
Keesokan paginya Dinda masih bersikap dingin dan acuh. Pagi ini wajah Dinda terlihat pucat entah kenapa. Mungkin karena semalam tidak tidur dengan nyenyak.
Saat terbangun Dinda mencari Willy yang tidak tahu tidur dimana. Saat menuju kamar Syena Dinda melihat Willy yang meringkuk bersama putrinya. Wajah mereka benar-benar tenang.
Sedetik netranya menatap wajah Willy, bibirnya melengkung sesaat sebelum akhirnya ingatannya kembali pada kejadian hari kemarin. Bibirnya kembali menciut mengingat kejadian itu rasa kesalnya kembali.
Dinda kembali berjalan keluar meninggalkan Syena dan Willy yang masih tertidur. Dinda tidak membangunkan Syena pagi ini karena hari ini adalah hari libur. Tidak ada kegiatan belajar mengajar begitu pun dengan Willy yang tidak ada jadwal sidang.
Dinda melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya kembali terduduk diatas ranjang. Ingin merapikan kamarnya namun kepalanya kembali berdenyut menimbulkan rasa pusing.
"Kenapa dengan kepalaku ya? kok pusing lagi. Apa karena terlalu memikirkan masalah kemarin?" monolognya. Jari tangannya terus memijat pelipisnya berharap rasa pusingnya berkurang.
Setelah merasa sehat dan tidak lagi terasa pusing Dinda kembali terbangun berjalan ke arah kamar mandi. Mungkin jika setelah dimandikan pusingnya akan hilang dan badannya kembali segar.
Willy melangkah masuk ke dalam kamarnya. Melihat Dinda sudah tidak ada lagi diranjang.
Namun saat mendengar suara percikkan air Willy merasa tenang karena Dinda berada di dalam kamar mandi.
Suara deringan ponsel terdengar. Willy mencari-cari darimana asal suara itu berada. Tepatnya benda pipih miliknya yang berada di atas nakas.
Diambilnya benda itu yang membuat bola matanya membulat. 10 panggilan tidak terjawab 10 pesan chat yang masuk dari Jessica.
Mungkin pesan itu muncul dari semalam. Namun sepertinya Dinda tidak mengetahuinya. Salah satu keberuntungannya jika Dinda yang membacanya entah apa yang akan terjadi. Willy merasa kesal, karena Jessica terus menerornya bahkan kata-kata manja yang ditulisnya.
Baru saja jempolnya akan menekan tombol delete tiba-tiba benda pipih itu dirampas dari tangannya.
"Mas!" ucap Dinda saat membaca pesan itu. Mata tajamnya langsung tertuju pada Willy. Bagaimana perasaan Willy saat ini? Mungkin jantungnya terasa hampir saja copot. Debaran hatinya semakin bertalu-talu.
"Panggilan seakrab itu. Mas, sepertinya kalian sangat dekat ya bukan cuma klien biasa." Kata Dinda yang langsung menyimpan ponsel itu diatas nakas. Dinda melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.
Willy semakin frustasi. Semalam saja Dinda enggan di peluk. Bagaimana malam ini. Mungkin dirinya akan di tendang dari kamar.
Dengan penuh amarah Willy langsung membuang sim card pada kartunya. Agar wanita itu tidak bisa lagi menghubunginya. Setelah itu Willy berjalan memasuki kamar mandi.
Mungkin keramas di pagi ini akan menghilangkan sedikit kekacauan dalam pikirannya.
*****
"Bik, Syena sudah bangun?"
"Sudah Non, masih di kamarnya."
"Non mukanya kok pucat? Sakit Non?"
"Enggak apa-apa. Hanya lelah saja."
Wajah Dinda memang sangat pucat namun Dinda tidak menghiraukannya. Kedua tangannya sibuk membantu asisten rumah tangganya merapikan piring di meja makan.
Walau pun sudah dilarang Dinda tetap pada keinginannya. Dan itu sudah biasa dilakukannya.
"Mama!" teriak Syena yang baru saja turun dari kamarnya. Berlari menghampiri Dinda yang berada di meja makan.
"Pagi sayang," sapa Dinda lalu memberikan satu kecupan pada pipi chubbynya. Syena pun naik ke atas kursi lalu duduk.
__ADS_1
Dinda tersenyum melihat wajah ceria putrinya. Selesai merapikan piring Dinda hendak duduk di samping Syena, namun tiba-tiba kepalanya berdenyut lagi, pandangannya seakan memutar hingga kedua tangannya berpegangan erat pada sisi meja.
"Non tidak apa-apa?" tanya asisten rumah tangganya yang khawatir. Namun tetap tersenyum seolah meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Gak apa-apa kok Bik?"
"Tapi Non?"
"Mama kenapa?" tanya Syena yang tidak kalah panik.
"Gak apa-apa sayang."
"Enggak kok. Mama sehat."
"Bik apa obat pusing masih ada?" tanya Dinda pada asisten rumah tangganya.
