang siapa saja yang bekerja dengan Rey. Hingga Dinda nenemukan satu berkas seorang wanita dengan nama Angela. 


"Angela siapa dia?" tanyanya pada Danu.


"Dia karyawan baru. Yang menjabat sebagai sekretarisnya." 


"Sekretaris Rey? Sejak kapan?" 


"Tiga bulan yang lalu." 


Dinda memang tidak pernah tahu menabu tentang karyawan baru. Karena itu sudah ada pihak yang di tugaskan oleh ya untuk mengurus itu. 


Angela, dari namanya saja terlihat cantik. Wajahnya juga cantik dan usianya masih terbilang muda, dari pada dirinya. Jika memang Angela wanita yang bersama Rey saat itu. Sungguh sangat disayangkan, Rey, mempermainkan wanita polos sepertinya. 


Namun, Dinda tidak punya bukti apa mereka berdua punya hubungan atau tidak. 


Suara deringan ponsel membuat fokusnya hilang. Satu tangannya terulur mengambil ponsel yang berada di samping kanannya. Di lihatnya nama yang tertera pada layar, sebelum menjawab Dinda meminta Danu untuk segera pergi.


"Terima kasih pak Danu. Pak Danu bisa kembali bekerja." 


"Baik Non, jika ada apa-apa panggil saja saya," ucap Danu yang mendapat anggukan dari Dinda. 


Setelah Danu melangkah pergi telepon itu pun segera Dinda jawab. 


"Halo Karin?" 


"Halo baby." Dinda langsung bergidik ngeri mendengar kata manja dari sahabatnya itu. 


"Sombong banget sih. Mentang-mentang sudah jadi Bos gak mau bicara denganku. Apa aku harus berbuat janji dulu." 


Dinda hanya terkekeh. Mendengar ocehan Karin dari sebrang sana. 


"Ya sudah ada apa? hm …" 


"Tidak asyik jika bicara pada telepon. Aku ingin bertemu denganmu?" 


"Apakah ada hal yang penting?" 


"Sangat penting. Kamu pasti terkejut." 


"Terkejut? Memangnya kenapa?" 


"Aku bertemu Mirna." 


"Mirna! Kapan? Dimana?" 


Sumpah. Tiga tahun lamanya Mirna menghilang. Bahkan Dinda tidak tahu apa yang terjadi pada temannya itu. Apa Mirna baik-baik saja atau lebih tersiksa karena suaminya itu. 


"Karin kamu bertemu Mirna dimana? Bagaimana keadaannya?" 


"Dia bekerja di tempatku Dinda." 


"Apa!" 


"Aku juga baru tahu saat melihat riwayat lamaran kerjanya. Dan ini memang benar Mirna teman kita. Jika kamu tidak sibuk kita bertemu di cafe dan aku akan mengajaknya." 

__ADS_1


"Baiklah. Kita bertemu di sana." 


Itulah percakapan terakhir mereka. Sebelum panggilan itu ditutup. Dinda langsung teringat Willy dan akan menghubunginya. 


"Aku harus memberitahu Willy." 


Satu tangannya langsung bergerak cepat. Menghubungi Willy dengan ponselnya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari sebrang sana. 


"Kemana Willy. Sudahlah aku beritahunya nanti." Katanya yang langsung bergegas pergi. 


Di tempat lain, Willy sedang sibuk mencari berkas-berkas perihal kasusnya. Ponsel yang berbunyi tidak ia dengar, namun tidak dengan Jessi, yang melihat dan membaca nama yang tertera pada layar ponsel itu.


My Wife, hanya dengan membaca namanya Jessi sudah tahu jika yang menghubunginya adalah istri dari pria yang akan menjadi pengacaranya. 


Namun Jessi hanya diam. Tidak mengatakan apa pun atau memberitahukan Willy jika ponselnya berdering. Jessi malah menutup benda pipih itu dengan buku yang ada di hadapannya. 


****


"Karin!" teriak Dinda pada wanita yang tengah duduk di meja paling ujung. Karin langsung melambaikan tangannya, meminta Dinda untuk menghampirinya. 


Langkah Dinda terhenti saat melihat seorang wanita yang duduk di samping Karin. Wanita yang selama ini ia khawatirkan.


"Mirna." 


Wanita yang dipanggil Mirna pun langsung berdiri dan tersenyum kepadanya. Dengan segera kedua tangannya merangkul memeluk Mirna yang lama tidak dia jumpa. 


"Mirna kemana saja kamu selama ini? Aku mencemaskanmu." 


"Ceritanya panjang Dinda. Maaf aku tidak memberikan kabar pada kalian." 


"Kamu baik-baik saja kan?" 


"Aku baik-baik saja." Mirna mengangguk. Namun Dinda tidak percaya sebelum memeriksa keadaan temannya itu.


"Suami mu tidak menyiksamu lagi kan?" 


"Aku sudah bercerai." Perkataan Mirna membuat tangannya berhenti memeriksa tangan Mirna. Dinda juga merasa terkejut. 


"Suamiku di penjara karena melakukan tindakan kriminal. Itu sebabnya aku bisa terbebas darinya dan kami sudah bercerai. Hidupku sekarang tenang." 


Dinda dan Karin merasa senang, mereka berdua langsung memeluk Mirna. Kini pertemuan pertama setelah lamanya tidak berjumpa menjadi pertemuan paling bahagia. 


Mereka saling bercerita dan saling bercanda.


"Aku dengar kamu sudah menikah dengan pengacara Willy. Selamat ya ternyata kalian berjodoh juga." 


"Iya, aku juga bersyukur karena tuhan memilih Willy sebagai jodohku." 


"Lalu bagaimana denganmu Karin? Apa kamu masih bersama Vikram?" 


"Jangan menyebut nama pria itu. Aku tidak ingin mendengarnya. Karena dia aku hampir saja mati." Mirna melongo tidak percaya. Lalu Dinda yang menjelaskan.


"Mereka sudah bercerai. Vikram hampir saja membunuhnya namun sekarang dia sudah di penjara," jelas Dinda. 


"Ternyata banyak sekali yang tidak ku ketahui." 


"Ya. Karena kamu menghilang." Skak Karin. Dan sampai saat ini Karin belum juga menikah. 

__ADS_1


__ADS_2