
"Kami memang sudah menikah."
"Apa!" Rio, terkejut bahkan sampai tersedak saat tengah meminum air mineral.
Karin diam tak percaya. Matanya membelalak seketika.
"Kamu kenapa Rio, minum seperti anak kecil saja." Willy, mengejek yang langsung duduk di samping Rio.
"Kalian sudah menikah? Kapan?" tanya Karin dan Rio serempak. Tatapannya tidak beralih dari mereka berdua.
Dinda dan Willy hanya saling pandang. Belum ada yang menjawab sepatah kata pun. Karin terlihat sangat marah dan kecewa karena sahabatnya itu tidak memberitahukan tentang pernikahannya.
"Aku kecewa, kamu tidak bilang padaku Dinda."
"Bukan begitu. Dengarkan aku dulu," sanggah Dinda. Dinda lalu menghela nafasnya panjang di hembuskannya secara perlahan.
Setelah merasa tenang, Dinda dan Willy pun mulai bercerita tentang pernikahannya yang mendadak itu.
"Sebenarnya pernikahan kita sangat mendadak. Bahkan tidak mempersiapkan apa pun. Tidak ada pesta, gaun pernikahan, gedung, bahkan kami pun tidak tahu akan menikah."
"Tunggu!" sanggah Karin, memotong pembicaraan Dinda. "Kalian sendiri tidak tahu akan menikah? Apa kalian menikah karena terpaksa?" lanjutnya.
Kini Willy yang menjawab.
"Terpaksa, tidak. Karena memang aku punya niat untuk menikahinya. Lebih tepatnya bukan terpaksa melainkan belum siap."
Willy menarik nafas sejenak.
"Saatku dengar bahwa Syena menghilang. Dari surabaya aku langsung berangkat ke jakarta detik itu juga. Dan aku juga tahu ayahnya sedang sakit. Kami pun pergi menjenguk bersama. Tanpa ku tahu, beliau meminta kami untuk menikah. Detik itu juga, yang ternyata itu adalah permintaan terakhirnya." Willy menjelaskan.
"Dan setelah kami sah menikah, ayah menghembuskan nafas terakhirnya." Sambung Dinda, seraya menunduk sedih karena teringat sang ayah.
Karin terenyuh dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Lalu, ibumu?" tanya Rio. Tatapannya tidak berpaling pada Willy.
"Besok kami akan ke surabaya dan menjelaskan semuanya," jawab Willy, yang menggenggam tangan Dinda.
"Selamat ya Bro, akhirnya kamu berani juga menikahinya."
"Apa sih Rio " bisik Willy, Rio hanya terkekeh.
*****
Di sisi lain kedua wanita sedang asyik berbelanja di sebuah plaza. Semua barang dan pernak-pernik tidak ada yang terlewat mereka semua beli.
Hingga tas-tas mahal, sampai barang-barang elektronik mereka ambil. Dan masih sempatnya kedua wanita itu mengunjungi sebuah salon hanya untuk mempercantik dirinya. Dan gak tanggung-tanggung mereka mengunjungi salon yang sangat mahal.
__ADS_1
Tidak memikirkan apa yang terjadi nanti jika uang yang mereka punya habis tidak tersisa.
"Aku pulang." Rey, terbelalak saat membuka pintu rumahnya. Semua penuh dengan riasan dan perabotan rumah yang mereka ganti.
"Kenapa rumahku berbeda?" pikirnya yang masih diam mematung di depan pintu.
"Sayang!" Velove menghampiri, menarik tangannya dengan lembut.
"Kamu pasti lelahkan aku sudah siapkan makanan untukmu." Katanya yang menuntun tangan Rey, untuk duduk di meja makan.
Malam ini makanan cukup mewah dan lengkap. Macam-macam lauk ada diatasnya, hingga desert sebagai makanan penutup.
"Kamu masak ini semua?" tanya Rey, yang matanya enggan mengedip.
"Jangan banyak tanya. Sudah syukur di siapin makanan." Tukas Rita, lalu duduk dan bergabung di meja makan.
Jika dilihat-lihat makanan itu sungguh menggiurkan. Membuat perut keroncongan Rey, semakin bersuara.
Satu piring dengan porsi pas, sudah Velove sediakan. Macam-macam lauk penuh menghiasi atas piringnya. Sendok demi sendok Rey lahap makanan itu yang memang sangat enak. Namun tanpa Rey, ketahui itu makanan hotel bintang 5 yang dibeli.
"Enak 'kan sayang?"
"Hm, sangat lezat."
"Tentu, karena aku pintar pilih menu. Masakan hotel bintang 5 memang enak."
