Life After Married

Life After Married
Bab 171- Terungkap


__ADS_3

Velove mengerjap saat sebuah cahaya menyilaukan matanya. Seketika kedua tangannya bergerak, untuk meregangkan otot-ototnya.


Di sapunya setiap sudut ruangan, kamar terlihat terang karena sorotan cahaya mentari yang menembus kaca jendela. Namun, kamar itu masih berantakan seperti saat bersama Rey semalam.


"Di mana Rey?"


Rey, sudah menghilang entah ke mana. Velove langsung terbangun, membuka selimut yang menutupi tubuhnya yang masih polos.


Kedua tangannya mulai meraba mencari sebuah kain yang bisa ia pakai. Akhirnya segitiga biru dan kacamata busa sudah di tangan dan siap ia pakai.


Kaki jenjangnya mulai menuruni ranjang, lalu melangkah memasuki kamar mandi. Pintu ia kunci, bathup yang masih kosong di isi dengan air. Setelah penuh Velove langsung berendam di dalam bathup.


*****


"Velove ke mana sih! Jam segini belum juga turun."


Angel kesal, sudah siang Velove tidak juga menampakan dirinya. Sedangkan Bian sudah terbangun bahkan sudah ia mandikan. Jika di pikir-pikir dirinya tidak jauh berbeda dengan seorang pengasuh.


Dan saat ini Bian menangis karena haus dari semalam belum meminum asi.


Lalu bagaimana semalam apa Angel bisa menenangkan tidurnya?


Semalam Angel tidak tertidur dan harus bergadang sampai pagi buta. Sudah cukup Angel lelah karena tingkah Rey di tambah harus menjaga Bian semalaman.


"Ya ampun … itu cewek masih ngapain sih! Tidak dengar apa anaknya menangis."


Angel, menidurkan Bian sejenak dalam ayunan. Lalu dia melangkah menuju kamar di mana tempat bercinta dengan Rey semalam.


Dengan penuh emosi Angel mengetuk pintu itu dengan keras. Namun percuma saja karena Velove tidak mendengar. Yang ia dengarkan saat ini hanyalah suara alunan musik yang merdu dari iphone nya.


"Benar-benar tuh cewek nyusahin."


Angel pun kembali ke bawah menemui Bian. Dan saat tiba di lantai dasar, Angel tercengang melihat Bian sudah di gendong seorang wanita yang tidak lain adalah Rita neneknya.


"Velove kamu kemana saja sih! Ini anakmu na ….," ucap Rita tertahan.


Rita, tercengang ketika melihat Angel di rumahnya. Sedetik tatapan mereka bertemu, saling pandang dalam waktu yang lama.


Tidak ada yang memulai ataupun pergi. Mereka hanya terdiam di tempatnya. Sebelum akhirnya Rita membuka suara. Dengan dinginnya Rita bertanya,


"Sedang apa kamu di sini?" Angel masih diam.


Rita, melangkah mendekatinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Jawab! Kamu tidak mengatakan apa pun pada Velove bukan?"


"Aku tidak pernah mengatakan apapun."

__ADS_1


"Siapa yang membawamu? Rey?"


"Ya, Rey. Karena aku juga isterinya dan berhak tinggal di sini."


"Kalian melanggar janji. Aku mengizinkan kalian untuk bersama dengan syarat jauhi Velove, dan rahasiakan pernikahan kalian. Tetapi … kamu tinggal di sini. Apa yang kamu rencanakan?"


"Aku tidak melanggar janji sampai saat ini … pernikahan ku tetap di rahasiakan. Akan tetapi tidak untuk selamanya. Karena aku juga ingin pengakuan dari suamiku. Aku ingin semua orang tahu jika aku adalah isterinya."


"Isteri siapa?"


Pertanyaan seseorang membuat mereka terkejut. Dalam waktu bersamaan mereka menoleh, di lihatnya Velove sedang berdiri di atas tangga. Sepertinya Velove, mendengar pembicaraan itu.


"Istri siapa Ma?" tanyanya lagi.


Langkah Velove terus mendekat hingga berdiri tepat di depan Angel. Tatapan tajam itu tidak berpaling dari seorang wanita yang tidak lama ini satu atap dengannya.


"Apa di rumah ini ada seorang istri selain diriku? Jadi benar, jika Rey memang menikah lagi?"


"Velove, kamu tidak menyambut kedatangan Mama sayang." Rita mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lihatlah Bian menangis ia haus."


"Sebentar Ma. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Tatap Velove tajam. Angel yang di tatap pun hanya diam.


Velove maju selangkah lebih dekat. Tiba-tiba ia melempar Angel, dengan beberapa barang. Angel pun tercengang saat melihat sepatu heels, dan kacamata busanya.


"Bukankah itu milikku? Kenapa bisa …."


