
"Kamu bilang akan membuka lembaran baru kehidupan baru, rumah baru tapi kamu melupakan sesuatu."
"Apa?" Dinda menatap Willy dengan serius. Begitu pun sebaliknya.
"Suami baru." Ucap Willy sambil terkekeh. Sontak mata Dinda terbelalak, pipinya kini bersemu merah, angin yang lewat menerpa rambut indahnya membuat pipi merah jambunya terlihat jelas.
"Willy!"
Jangan tanya lagi tentang hati dan kabar jantungnya saat ini. Hatinya bertalu-talu, berdebar tak menentu. Dan jantung nya terpacu lebih cepat. Salah tingkah sudah pasti bahkan pipinya saat ini semakin merah seperti tomat.
Namun, Willy yang menggoda hanya tertawa renyah. Menggoda Dinda sudah menjadi hobi baru baginya saat ini.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keceriaan itu. Asih yang sedari tadi lama berdiri di bawah taman, tanpa sengaja melihat putrinya yang tertawa renyah bersama seorang pria.
Bibirnya melengkung sesaat. Untuk pertama kalinya Asih bisa melihat kembali senyuman itu. Senyuman kebahagiaan yang lama terpendam.
Hanya melihat nya saja Asih sudah tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua. Hatinya sangat lega, setidaknya putrinya tidak mengalami trauma seperti dirinya. Dan bisa membuka hati untuk orang lain.
"Apa kita berpikiran yang sama?"
Tiba-tiba suara Karin mengejutkan nya. Asih menatap Karin heran, gadis ini selalu saja muncul tiba-tiba. Dan selalu mengagetkan orangtua.
"Apa mereka memang punya hubungan. Bagaimana menurut tante?" Karin kembali bertanya seraya menatap Asih di sampingnya.
"Melihat tingkah mereka saja itu sudah jelas," jawab Asih yang masih menatap dua sejoli di atas sana.
"Dinda tidak mengatakan apa pun padaku." Kesal Karin karena sang sahabat tidak mengatakan apa pun tentang hubungannya dengan Willy.
"Kamu pikir Dinda juga bilang sesuatu pada tante."
Sontak Karin membelalakkan matanya. "Jadi tante pun tidak tahu?" Asih hanua mengulum senyum.
"Biarkan saja, mugkin mereka masih malu untuk mengatakan nya."
"Tidak bisa seperti itu tante. Tante pikir mereka anak remaja yang malu-malu kucing. Seharusnya tante introgasi pengacara itu. Karena bagi kami orang dewasa bukan pacaran lagi tapi memilih pria yang lebih serius dalam menjalani hubungan."
"Lalu bagaimana dengan hubungan kamu?"
"Maksud tante?"
Karin memicingkan matanya menatap Asih dengan heran.
"Apa pria itu juga serius denganmu." Tunjuk Asih, pada Rio yang tengah berada di dalam sana. Mata Karin mengikuti arahan telunjuk Asih, yang menunjukkan pada Rio yang tengah berdiri sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Tante!" pakik Karin membuat Asih tertawa.
"Tante pikir aku ada hubungan apa dengannya."
"Mana tante tahu." Ujar Asih mengejek lalu melangkah pergi meninggalkan Karin yan terlihat kesal.
*****
Pindahan rumah cukup melelahkan. Saling bekerjasama menata ruangan secantik mungkin. Dinda menatap takjub pada rumah barunya. Hingga netranya tertuju pada sebuah ruangan yang di anggap sebagai garasi.
Langkahnya mulai terayun mendekati garasi itu. Sungguh penasaran apa yang ada di dalamnya namun, tidak pernah menyangka jika di dalam ruangan itu terdapat sebuah mobil yang masih terlihat baru. Belum ada sedikit goresan atau mobil terlihat jadul.
"Itu mobil milik mu sekarang. Kamu bisa menggunakan sesuka mu."
Sedetik Dinda menoleh pada suara yang dia kenal. Asih berdiri di belakangnya, berjalan ke arahnya memberikan sebuah kunci padanya.
"Sekarang kamu tidak perlu lagi menaiki taksi atau bus. Kamu bisa mengajak Syena jalan-jalan menaiki mobil ini. Kamu bisa pergi kemana pun yang kamu mau."
