
Di dalam sebuah mobil, sepasang pasutri duduk terdiam memandang rumah yang ada di depannya. Mereka berdua hanya saling pandang dalam diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
"Wil, apa mereka akan mengerti?"
"Jangan khawatir. Kita jelaskan apa adanya. Aku yakin mama dan nenek akan mengerti."
Digenggamnya dengan erat tangan itu. Meyakinkan bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Dinda hanya menganguk sedikit menarik sudut bibirnya.
Mereka berdua turun dari mobilnya. Ditatapnya kembali rumah itu, yang akan mereka kunjungi.
Willy berjalan memutari mobilnya menuju Dinda yang masih berdiam diri di tempat. Digenggamnya tangan mulus itu lalu dituntunnya.
Entah sejak kapan mereka berjalan. Kedua kakinya sudah terhenti didepan pintu.
"Assalamualaikum."
Diucapnya kata salam diiringi dengan ketukkan tangan pada pintu. Willy, mengetuk pintu rumah neneknya karena rumah itu tertutup.
Lama menunggu, hingga akhirnya terdengarlah suara pintu terbuka.
Hati Dinda, sudah mulai gelisah dan takut. Jika yang membukakan pintu adalah Mayang, sang mertua yang memang tidak menyukainya. Dan orang pertama yang menentang hubungan mereka.
Sedetik kepala Willy, bergerak untuk melirik Dinda yang berdiri di sampingnya. Bukan tanpa alasan, tangannya merasakan genggaman erat dari wanita itu. Membuat hatinya bergerak untuk menoleh.
Diusapnya tangan itu dengan tangan kanannya yang tidak tersentuh. Willy tahu jika Dinda masih merasa takut.
"Siapa ya?"
Pertanyaan seorang wanita berpakaian seadanya. Rok panjang yang dikombinasikan dengan kemeja padang yang menutupi roknya hingga lutut. Serta kain pel yang melekat di atas bahunya.
Seketika membuat Dinda tenang.
"Ada nenek Bi? Saya Willy," jawab Willy.
"Oh Den Willy, maaf ya Den, Bibi gak ngeuh. Abis bawa cewek lagi." Ujar wanita itu sambil cengengesan.
"Iya Bi, enggak apa-apa." Willy tersenyum simpul. "Oh ya Bi, kenalin ini istri saya."
Mata wanita itu membulat seketika. Entah karena terkejut atau senang mendengar majikannya sudah menikah.
"Oalah! Kapan nikah to Den? Eyang rumah kok gak kasih tahu ya Den." Willy hanya menjawab dengan senyuman. Dinda segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Dinda Bi," ucapnya.
"Aduh tangan Bibi kotor Non. Sumi, panggil saja Bik Sumi."
Sumi merasa tersanjung. Karena sikap Dinda yang begitu sopan dan ramah. Jarang wanita kaya mau menjabat tangannya. Baginya Dinda berbeda dengan yang lain
"Masuk Den, Non."
Willy, dan Dinda berjalan memasuki rumah lebih dalam lagi. Hingga kedua bokong mereka mendarat di sebuah sofa.
Dinda terus memindai ruangan itu dengan netranya. Ruangan pertamakali ia bertemu dengan Mayang. Sikap Mayang yang senang hingga tiba-tiba menatapnya tidak suka. Di sinilah semua itu ia saksikan.
__ADS_1
"Bibi permisi dulu Den, mau panggil Eyang." Eyang adalah panggilannya pada nenek Rose.
"Iya Bi."
tidak berselang lama seorang wanita paruh baya datang. Rambut beruban yang disanggulkan. Kacamata bening yang menempel di wajahnya. Rok spam batik yang dipakainya tidak membuat langkahnya kaku. Bahkan bibirnya melebarkan senyuman saat melihat cucu kesayangannya.
Willy dan Dinda segera berdiri menyambut neneknya dengan pelukan.
"Apa kabar Nek?" sapa Willy setelah melepaskan pelukannya.
"Kamu pikir kabar nenek seperti apa? Saat cucunya pergi begitu saja."
"Maaf Nek, malam itu Willy benar-benar terburu-buru. Dan tidak bisa izin pada Nenek langsung."
"Ini bukannya?" Nenek Rose terlihat berpikir saat melihat wajah Dinda yang tidak asing baginya.
"Dinda Nek," jawab Dinda.
"Ah iya, sekarang Nenek ingat. Apa kabar Nak?"
"Baik Nek." Jawab Dinda seraya mencium punggung tangan Rose. Itulah yang Rose suka darinya, sangat sopan pada orangtua.
"Anak kecil kemarin tidak ikut?"
"Tidak Nek, saya titipkan Syena pada Ibu."
Terlihat kekecewaan pada raut wajahnya. Rose sangat merindukan bocah kecil itu yang menggemaskan. Siapa lagi jika bukan Syena.
"Padahal nenek rindu sekali." Tiba-tiba wajah Rose sedikit muram.
