Life After Married

Life After Married
Bab 172- Menikah


__ADS_3

Velove sangat marah, emosinya tidak terkendali saat mendengar kenyataan pahit jika selama ini Rey, memang menikah lagi. Bahkan madunya saat ini berada seatap dengannya.


Benar apa kata dokter sebelumnya. Bahwa Velove tidak akan menerima dengan apa yang dia ketahui, dan akan memperburuk kesehatan mentalnya.


Dulu Bian yang hampir menjadi korban, sekarang mungkin Velove akan melakukan hal yang sama. Suasana hati pengidap bipolar sering berubah-ubah. Kadang sedih, bahagia, marah, kadang terlalu sayang.


Dengan penuh emosi Velove berlari ke arah kamarnya. Membuka setiap laci yang ada hingga menemukan sebuah benda tajam.


Di ambilnya pisau itu lalu pergi meninggalkan kamarnya. Tatapannya begitu tajam, tersimpan emosi yang sangat dalam hingga saat melewati tangga tatapan itu tertuju pada Angel, yang tengah menghubungi seseorang lewat ponselnya.


Angel sangat terkejut saat sebuah pisau Velove, hunuskan pada dirinya.


"Ve … Velove apa yang akan kamu lakukan?"


"Kamu harus mati!"


"Ti … ti-tidak. Jangan Velove. Ja … ah!"


Beruntung Angel bisa menghindar, tetapi Velove tidak menyerah ia tetap ingin mendapatkan Angel. Seolah Angel adalah musuhnya.


Velove mencoba menikam dan Angel berusaha menghindar. Terus dan berulang-ulang kali mereka lakukan.


Keadaan rumah sudah sangat kacau, Angel pun sudah lelah untuk berlari. Tetapi tidak dengan Velove, bahkan kini sudah berada tepat di belakang Angel yang siap menikamnya.


Namun, sebuah tangan menggenggam tangannya. Seolah menahan dirinya yang hendak menusukan pisau itu.


Sedetik Velove melirik, pada seseorang yang selama ini paling ia cinta. Tetapi Rey, malah membela wanita di hadapannya bukan dirinya.


Suasana hati Velove jadi berubah, tiba-tiba ia bersedih mendadak menangis. Entah apa yang terjadi? Mungkinkah Velove berpikir jika Rey, lebih menyayangi Angel dari pada dirinya.


"Velove?" panggil Rey.


Dengan segera tangan Rey, mengambil pisau itu lalu melemparnya. Tangisan Velove semakin kencang, bahkan Angel pun menjadi heran.


Seketika tangisan itu berubah jadi tawa, ia tergelak sekeras-kerasnya membuat Rey dan Angel jadi bingung.


"Mas kenapa dengannya?" tanya Angel yang masih takut akan perbuatan Velove tadi. Dan enggan mendekat.


"Entahlah." Rey, menggeleng.


"Kamu jahat! Kamu memilih dia dari pada aku? Apa kamu juga masih mencintai Dinda? Haruskah aku mengatakan pada Dinda jika kamu sudah mengkhianatiku? Kamu jahat! Jahat!"


Velove terus memukul tubuh Rey.


Melihat keadaannya seperti ini Rey, dan Angel jadi kasihan. Sedetik mereka memikirkan kesalahan mereka.


Angel merenung sejenak, apa perbuatannya salah? Haruskah ia mengalah? Karena memang dirinya telah merebut kebahagian orang lain. Rey, sudah beristri dan Angel tetap menginginkannya.

__ADS_1


Rey, pun merasa bersalah karena sudah menyakiti hati Velove juga Angel. Semua itu karena keegoisannya yang masih menginginkan Dinda. Entah kenapa hidupnya terasa hampa, walaupun banyak cinta.


Tubuh Rey, langsung menunduk bersimpuh di atas lantai. Entah sejak kapan kedua tangan itu sudah memeluk Velove.


Angel hanya diam melihat pemandangan itu.


"Velove!" teriak Rey, saat tubuh istrinya lunglai. Tiba-tiba Velove pingsan.


"Rey!" panggil Rita yang berlari ke arahnya.


Sebagai seorang ibu ia panik, meminta Rey untuk langsung membawa Velove ke rumah sakit. Dan Rita langsung menghubungi Dokter yang menangani penyakit putrinya.


*****


Berbeda dengan Rey yang kini sedang di landa kecemasan. Dinda dan Willy sedang berbahagia saat ini karena akan melihat teman mereka menikah.


Karin dan Rio akan melangsungkan pernikahannya hari ini. Semua sudah di persiapkan. Sebagai sahabat terbaik Dinda berperan penting di acara ini, tidak ingin melewatkan satu momen pun.