Uhuk! Uhuk!
"Sayang pelan-pelan dong. Ini minum dulu." Rey, mengambil segelas air dari Velove lalu diteguknya hingga habis.
Brak!
Gelas itu ia hentak 'kan dengan keras pada meja. Membuat Rita dan Velove tersentak.
"Rey!" pekik kedua wanita itu. Mata Rey, sudah memerah menahan amarah.
"Berapa kalian menghabiskan uang ini?"
"Itu uangku bukan uangmu," sanggah Rita.
"Ya, itu uangmu. Sebanyak apa pun uangmu tetap saja akan habis. Setidaknya kalian bisa gunakan uang itu lebih baik, dari pada membuangnya untuk hal yang tidak berguna."
"Tidak berguna maksudmu! Aku sudah membeli makanan untukmu. Membeli sofa yang lebih bagus, membeli AC agar tidak kepanasan semua yang ada di sini sangat berguna. Bukannya kamu berterima kasih tapi malah memarahiku."
Rita tidak terima dengan semua nasehat Rey, baginya itu hal yang lumrah dan biasa. Makan makanan restoran dan membeli barang mewah sudah biasa ia lakukan.
Namun tidak dengan sekarang, karena keadaan sudah berbeda. Namun, bukannya mereka sedikit berpikir malah semakin seenaknya mengatur hidup mereka.
__ADS_1
"Jika uang kalian banyak. Kenapa tidak kalian investasikan! Itu lebih berguna dari pada membeli barang-barang mewah."
Rey, semakin kesal pada Istri dan mertuanya itu. Membuatnya enggan berlama-lama dan langsung melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa dengan suamimu itu?" umpat Rita.
"Entahlah Ma. Velove juga tidak tahu. Rey jadi sensitif sekarang."
"Jangan-jangan masalah pekerjaan! Coba kamu tanyakan apa Rey, di pecat atau masih kerja."
"Benar juga Ma.Yaudah aku ke kamar dulu."
Rita menggangguk. Velove pun berlari masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar, Rey tidur terlentang diatas tempat tidurnya. Dengan kedua tangan di biarkan terbuka, dan mata di biarkan terpejam.
Terlihat sangat jelas wajah lelahnya. Entah apa yang dilaluinya sepanjang hari ini. Membuat pikirannya stres seketika dan moodnya berubah tidak baik.
Velove mengayunkan langkahnya mendekat ke sisi ranjang lalu duduk. Di usapnya dengan lembut tangan Rey, yang terbuka itu. Membuat Rey, mengerjap membuka matanya.
"Sayang, ada apa? Apa ada masalah di perusahaan. Sehingga mood-mu jadi tidak baik. Apa kamu dipecat?"
Dengan ragu Velove bertanya, takut jika dugaannya benar. Jika Rey, kehilangan pekerjaan.
Rey, bangun dari tidurnya. Membenarkan posisi duduknya. Setelah merasa nyaman Rey, mulai membuka suara.
"Tidak, aku tidak dipecat dan aku tetap bekerja sebagai direktur disana."
"Syukurlah. Sayang kamu jangan marah-marah. Lagian tadi aku belanja itu semua uang Mama, yang diberikan Danu. Karena Mama tetap mendapat bagian walau tidak besar. Lagian kamu tidak dipecat dan masih jadi direktur, untuk apa kita takut. Kamu tetap mendapatkan uang banyak dari gajimu itu."
"Setidaknya kita harus ingat. Hidup kita tidak seperti dulu lagi." Rey, menimpali.
"Iya, nanti aku kasih tahu Mama."
"Hm."
"Senyum, jangan marah!" bujuk Velove, yang bergelayut manja. Bibir Rey, langsung melengkung menciptakan senyuman.
Sedetik kedua bibir mereka saling bersentuhan. Menggrliya, menjelajah hingga masuk kedalam, membuat lidah keduanya saling membelit.
Mood Rey, mungkin memang tidak baik. Karena saat perjalanan pulang Rey, kembali melihat wanita terindahnya begitu bahagia. Tertawa, bercanda, namun bukan dengan dirinya melainkan dengan pria lain.
Siapa lagi jika bukan Dinda dan Syena, apalagi setelah pernikahan itu hati Rey, semakin sakit dibuatnya. Entah hatinya masih menyimpan rasa, atau hanya sebatas iri melihat kebahagiaan Dinda saat ini.
******
Apa Rey masih punya rasa ya? Apa Rey akan menjadi pengganggu hubungan Dinda dan Willy?
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya🙏😊