Life After Married

Life After Married
Bab 146- Terpaksa Pulang


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar hotel, terlihat seorang pria tertidur lelap. Namun tidak dengan seorang wanita yang hanya duduk bersandar pada headboard (dinding ranjang tidur) Tatapan mata


yang kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.


Mata si pria itu mengerjap, melihat sang istri yang duduk melamun di sampingnya.


"Kamu kenapa sayang?" tanyanya demikan.


"Hati aku gak tenang ya Mas, mikirin Syena."


Dinda merasa gelisah, hingga tidak dapat tidur dengan tenang. Willy, langsung terbangun dari tidurnya.


"Kamu mimpi buruk?"


"Enggak Mas, cuma gak bisa tidur."


"Kita telepon Bi Ijah ya." Dinda mengangguk. Satu tangan Willy bergerak, mengambil ponsel di atas meja nakasnya. Ibu jarinya mulai bergerak mengusap layar datar itu ke atas dan ke bawah.


Satu nama pada kontak ia tekan, menghubungkan suara pada seseorang di sebrang sana. Tidak berselang lama sambungan itu pun terhubung. Terdengar seruan wanita yang begitu sopan.


"Halo, pak?" seru Bi Ijah. Mendengar suara Bi Ijah Willy, langsung memberikan ponsel itu pada Dinda.


"Halo Bik, ini Dinda."


"Oh Non, Dinda. Iya Non?"


"Bik apa Syena ada sama Bibik? Dinda mau bicara."


"Non Syena nya sudah tidur Bu."


"Oh gitu ya Bik. Ya sudah tidak apa-apa. Apa Syena baik-baik saja Bik di sana? Tidak ada masalah 'kan?"


"Sebenarnya …."


"Sebenarnya apa Bik?" Dinda menjadi panik, perkataan Bi Ijah membuatnya berpikir, jika terjadi hal buruk pada Syena.


Entah karena ikatan batin ibu dan anak begitu kuat. Dadanya semakin sakit, seperti merasakan kesakitan yang dirasakan Syena.


"Bik Ijah?"


"Sebenarnya kami sudah tiba di rumah Bu. Non Syena tiba-tiba ingin pulang dan gak mau nginep. Jadi kita sudah ada di rumah."


Aneh. Itu yang Dinda pikirkan. Masih diingat jika Syena begitu antusias untuk bermain dengan adiknya. Dan sekarang tiba-tiba Syena ingin pulang. Entah kenapa hatinya begitu yakin jika sudah terjadi hal buruk pada Syena.


"Jadi kalian gak jadi nginep?"


"Enggak Bu. Non Syena nya ngajak pulang." Dinda, tertegun sejenak lalu bertanya, "Syena gak sakitkan Bik?"


"Enggak Non."


"Ya sudah Bik, tolong jaga Syena. Dinda besok pagi akan pulang."

__ADS_1


"Baik Non."


Sambungan telepon pun ditutup. Membuat seorang wanita tertegun sesaat. Bi Ijah terus menggenggam ponselnya. Entah apa alasan Syena mengajaknya pulang Bi Ijah pun tidak tahu.


Tetapi, Bi Ijah yakin pasti ada hubungannya dengan perlakuan Velove pada Syena. Namun tidak tahu apa itu, karena dirinya tidak melihat kekerasan yang Velove lakukan selain perkataan kasar.


"Bik Mama kapan pulang?" rengek Syena, membuat Bik Ijah langsung berlari ke arahnya.


Tiba-tiba Syena terbangun dari tidurnya, menanyakan kapan ibunya kembali. Tangan Bi Ijah langsung memeluknya, mendekapnya, mengusap punggung Syena dengan lembut.


"Non, Syena mimpi ya Non? Tidur lagi ya Non."


"Mama!" teriak Syena dengan tangisan.


"Jangan nangis ya Non. Mama besok pagi pulang." Namun, perkataan Bi Ijah tidak membuat tangisannya mereda. Melainkan semakin kencang.


Bi Ijah juga bingung, sedangkan di rumah tidak ada siapa pun selain dirinya. Terpaksa Bi Ijah menghubungi Rey, agar segera datang. Berharap kedatangannya akan menghentikan tangisan Syena.


*****


Rey terbangun saat mendengar suara deringan ponsel. Dengan mata masih terpejam tangan Rey bergerak, mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.


"Halo." Tanpa melihat nama yang tertera. Rey, langsung menjawab dan menyapa dengan suara maraunya.


Sedetik, matanya terbelalak. Bahkan tubuhnya langsung terbangun detik itu juga. Entah apa yang didengar. Kedua kakinya langsung turun dari atas kasur, menuju lemari untuk berganti pakaian.


"Aku akan segera datang," ujarnya setelah mengambil satu jaket dan celana panjangnya. Bahkan Rey, tidak menyadari jika Velove tidak ada di dalam kamar.


Baru saja istrinya keluar untuk menenangkan Bian. Yang sedang menangis.


"Mau kemana kamu Mas?" tanya Velove demikian.


"Aku mau lihat Syena. Dia menangis."


"Malam-malam begini?"


"Aku buru-buru Velove."