Flashback On


Setelah 30 menit lamanya Velove berada dalam kamar mandi, akhirnya keluar dengan keadaan tubuh di balut handuk dan rambut yang basah.


Awalnya masih baik-baik saja, hingga dirinya berganti pakaian. Bahkan sempatnya membereskan tempat tidur yang berantakan.


"Sudah selesai," ucapnya setelah ranjang tidur itu rapi tanpa selimut yang acak-acakan.


Velove, berpikir untuk memakai cincin kembali yang ia simpan di dalam laci. Diambilnya cincin itu, tetapi malah terjatuh menggelinding ke bawah ranjang.


Segera Velove menunduk untuk mencarinya. Dirabanya kolong ranjang itu. Namun tidak tergapai karena terlalu dalam. Akhirnya Velove semakin membunngkukan tubuhnya yang masih tidak teraba.


Velove memilih untuk menjatuhkan tubuhnya, posisi badan menempel pada lantai, seperti posisi tengkurep. Tangan kanannya kembali dimasukan ke dalam kolong itu, tetapi masih sama tidak teraba.


Velove pun melakukan langkah terakhir yang menenggelamkan wajahnya pada lantai, setengah melirik ke bawah ranjang.


Sedetik satu matanya menyipit, agar bisa meneropong keberadaan cincin itu. Samar-samar Velove melihat sesuatu tetapi bukan cincin melainkan sebuah sepatu heels dan penutup dada.


Melihat itu Velove langsung mencari sebuah benda panjang yang bisa menarik barang itu keluar. Tidak berselang lama barang itu ia dapatkan.

__ADS_1


Sungguh terkejutnya karena itu bukan barang miliknya. Namun, ada satu barang yang ia kenali. Sepatu heels, yang saat pulangnya dari rumah sakit, Velove mengingat betul jika Angel yang memakai sepatu itu.


Sedetik tatapannya beralih pada sebuah kain berbentuk kacamata. Merasa jijik barang itu ada di dalam kamarnya.


Apa yang terjadi?


Sejenak Velove mengingat tingkah Rey yang sangat aneh semalam. Pintu terkunci sangat lama, tiba-tiba keluar dalam keadaan tubuh yang basah karena habis mandi.


Lalu, saat dirinya hendak memasuki kamar mandi tiba-tiba Rey melarangnya. Mungkinkah semalam … dengan raut wajah yang berbeda. Penuh emosi Velove melangkah keluar kamar dengan membawa heels dan kacamata busa itu.


Flashback Off.


"Katakan apa itu milikmu?" desak Velove. Lalu mengambil sepatu heels yang terjatuh menunjukannya pada Angel.


"Aku mengenal sepatu ini yang kemarin kamu pakai bukan? Sekarang katakan kenapa semua barang ini ada di kamarku? Katakan!" teriak Velove.


"Velove tenang sayang."


"Diam Ma!" bentak Velove, Rita langsung terdiam.


"Mama juga merahasiakannya. Mama tahu jika Rey menikah lagi dan dia …." Tunjuk Velove pada Angel.


"Ya, aku adalah isterinya."


Rita melotot saat Angel mengatakan demikian.


"Kalian semua membohongiku. Selama ini aku tidak pernah berhalusinasi dan itu bukanlah mimpi buruk. Mama selalu mengatakan itu."


"Velove …."


"Aku tidak butuh penjelasanmu." Velove langsung berlari menaiki tangga. Entah akan kemana sepertinya Velove memang sedang mencari sebuah benda.


Rita, jadi khawatir. Di berikannya Bian pada asisten rumah tangga yang selama ini ikut dengannya ke luar kota. Rita meminta pada orang itu untuk membawa Bian ke tempat aman.


Setelah pergi Rita, berlari menyusul Velove. Tapi sebelum itu Rita, meminta Angel untuk menghubungi Rey, segera pulang.


"Angel! Cepat hubungi Rey. Beritahu keadaan Velove sekarang."


"Iya."


Dengan tangan gemetar Angel menghubungi Rey dengan ponselnya. Suasana mendadak tegang sedangkan Angel tidak tahu apa yang Velove lakukan.


Di dalam kamar Velove mengubrak-abrik sebuah laci, yang akhirnya sebuah benda tajam ia temukan. Ditatapnya benda itu dalam-dalam, digenggam dengan erat lalu melangkah pergi.


"Velove! Simpan pisau itu," tegas Rita tetapi tidak Velove hiraukan. Ia terus berjalan menuruni tangga. Hingga tiba di depan Angel, yang kini sedang menghubungi Rey.


"Rey pulanglah sekarang ini gawat. Velove, Ve …."

__ADS_1


Kata Angel tertahan, saat sebuah benda tajam Velove hunuskan ke arahnya. Matanya membulat, ada rasa takut di hatinya.


"Ve … Velove."


__ADS_2