Life After Married

Life After Married
Season 2-


__ADS_3

Velove menyajikan macam-macam masakan hari ini, karena Bian dan Rey akan pulang. Semua nasehat Rita dia dengarkan, Rita pun masih menginap dia ingin menyelesaikan masalah putrinya.


"Sebentar lagi Rey dan Bian pulang," ucap Velove dengan senyuman.


Namun, sudah hampir sore Bian dan Rey tidak kunjung datang, makanan pun sudah tidak hangat lagi.


Velove mencoba menghubungi Rey, tetapi tidak ada jawaban.


"Ke mana mereka," ucapnya lalu menulis sebuah pesan yang dikirimkan pada Rey.


Satu balasan yang Rey kirimkan membuatnya kecewa.


Aku dan Bian akan pulang besok, balas Rey singkat.


"Kata maafku tidak ada arti, di mana mereka berada?" Velove sangat marah dan ingin sekali menemui Rey.


"Mau ke mana?" tanya Rita melihat Velove yang hendak pergi.


"Menemui Rey," jawab Velove singkat.


"Apa kamu tahu di mana Rey?" tanya Rita membuat Velove terdiam.


"Tapi aku tidak bisa diam saja Ma. Aku sudah meminta maaf tetapi Rey, apa yang dia katakan Ma? Dia bilang akan pulang besok, percuma aku menyiapkan semua ini."


"Biarkan saja, jika memang dia ingin pulang besok, kenapa khawatir? Bukankah Rey akan pulang. Inilah kebiasaanmu Velove, ketidak sabaranmu membuat Rey muak dan tidak betah di rumah. Menghadapi pria macam Rey bukan marah-marah seperti itu," tegas Rita yang ikut emosi.


"Jika kamu seperti ini, lama-lama Rey akan pergi meninggalkanmu," ujar Rita kesal, lalu duduk di samping Velove.


Velove menghela nafas.


"Berikan ponselmu," pinta Rita.


"Untuk apa?" tanya Velove.


"Berikan saja."


Akhirnya Velove nemberikan ponsel itu pada Rita entah apa yang Rita lakukan, kelima jarinya menari-nari di atas keyboard. Setelah puas, Rita memberikan ponsel itu pada Velove.


"Apa yang Mama lakukan?" tanya Velove.


"Mengirim pesan pada Rey," jawab Rita, Velove terbelalak seketika.


"Pesan apa yang Mama kirim?" Velove langsung mengecek pesan whatsappnya.


"Begitulah cara menghadapi Rey," ucap Rita.


"Terima kasih Mah," ucap Velove karena Rita sudah membantunya.


.


.


Rey, terdiam seraya membaca pesan dari Velove.


[Padahal aku sudah memasak untukmu malam ini, aku pikir kamu dan Bian akan pulang. Aku tunggu besok, dan aku akan memasak untuk kalian lagi. Selamat malam]


Satu balasan dari Velove, membuat Rey berpikir. Mungkinkah Velove sudah berubah? Velove tidak lagi emosi seperti dulu.


Namun, hati Rey mempungkiri semua itu. Perasaan Rey, sudah hampa tidak ada lagi getaran cinta pada Velove, bahkan Rey mulai merasa bosan.


"Bi Num," panggil Rey.


Bi Num tergopoh-gopoh dari arah belakang berlari ke arah Rey.


"Ada apa, Pak?" tanya Bi Num.


"Bereskan pakaian Bian, besok kita akan pulang. Satu lagi kamu jangan mengatakan tentang apartemen ini pada Velove mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Pak," ujar Bi Num.


"Ya, sudah. Bi Num silahkan kembali ke kamar," titah Rey.


"Baik Tuan." Bi Num pun pergi ke arah kamar Bian untuk mengemas pakaiannya.


.


.


"Mama!" teriak Bian.


Velove langsung berlari pada Bian dan memeluknya. Bi Num, mengikuti dari belakang seraya menyeret sebuah koper.


Velove menatap ke arah pintu, mencari keberadaan Rey.


"Bian di mana Papa?" tanya Velove.


"Papa tidak ikut Ma, papa bilang nanti sore sekarang mau ke kantor ada meeting," jelas Bian membuat Velove kecewa.


"Ma, sekarang Mama akan mengantar Bian ke sekolah, kan?" tanya Bian yang mendapat anggukan dari Velove.


"Iya, nanti Mama yang antar."


"Bian," panggil Rita.


"Oma," ucap Bian yang berlari ke arah Rita. "Apa kabar cucu Oma?" tanya Rita.


"Baik, Oma," jawab Bian gemas. "Oma kapan nginap?" tanya Bian lagi.


"Kemarin," jawab Rita.


"Kenapa tidak memberitahuku?"