"Apa kamu tidak lihat Bian Mas! Anakmu juga menangis. Sudahlah, untuk apa kamu datang ke sana. Ada Dinda juga kan."


"Dinda sedang tidak ada di rumah. Aku akan membawa Syena ke rumah. Jadi hanya sebentar saja."


"Aku tidak setuju." Tubuh Rey langsung berbalik, menatap Velove yang ada di sampingnya.


"Sampai kapan kamu Mas seperti ini. Syena dan Syena terus yang kamu pikirkan. Lihat Bian, Mas. Dia anakmu yang butuh perhatianmu juga."


"Kamu kenapa sih! Kurang perhatian apa aku sama Bian. Aku hanya akan menjemput Syena, dia sendirian tidak ada yang menenangkannya saat menangis."


"Sudah jelas-jelas kamu pilih kasih Mas. Saat Bian menangis apa kamu menenangkannya? Bahkan kamu tidak terbangun dari tidurmu. Tapi Syena yang jauh … kamu bela-belaan pergi untuk menjemputnya."


"Velove … aku tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang berikan Bian padaku, aku akan menidurkannya setelah itu aku akan pergi menjemput Syena."

__ADS_1


"Tidak usah. Aku bisa menidurkannya sendiri." Mata itu mendelik menatapnya dengan sinis. Velove melangkah masuk ke dalam kamar. Dengan penuh amarah dan kekecewaan.


Berpikir jika Rey, tidak akan pergi. Namun, di luar dugaan Rey, tetap pergi menemui Syena. Tidak peduli pada Velove yang menatapnya kesal.


Sejak dulu dan sampai saat ini perhatian Rey, selalu ada untuk Syena.


*****


Di sisi lain Dinda dan Willy sedang berkemas barang-barang mereka. Waktu pukul 02.00 tepatnya jam dua dinihari. Kegelisahan seorang ibu tidak akan bisa tenang sebelum bertemu putrinya.


Dinda, meminta pada Willy untuk pulang detik itu juga. Tidak peduli malam yang dingin, jarak tempuh yang sangat jauh, yang bisa saja membahayakan dirinya apalagi kondisinya saat ini tengah mengandung.


"Mas aku ingin pulang sekarang."


"Kamu yakin?"


"Aku tidak akan tenang meninggalkan Syena sendirian." Dinda pikir putrinya akan jadi menginap di rumah Rey. Itu sebabnya Dinda pergi ke bandung bersama Willy, namun hal yang tidak terduga terjadi.


Tidak tahu apa yang sudah terjadi pada putrinya. Namun hatinya sangat gelisah, mengingat kejadian dulu yang Velove lakukan pada Syena. Mungkin saja Velove melakukan hal yang sama lagi pada putrinya.


Setelah membereskan semua barangnya. Dinda dan Willy seger chek out dari hotel.


Udara yang dingin menusuk-nusuk kedalam kulitnya. Tubuh Dinda sedikit gemetar hanya menahan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya.


Willy melihat itu, dan ragu untuk melakukan perjalanan pada malam ini. Namun, Willy tidak bisa menahan keinginan Dinda yang ingin pulang ke jakarta malam ini juga.


"Mas, ayo," ajak Dinda pada Willy yang masih diam belum juga menyalakan mesin motornya.


Bukannya menyalakan mesin motor. Kedua tangannya malah melepas jaket kulit yang Willy kenakan. Memakaikan nya pada Dinda, berikut dengan sarung tangan dan topi rajut yang Willy kenakan. Berharap akan menghangatkan tubuh istrinya, tidak membuatnya menggigil lagi.


"Mas apa yang kamu lakukan? Kenapa melepas jaketmu."


"Aku masih bisa menahan dinginnya angin malam. Tetapi tidak denganmu, badanmu tidak akan kuat."


Dengan lembut, Willy memakaikan jaketnya untuk menutupi tubuh Dinda, tidak lupa memakaian topi rajut untuk menghangatkan kepalanya. Bahkan, dengan sabar Willy, membenahkan rambut Dinda agar tidak di terpa angin.


Setelah itu, barulah helm fullface Willy pakaikan untuk melindungi kepala Dinda dari angin mau pun dari bahaya.


Sedangkan Willy sendiri hanya mengenakan kaos panjang tanpa jaket, yang hanya memakai helm sebagai penutup kepalanya.


Jika di tanya apa Willy tidak kedinginan. Tentu saja tubuh ya menggigil sesaat karena menahan sentuhan angin yang menusuk kulitnya.


Namun demi sang istri, Willy rela melakukannya.


"Tapi Mas, kamu nanti masuk angin."


"Jangan khawatirkan aku. Sudah tugasku melindungi mu dan calon bayi kita."


"Terima kasih sayang, maaf ya gara-gara aku …."


"Sudah, jangan dilanjutkan. Sekarang kita pergi. Naiklah, jangan lupa pegangan."

__ADS_1


Willy dan Dinda sama-sama menaiki motor sport itu. Sebelum menekan gas dan rem, Willy memastika dulu jika Dinda, duduk dengan nyaman dan memeluknya dengan erat.


Suara deruan mesin pun mulai terdengar, dalam seketika motornya melaju cepat, membelah kesunyian malam.


__ADS_2