
"Oliv sayang bagaimana hubungan kamu sama pacar kamu?" tanya Dwita disela-sela sarapannya.
"Hubungan kita semakin hangat mam. Katanya Bryan serius sama Oliv dan katanya akan segera melamar Oliv," ucap Olivya sumringah.
"Wah! Benarkah? Kapan dia akan melamar kamu sayang?" Dwita terkejut sekaligus senang mendengar kabar tersebut.
Sebelu menjawab pertanyaan maminya, Olivya menyuapkan sendok kedalam mulutnya. "Katanya setelah dia wisuda Mi," Jawab Olivya.
"Baguslah kalau usai wisuda. Jadi kalian sama-sama berjuang untuk menghidupi rumah tangga kalian dengan bekerja bersama. Dan tidak mengandalkan salah satu pasangan untuk menghidupi keluarga baru kalian," ucapan Dwita yang berniat menyindir Bian dan Lea.
"Kapan dia wisudanya?" Dwita terus bertanya karena semakin penasaran.
"Terus bagaimana tugas akhirnya? Sampai mana? Dan selesai kapan?" Dwita terus nyerocos.
__ADS_1
Namun kali ini Olivya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Dia sedikit ragu untuk menjawab kapan pacarnya tersebut akan diwisuda. Pasalnya dia tahu bahwa Bryan paling malas mengerjakan tugas akhirnya. Bahkan julukan "mahasiswa abadi" melekat pada dirinya.
"Aduh kok nggak tahu. Suruh cepetan wisuda ya. Soalnya mami sudah nggak sabar pengen lihat Olivya menikah sama calon menantu idaman mami," ucap Dwita sembari melirik Lea.
Dan Lea pun sadar bahwa kini dirinya sedang disindir oleh mami mertuanya. Sontak dia pun langsung menundukkan kepalanya, serta menampakkan raut wajah sedihnya. Mungkin dengan ekspresi seperti itu akan membuat mami mertuanya senang, karena tujuannya berhasil.
"Bentar dulu, mami jangan terlalu gegabah menentukan pasangan hidup untuk Olivya. Memangnya Olivya sudah mengenal pacar kamu berapa lama? Selain itu kita juga harus mencari tahu asal usul keluarganya. Ingat bibit, bebet, bobot Mi," Pranoto membuka suara.
"Ih papi, memang menantu papi juga sudah bagus bibit, bebet, bobotnya?" Dwita balik bertanya.
"Jelas sekali kan mereka menikah disaat anak kita sedang berada dipuncak karirnya."
Terlihat Bian sudah memanas, napasnya mulai berat dan hampir saja amarahnya meledak. Untung saja Lea langsung menggenggam tangannya untuk meredakan amarah sang suami. Perlahan napasnya mulai teratur meski masih tersengal-sengal.
__ADS_1
"Tolong jaga bicara mami!" seru Pranoto yang tahu bahwa kata-kata sang istri barusan menyinggung Bian dan Lea.
"Ups ... papi membela dia?" Dwita menutup mulutnya dengan tangannya.
"Papi tidak membela siapapun tapi papi ingin mami menghargai siapapun itu!" seru Pranoto dengan nada sedikit meninggi.
"Kalau papi nggak membela siapapun kenapa harus memarahi mami?" balas Dwita tidak terima.
Pranoto menarik napas panjang kemudian dia hembuskan secara perlahan. Mencoba tenang agar tidak tersulut emosinya. Pranoto harus memiliki usus panjang jika harus berhadapan dengan istrinya itu.
"Karena memang papi kenal dan tahu asal usul keluarga Lea mi," ucap Pranoto.
"Bahkan papi juga mengenal betul ayah dari Lea. Kami sempat bekerjasama dahulu waktu perusahaan kita masih merintis Mi," imbuhnya.
__ADS_1
"Jadi stop berprasangka buruk terhadap orang lain. Dan belajarlah untuk menghargai siapapun itu," nasihat Pranoto.
Dwita langsung melengos seolah tidak ingin mendengarkan nasihat sang suami. Selain itu dia juga sedang malas berdebat dengan Pranoto. Takut tidak mendapat uang jatah bulanan atau pemotongan uang jatah bulanan karena dirinya membantah nasihatnya. Baginya jangan sampai uang jatah bulanannya berkurang sedikitpun. Jika saja itu terjadi akan berbahaya bagi kelangsungan arisannya. Ya sudah Dwita terpaksa mengalah pada keributan lagi itu. Sebenarnya bisa saja dia menang dalam perdebatan itu. Lalu siapa disini yang gila harta?