"Ibu, jangan bilang ini mobil kakek. Tidak mungkin mobil sebagus ini adalah peninggalan kakek. Mobil ini masih terlihat baru tidak ada pada jaman kakek dulu. Sekarang katakan apa semua ini? Dari mana ibu mendapatkan semua ini. Rumah, perusahaan, bahkan mobil."
Jika jadi Dinda pasti merasa aneh dan curiga. Dengan kekayaan yang dia dapat secara instan.
Tapi bagaimana dengan Asih apa yang akan di katakannya. Akan kah Asih terus terang atau mencari alasan lain.
Masih bisa bernafas dengan lega. Asih masih tetap merahasiakan kebenarannya. Mungkin itu lah yang terbaik. Berharap Dinda akan percaya dengan semua kata-katanya.
******
Di tempat lain Rita berjalan tergesa-gesa memasuki kamar putrinya. Velove, yang sedang duduk santai di atas ranjangnya sontak terkejut hingga langsung berdiri.
"Mama bisa tidak ketuk pintu dulu."
"Tidak ada waktu untuk mengetuk pintu." Ujar Rita yang mendaratkan bokongnya di atas sofa.
Dadanya terlihat naik turun. Deruan nafasnya terdengar cepat. Membuat Velove langsung melangkah kan kakinya menuju sofa.
"Ada apa? Apa ada yang membuatmu kesal?" tanyanya yang sudah mendaratkan bokongnya di atas sofa. Menyandarkan punggungnya pada di dinding sofa.
Sedetik mata tajam Rita meliriknya.
"Kamu! Kamu yang membuat Mama kesal."
"Apa salah ku?"
__ADS_1
"Velove mulai sekarang jangan lagi pergi ke salon. Pikirkan perusahaan jika kamu tidak ingin kehilangan semuanya."
"Maksud Mama apa?"
"Danu mendengar pembicaraan kita. Dia tahu kamu bukan anak kandung Fras. Jika Danu memberitahukan papa tentang semua ini kita tidak akan mendapatkan apa pun. Papa akan sangat marah dan mengusir kita."
"Kita harus mencegah itu terjadi."
"Masalah nya Danu tidak bisa di ajak bekerjasama. Dia menolak setengah saham yang akan aku berikan. Jika seperti ini cepat atau lambat papa akan mengetahui kebenarannya."
"Kenapa Mama begitu takut? Mama punya barang mewah, perhiasan, mobil dan rumah yang bisa kita jual. Apa papa punya brankas? Kita bisa mengambilnya. Semua dokumen penting pasti ada di sana."
"Benar. Mama tahu dimana papa menyimpan brankas itu. Selain itu papa mu memiliki sebuah rumah di luar kota dan perusahaan juga. Kita bisa memiliki semua itu."
"Dan semua dokumen tentang perusahaan juga rumah pasti papa simpan di brankas," ujar Velove menimpali.
Bibir keduanya merekah. Ide licik dan senyuman licik.
Detik itu juga mereka berjalan ke sebuah kamar yang terdapat sebuah brankas. Dengan penuh antusias Rita menekan beberapa angka yang di yakini sebuah kata kunci untuk membuka brankar.
Tidak berselang lama sebuah suara terdengar. Menandakan kunci sudah terbuka. Rita dan Velove pun langsung membuka brankar itu.
Wajah nya begitu berseri, senyuman nya begitu mengembang. Brankar itu terbuka lebar memperlihatkan semua isi di dalam nya. Sontak mata kedua nya membulat sempurna, mulut nya tidak mampu tertutup dan menganga lebar.
Sedetik mereka berdua saling berpandangan. Menatap heran pada brankar kosong di depan nya.
"Kosong!" ucap keduanya kompak.
"Mama yakin ini brankar nya? Kok tidak ada apa pun?"
"Jelas yakin karena Mama tahu papa selalu menyimpan nya di sini."
"Lalu kenapa ini kosong!" Velove merasa kesal.
"Entah lah, pasti ada yang mengambil nya."
"Apa yang kalian cari?"
Sebuah suara mengejutkan mereka, kecemasan dan ketakutan terlihat pada diri Velove, kecuali Rita yang masih terlihat tenang.
...----------------...
Waduh! Kira-kira suara siapa ya itu?
__ADS_1