Begitupun dengan Syena, yang terlihat cantik mamakai gaun putih. Karena tema pernikahannya adalah white. Entah apa yang membuat Rio dan Karin memilih warna itu, mungkin biar terlihat cerah.


Karin masih duduk di ruang makeup. Berkali-kali nafas berat ia hembuskan untuk membuang kegugupannya.


"Oh Dinda, hatiku sangat gugup."


Dinda hanya tersenyum.


"Kenapa gugup? Masih sama saat kamu menikah bersama Vikram dulu."


Karin menunduk merasa sedih mengingat masa lalunya. Perlahan Dinda mendekat, menyentuh pundak mulus itu dengan lembut. Berbicara dari hati agar temannya bisa tenang.


"Sekarang anggap saja pernikahan pertamamu. Semua orang datang memberikan restu. Dan terpenting kedua orangtua mu ada bersamamu."


"Tapi aku masih takut, takut gagal untuk ke dua kalinya."


"Lihat aku," pinta Dinda. Karin pun menoleh menatapnya.


"Aku juga berpikir hal yang sama denganmu. Takut membuka lembaran baru apalagi menikah. Tapi, setelah ku coba dan yakin buanglah rasa takutmu, percayalah jika Rio lelaki terbaik yang Tuhan kirimkan untukmu. Seperti aku, yang tidak pernah merasa menyesal mendapatkan Willy."


"Semoga saja. Ini adalah pernikahan terakhirku."


"Nah, begitu. Berpikirlah yang jernih semoga kamu cepat menyusul." Kata Dinda seraya menyentuh perutnya.


"Mama!" teriak bocah kecil bergaun putih, dengan rambut di sanggul yang sedikit di beri riasan pada atas kepalanya. Bocah itu tidak lain adalah Syena.


"Mama?"


"Iya sayang?"

__ADS_1


"Di panggil Papa. Katanya acaranya sudah mau di mulai, Om pengacara sudah datang Ma."


"O ya!."


"Iya Ma, ayo kita keluar." Syena terus menarik-narik tangan Dinda.


"Iya sayang iya. Karin aku tunggu di luar ya? Awas gugup," goda Dinda lalu melangkah pergi.


Kini tinggallah Karin seorang, ruang makeup begitu sepi karena semua orang berada di ballroom untuk melihat mempelai pria.


Tetapi, pintu terbuka seseorang memasuki ruang makeup. Entah siapa orang itu yang menutupi wajahnya dengan masker.


Karin belum menyadari, ia terus melihat dirinya di depan cermin. Seketika matanya membulat, senyumannya menciut saat melihat bayangan seorang pria pada cermin.


Karin langsung berdiri, lalu berbalik menghadap pria itu. Raut wajahnya tiba-tiba menegang dan mulai ketakutan.


"Vikram apa yang kamu lakukan di sini?"


Ya, pria itu adalah Vikram, mantan suami sekaligus seorang napi yang sempat menusuknya.


Vikram terus melangkah, dan Karin terus saja mundur hingga tidak ada celah bagi dirinya untuk mundur lagi.


"Jangan mendekat! Jika kamu macam-macam aku akan teriak."


"Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin bicara denganmu Karin."


Vikram berkata dengan tenang tapi tidak dengan Karin, yang masih merasa takut. Bahkan air matanya kini mulai turun.


"Bicara apa? Aku mohon kamu pergi Vikram. Jangan ganggu hidupku lagi."


Tanpa di duga Vikram mengulurkan tangannya. Lalu berkata, "Maafkan aku."


Satu kata yang tidak pernah terucap tapi kini Vikram ucapkan. Apa ia sangat sungguh-sungguh? Jangankan kalian Karin pun merasa ragu.


"Maaf?"


"Maafkan aku, telah melukaimu. Aku sadar aku salah, dan aku ingin meminta maaf. Hari ini adalah pernikahanmu aku hanya ingin memberi selamat untukmu, semoga suamimu kali ini dia pria yang baik yang bisa membahagiakanmu."


Vikram tetap mengulurkan tangan seolah meminta Karin untuk menjabatnya. Dengan ragu dan rasa takut akhirnya Karin menjabat tangan Vikram.


Vikram langsung tersenyum. Sedetik jabatan tangan itu Karin lepaskan. Karena tidak ingin hal buruk terjadi padanya. Bisa saja Vikram menusuknya lagi di tempat sepi seperti ini.


Namun, pikirannya ternyata salah. Vikram langsung pergi setelah uluran tangannya di terima. Karin merasa heran, tetapi hatinya tenang.


Tidak berselang lama pintu kembali terbuka, di kira Vikram ternyata seorang WO yang menjemputnya untuk segera keluar menemui suaminya yang baru saja sah beberapa menit yang lalu.


...----------------...

__ADS_1


Selamat ya Karin.


Dapat pesan dari Karin jangan lupa datang katanya. Hehe


__ADS_2