Life After Married

Life After Married
Bab- 154


__ADS_3

Kecemasan sempat menggelisahkan hatinya. Namun, setelah dipastikan dokter, jika Dinda baik-baik saja Willy, menjadi tenang. Keadaan calon bayinya pun sangat baik, hanya saja dokter menyarankan agar tidak terlalu stres.


Karena kehamilan muda sangat rentan.


Dalam satu tarikan selimut tebal ia tutupkan pada tubuh Dinda, yang tertidur lelap di atas ranjang tidurnya.


Setelah kejadian hari itu Willy memutuskan untuk membawa Dinda pulang dan beristirahat di rumah. Namun tetap pada pantauan dari dokter. Karena Willy tidak ingin Rey, kembali datang menemui Dinda.


Sehingga Willy, memperketat penjagaan rumahnya, supaya Rey, tidak bisa masuk atau pun datang.


Namun bagaimana dengan Syena? Bocah kecil itu pasti meminta bertemu ayahnya dan akan sulit dilarang. Namun, Willy tidak pernah mengizinkan mereka bertemu berdua atau pun membiarkan Rey, datang menjemput ke rumahnya.


Willy meminta bantuan pada Danu, supaya Rey, menepati janjinya. Sehingga Rey, tidak berani berulah. Karena Danu mengancam jika Rey, akan dipecat dengan tidak hormat dari perusahaan Sanjaya dengan begitu Rey, tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bik! Bik Ijah!" panggil Willy.


"Iya Pak," sahut Bik Ijah yang sudah mendekati majikannya.


"Tolong jaga Dinda, saya harus pergi ke kantor. Dan ingat jangan asal menerima tamu. Lihat dulu dan laporkan pada saya."


"Baik Pak."


"Ya, sudah kalau begitu saya pergi dulu."


Setelah mengambil tas kerjanya, Willy langsung melangkah keluar, menaiki mobilnya dan berlenggang pergi.


****


Semenjak hubungan gelapnya diketahui, hubungan Rey, dan Velove semakin meregang. Apalagi saat Rey, tahu bahwa Velove memperlakukan Syena dengan buruk.


Rey, pergi dari rumah memilih tinggal bersama Angel. Tanpa sepengetahuan Velove, Rey, sudah menjadikan Angel sebagai istrinya.


Walau pun tidak secara resmi namun pernikahan mereka sah secara agama.


Angel memutuskan berhenti dari pekerjaannya, demi kenyamanan Rey, dan perkataan yang tidak baik dari para karyawannya. Sampai sekarang pernikahan mereka masih tertutup.


Rey, terlihat bahagia bersama Angel. Hubungan mereka begitu harmonis tanpa adanya pertengkaran. Angel lebih mengerti dibandingkan istri pertamanya. Yang egois dan keras kepala.


Bahkan Angel lebih menyayangi Syena dibanding Velove.


"Mas, kapan ulang tahun Syena?" tanya Angel, sambil melipat pakaiannya.


"30 November," ucapnya.


"Kalau begitu bulan ini dong Mas? Apa kamu akan merayakannya?"


Rey, terdiam sejenak.

__ADS_1


"Sepertinya tidak. Dinda tidak akan mengizinkan." Bukan tidak ingin namun Rey, tahu dan yakin jika Dinda tidak akan mengizinkannya. Dan untuk kali ini Rey, tidak bisa memaksa karena sudah berjanji tidak akan mengganggu lagi hubungan Dinda dan Willy.


"Tidak apa-apa Mas. Kita masih bisa kasih hadiah, jangan sedih ya." Rey, hanya mengulum senyum, Angel selalu menenangkan hatinya.


Tidak dapat dipungkiri, hatinya memang sangat sedih. Tidak hanya dengan Syena Rey, pun sulit bertemu putranya Bian. Karena kabar perselingkuhannya diketahui Rita, dan itu membuat Rita menjauhkan Bian darinya.


"Mas kenapa melamun?" tanya Angel, yang sedari tadi melihat Rey, bengong.


"Tidak apa-apa sayang. Aku ke kamar dulu," ucap Rey yang diangguki Angel.


Di dalam kamar, Rey duduk dengan gelisah. Satu tangannya terus memutar-mutar ponselnya. Rey, sangat merindukan Bian, hingga tidak ada cara lain selain menghubungi Velove.


Benda pipih itu langsung didekatkan pada daun telinga, diam beberapa detik sebelum akhirnya tersambung.


"Aku ingin bertemu Bian," ucap Rey.


"Kamu masih ingat sama Bian? Setelah kamu pergi meninggalkan Bian."


"Jangan salahkan aku karena aku pergi."


"Jangan salahkan aku juga jika kamu tidak bisa bertemu Bian." Kata Velove yang langsung menutup panggilannya.