"Bentar Non, Bibik lihat dulu." Wanita itu pun langsung berlari mencari kotak p3k. Tempat semua obat berada.
Baru saja setengah berlari tiba-tiba teriakan Syena menghentikan langkah kakinya, membuatnya menoleh seketika.
"Mama!"
"Non! Astagfirullah." Detik itu juga dirinya langsung berlari menghampiri Syena yang menangisi Dinda.
Tidak hanya panik namun juga khawatir melihat majikannya tergeletak di atas lantai.
"Mama!" teriak Syena dengan tangisan.
Willy yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang masih asyik menguyar rambutnya yang basah tiba-tiba mendengar teriakan dari pembantunya membuatnya langsung berlari ingin memastikan apa yang terjadi.
"Itu suara Bik Ijah. Ada apa ya?" pikirnya.
"Pak! Pak Willy!"
"Dinda!" teriak Willy yang panik melihat Dinda yang sudah tergeletak di atas lantai.
"Bik kenapa dengan Dinda?"
"Gak tahu pak, tiba-tiba non Dinda pingsan. Sepertinya memang sedang tidak sehat."
"Bibik tolong jaga Syena ya."
"Iya Pak."
Willy langsung memangku tubuh Dinda, membawanya kedalam mobil. Willy bergegas masuk dan duduk di bagian kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan rumahnya.
"Bik Mama!"
"Non Syena jangan nangis ya Non. Mama sedang dibawa ke rumah sakit." Bi Ijah mencoba menenangkan Syena yang tangisannya semakin keras.
*****
Rumah Sakit
__ADS_1
Willy menunggu dengan rasa cemas di depan ruang UGD. Gerak kakinya sudah tidak tentu arah. Mondar mandir tak jelas memikirkan keadaan Dinda di dalam sana.
Tubuhnya langsung terduduk, pada kursi besi berwarna silver ciri khas rumah sakit. Kedua telapak tangannya ia tangkupkan. Di simpannya di bawah bibirnya. Kedua kaki yang terus dihentakkan pada lantai marmer yang putih.
Suara pintu terbuka.
Sedetik tubuhnya menoleh pada seorang dokter yang baru saja keluar dari pintu itu. Willy langsung berdiri menghampiri dokter itu.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada hal serius kan?"
Dokter wanita itu hanya tersenyum. Melihat kecemasan dan kepanikan Willy.
"Bu Dinda baik-baik saja Pak, hanya kelelahan," jelasnya membuat hati Willy tenang.
Namun tiba-tiba tangan dokter itu terulur, seakan meminta berjabatan tangan. Willy merasa heran hingga akhirnya dokter itu berkata.
"Selamat ya Pak."
"Selamat!" Willy semakin heran.
"Selamat istri bapak sedang hamil."
"Ha-hamil?" Willy terkejut hingga membelalakkan matanya.
"Iya. Bu Dinda sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu. Mungkin Bu Dinda pingsan karena kelelahan dan banyak pikiran. Jadi tolong di perhatikan kondisi kesehatannya karena wanita hamil itu sedikit sensitif jangan sampai setres."
"Apa saya boleh masuk kedalam dok?"
"Silahkan Pak. Mungkin Bu Dinda sudah siuman."
Dokter itu pun pamit pergi. Willy langsung masuk kedalam menemui Dinda yang masih tertidur diatas brankar.
Rasa haru, bahagia, juga cemas yang menghantuinya saat ini. Tiga tahun lamanya mereka berharap akan hadirnya buah hati kecil penambah lengkap kebahagiaan keluarganya.
Dan akhirnya tuhan mengabulkan doanya.
"Mas?" panggil Dinda. Sedetik tangan Willy langsung memeluknya. Dikecupnya dengan lembut kening mulusnya, tidak peduli Dinda sedang marah atau tidak saat ini. Yang jelas Willy sangat bahagia dengan kabar kehamilan Dinda.
"Mas kenapa aku ada di rumah sakit?"
"Apa kamu tidak ingat? Tadi kamu pingsan."
"Ah iya, kepalaku sangat pusing sekali."
"Itu karena ada bayi kita di sini." Kata Willy yang mengusap perut ratanya.
"Bayi! Aku hamil?" Willy mengangguk sebagai jawaban. Bibirnya kembali mengecup kening Dinda, kedua tangannya langsung memeluk Dinda.
"Ya, kamu hamil sayang." Willy melepaskan pelukannya. Lalu terduduk di bibir ranjang yang Dinda tiduri. Kedua tangannya terus menggenggam tangan Dinda erat.
"Aku mohon jaga kandunganmu. Jangan pernah memikirkan apa pun. Aku mohon kamu percaya padaku bahwa aku tidak ada hubungan apa pun dengan wanita itu. Hanya kamu dan Syena wanita yang aku cintai. Kamu percaya 'kan? Aku mencintaimu Dinda sangat mencintaimu."
Setelah mendapat anggukkan dari Dinda, Willy kembali memeluknya dengan erat.
__ADS_1