"Biannya pergi sama Papa. Memangnya Bian pergi ke mana?" tanya Rita.


Velove langsung mendekat ketika Rita menanyakan itu. Bian yang polos, menjawab sesuai apa yang dia tahu.


"Rumah yang mana?" tanya Velove, langsung memangku Bian memindahkannya ke atas sofa.


Velove benar-benar penasaran, di mana mereka tinggal.


"Di rumah bertingkat, ada lift lalu naik ke atas itulah rumah Papa," jawab Bian.


"Apartemen," gumam Velove.


'Sejak kapan Rey membeli apartemen di kota ini," batin Velove merasa curiga.


"Bi Num, tolong siapkan bekal untuk Bian" titah Rita.


"Iya Bu," jawab Bi Num dengan anggukan.


Velove masih melamun memikirkan tentang aprtemen Rey.


.


.


"Angel," panggil Joshua.


"Iya," sahut Angel.


"Kamu pergi duluan saja, aku harus pergi ke kantor cabang ada yang perlu diurus," ucap Joshua meminta Angel untuk menemui Rey sendirian, perihal membicarakan proyeknya.


"T-Tapi …," ucap Angel tertahan.


"Aku harus pergi sekarang." Tanpa mendengarkan penjelasan dan jawaban Angel, Joshua pergi untuk menyelesaikan urusannya.

__ADS_1


Angel, mendengkus. Bagaimana bisa Angel bertemu Rey hanya sendirian.


Di sebuah resto Rey, dan Dika sudah menunggu. Rasa bosan sudah mulai Rey rasakan, jika bukan karena Angek mungkin Rey akan segera pergi.


"Dika, apa ada kabar dari Joshua?"


"Maaf Bos, tidak ada.," jawab Dika.


"Sudah 30 menit kita menunggu, apa kita pergi saja?"


"Jangan Bos," tahan Dika ketika Rey hendak berdiri. "Sepertinya mereka sudah datang," ujar Dika yang melihat Angel.


"Tapi di mana Joshua? Kenapa hanya mantan istrimu Bos?"


"Sstt … jangan katakan itu bila dihadapan Angel mengerti."


"Maaf, Bos," ucap Dika menunduk.


Angel berlarian ke arah Rey, karena dia tahu sudah terlambat.


"Maaf, jika aku terlambat," ujar Angel dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tidak apa-apa, duduklah." Angel pun duduk dihadapan Rey.


"Kamu pasti haus minumlah," ujar Rey memberikan segelas cheese teanya.


"Tidak perlu, aku akan memesannya nanti," kata Angel.


"Memasan akan menambah waktu, minum saja punya ku, lagi pula belum aku minum." Tatap Rey pada Angel.


Angel juga tidak bisa menahan dahaganya yang kering, dengan ragu dia menerima cheese tea itu lalu meminumnya.


"Terima kasih," ucap Angel lalu meneguk minuman itu sampai habis. Rey, tersenyum melihatnya.


"Maaf, aku sangat haus jadi menghabiskan minumanmu."


"Tidak apa-apa aku akan memesan lagi," ucap Rey.


"O ya, Joshua tidak bisa hadir karena harus ke kantor cabang, ada yang harus di selesaikan. Tidak apa-apa, kan jika hanya aku yang mewakilkan?" tanya Angel.


Tentu saja Rey tidak keberatan. Mereka pun melanjutkan meetingnya, Rey terus memperhatikan Angel yang berbicara, menyampaikan persentasinya.


Dika tersenyum memperhatikan pandangan Rey pada Angel. Hingga meeting itu selesai, Angel pamit pulang.


"Apa kamu tidak ingin pulang bareng?" Rey menawarkan, tetapi Angel menolak.


"Aku membawa mobil, permisi," ucap Angel lalu pergi.


"Bos, jangan bilang kamu masih mencintainya," ujar Dika yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rey.


"Aku hanya menduga," tambah Dika.


"Dika, kamu pergi ke kantor dan jangan lupa kirim email pada Angel. Aku akan menjemput Bian." Rey berkata sambil berjalan meninggalkan resto.


Dika mengikutinya dari belakang.


.


.


"Bian, apa benar ini tempatnya?" tanya Velove ketika turun di depan sebuah apartemen.


"Iya, Mah," jawab Bian.


"Apa kamu masih ingat di lantai berapa?" tanya Velove.


"Mm … naik lift, saat itu papa tekan tombol 10 setelah keluar lift belok kiri nah, di situ rumah papa," jawab Bian.

__ADS_1


'Tidak mungkin Bian berbohong,' batin Velove. Lalu melangkah memasuki apartemen.


Sesuai arahan Bian, mereka menaiki sebuah lift menuju lantai 10.


__ADS_2