Rey hanya diam menatap ponsel ditangannya.


****


Sudah waktunya menjemput Syena, namun dirinya masih berada di pengadilan. Willy gelisah, jika Syena menunggu dirinya akan sangat lama, namun siapa yang akan menjemput Syena.


Willy, terdiam sejenak, lalu mengirim sebuah pesan pada temannya.


[Rio, tolong jemput anakku. Sepuluh menit lagi waktu belajar akan segera berakhir. Aku masih berada di pengadilan tidak bisa menjemputnya.]


Satu pesan Willy kirimkan, namun tidak ada balasan dari sang pemilik nomor. Membuat Willy harus mengirim ulang pesan itu. Namun pada orang yang berbeda, berharap orang ini akan membalas pesannya.


[Karin, apa aku boleh minta tolong. Tolong jemput Syena, aku tidak bisa menjemputnya karena aku masih berada di pengadilan. Aku tahu kamu sibuk tapi kamu tidak akan menolak jika ini permintaan Dinda.]


Willy terpaksa mengirim pesan pada Karin, karena tidak ada lagi orang yang di percayai nya selain mereka berdua.


Namun, berbeda dengan Rio. Dalam dua menit Willy langsung mendapat balasan pesan dari Karin.


[Baiklah tuan pengacara. Aku melakukan ini demi Dinda bukan demi dirimu]


Bibir Willy melengkung sesaat, perkataan Karin, membuatnya ingin tertawa. Dengan hati tenang tangannya menyimpan ponsel itu dan kembali fokus pada sidang yang dijalaninya.


*****


Tumpukan berkas, kasus demi kasus yang dipelajari berjajar memenuhi isi mejanya. Benda bening dan bulat menutupi kedua matanya.

__ADS_1


Tidak lelah mata itu membaca kata demi kata. Hingga saat lembaran terakhir jilid itu pun di tutup. Kaca mata bulat yang terpasang di wajahnya langsung di tarik oleh kedua tangannya.


Seharian penuh membaca laporan demi laporan membuat matanya perih dan kepalanya pusing. Hingga ponsel yang menyala tidak ia sadari.


Rio, menyandarkan punggungnya pada kursi, otot-otot tangan mulai di regangkan. Begitu pun dengan punggung dan lehernya. Hingga rasa pegal hilang.


Rio, mulai mengambil ponsel yang sedari tadi diabaikan. Dalam satu sentuhan layar ponsel itu menyala. Matanya terbelalak saat melihat nama temannya mengirim pesan.


"Ya tuhan, jam berapa ini?"


Rio, langsung melihat arah jarum jam dinding di dalam kantornya. Sudah 20 menit yang lalu pesan Willy tersampaikan.


Sedangkan dirinya baru membaca pesan itu.


"Syena pasti sudah menunggu," ujarnya.


Detik itu juga tubuhnya langsung bangkit dari duduknya. Menyambar sebuah kunci yang terdampar di atas meja. Kedua kakinya segera ter-ayun melangkah pergi dari ruangannya.


Sedangkan Syena, sudah berada di dalam mobil Karin, yang saat ini melaju menuju rumahnya. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi pada mobilnya. Membuat mobil itu berhenti di tengah jalan.


"Eh, kenapa mobilku seperti ini," gumam Karin.


"Aunty kenapa? Kok berhenti? kita 'kan belum sampai."


"Bentar ya Syena, Aunty lihat dulu." Karin pun turun dari mobil, saat dilihat bibirnya berdecak kesal karena ban mobilnya kempes.


"Aish, ada-ada saja kenapa harus kempes sih!" rutuknya.


"Aunty! Kok lama."


"Ban mobilnya kempes sayang. Gimana dong."


"Ya gantilah Aunty."


"Masalahnya Aunty gak bisa ganti."


Syena, langsung menepuk jidatnya. Karin memang tidak ahli dalam hal seperti itu. Namun tidak mungkin juga mereka menunggu di sini.


"Biar Aunty telepon bengkel dulu," ujar Karin namun tertahan karena Syena.


"Om pengacara!" teriak Syena, saat melihat mobil Rio melintas. Teriakannya yang begitu dahsyat membuat Rio, langsung menghentikan mobilnya, memutar balik mendekati mobil mereka.


"Rio' Syena kenapa kamu panggil om Rio."


"Kata Aunty gak bisa ganti ban. Kebetulan ada Om Rio. Jadi aku panggil Om Rio, untuk ganti ban-Nya. Aku pintar 'kan Aunty."


Karin tersenyum hambar, nafas kasar ia hembuskan. Niatnya ingin menjauh dari Rio, namun malah semakin dekat karena selalu bertemu.

__ADS_1


Mobil Rio berhenti dibelakang mobilnya. Lalu turun dan berjalan ke arah Syena dan Karin.


__ADS_2