Di tengah-tengah obrolan mereka datanglah Sumi, yang membawa nampan dengan isian cangkir, dan berbagai jamuan.
"Monggo di minum teh-Nya."
"Makasih Bi."
"Sama-sama. Sumi permisi ya Eyang." Sumi pun berlalu pergi kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Ibu mana Nek?" tanya Willy yang tidak melihat Mayang.
"Ibumu tadi keluar. Entah mau kemana. Sepertinya pergi dengan teman-temannya. Oh iya, tumben kalian datang tidak bilang lagi, apa ada hal yang penting?"
"Begini Nek. Sebenarnya …." Ucapan Willy terhenti. Karena suara seseorang.
"Willy!"
Sedetik Willy dan Dinda menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Mayang yang berdiri di depan pintu sana. Ekpresinya tidak bisa diartikan, datar tanpa senyuman.
Apalagi saat melihat wajah Dinda yang duduk disamping putranya.
Tidak berselang lama, muncullah seorang wanita di belakangnya. Wanita itu terlihat kebingungan saat melihat Mayang sang empunya rumah mematung.
"Tante!" Suara wanita itu membuyarkan lamunannya. Sedetik wajahnya menoleh pada wanita cantik di sampingnya. Kulit putih, hidung mancung, mata sipit, bibir tipis, serta tubuh yang ideal dan tinggi. Senyumnya begitu menawan rambut indahnya bergelombang membuat bibir Mayang seketika merekah.
__ADS_1
"Ternyata banyak tamu di rumah tante. Aku pulang saja ya Tante, tidak enak." Kata wanita itu setelah memandang ke arah semua orang yang duduk di sofa.
"Tidak apa-apa. Ayo masuklah." Mayang menuntun wanita itu untuk duduk di atas sofa bergabung dengan yang lainnya.
Wanita itu terlihat ramah, dia menampakkan sedikit senyumnya pada semua orang. Nenek Rose mengernyitkan dahinya membuat lipatan kulit keriputnya terlihat jelas.
"Siapa dia?" tanyanya yang melihat kearah wanita muda itu.
"Shila, anak temanku. Kami bertemu saat arisan sengaja aku mengajaknya kemari," jawab Mayang ketus.
"Ternyata ada tamu ya." Tatapan Mayang tertuju pada Dinda.
"Dinda bukan tamu. Tapi menantumu," ujar Willy.
"Menantu itu jika kalian sudah menikah, itu baru menantu."
"Kami memang sudah menikah."
Sontak mata Mayang membulat. Begitu pun dengan Rose yang masih terkejut dengan perkataan cucunya.
"Menikah! Sejak kapan?" tanya Rose, yang sangat kebingungan. Padahal dirinya tidak merasa menikahkan cucunya itu.
"Itulah tujuan kedatangan kami. Ingin mengatakan bahwa kami sudah menikah tiga hari yang lalu."
"Tiga hari yang lalu!"
Tatapan Mayang sudah tidak bersahabat. Terlihat emosi, marah, dan kecewa pada sorot mata indahnya itu. Rahangnya sedetik mengeras. Tiga hari yang lalu saat Willy pergi tiba-tiba tanpa kabar.
"Tante ini Willy anak tante yang tante ceritakan itu? Jadi … sudah menikah. Kenapa tante mau menjodohkannya denganku?"
Kali ini bukan Mayang yang merasa marah dan kecewa. Mendengar perkataan Shila, hati Dinda kini yang merasa sakit, sedih, juga ingin marah. Mendengar Willy yang akan dijodohkan dengan wanita yang baru saja dilihatnya.
Dinda tahu jika Mayang tidak menyukainya. Sebagai ibu Mayang berhak mencarikan seorang wanita yang pantas menjadi pendamping hidup putranya.
Dinda akan mengerti, tapi … apakah sekarang Dinda juga harus mengerti saat suaminya akan dijodohkan dengan wanita lain.
"Apa ini? Dijodohkan. Menikah? Kalian semua membingungkan." Rose mulai emosi. Kepalanya mulai terasa pusing.
"Jadi saat kamu pergi untuk menikahi wanita ini Willy!" Mayang naik pitam. Hingga bangun dari duduknya.
Kini tatapan tajamnya beralih pada Dinda.
"Apa yang kamu katakan! Sehingga putraku menikah tanpa izin dariku. Wanita macam apa kamu!"
"Ma! Dengarkan penjelasanku dulu." Willy, mulai bangkit dari duduknya berdiri menghadap sang ibu yang menatap tajam istrinya.
"Penjelasan! Penjelasan apa? Sudah jelas kalian menikah tanpa restuku."
"Mayang, tenanglah dulu. Dengarkan penjelasan putramu dulu." Nenek Rose mulai membuka suara.
Kabar pernikahan ini memang sangat mengejutkan. Bagi Rose dan Mayang.
...----------------...
__ADS_1
Apakah Mayang memberi restu? Gimana nih reader.