Life After Married

Life After Married
Bab 137- Bertemu Mantan


__ADS_3

Berbeda dengan Rita yang sedang dilanda kecemasan pada putrinya yang kini sedang berada di dalam ruang persalinan. Dengan terpaksa Velove harus melahirkan lebih awal dari waktu yang di tentukan.


Namun Rita tidak tahu bagaimana keadaan putrinya sekarang. Karena dokter mengatakan jika kondisi Velove sangat lemah. 


Di lain tempat kebahagiaan sedang di rasakan Asih saat ini. Berkumpul bersama cucu dan putrinya. Apa lagi sebentar lagi dirinya akan kedatangan cucu baru, yang saat ini masih berada dalam kandungan Dinda. 


Semua keluarga sudah berkumpul, acara syukuran tepatnya hari ini. Dinda hanya mengundang keluarga dan sahabat dekatnya saja. Bukan acara pesta besar yang di rayakannya, melainkan hanya acara kumpul bersama dengan niat ingin memberitahukan kabar bahagia. 


Asih, Mayang dan Rose, saling bercengkrama di temani jamuan-jamuan sederhana yang tersimpan di atas meja. Sedangkan yang menyiapkan masakan ada Sari dan Bi Ijah. 


Dinda masih di dalam kamar memilih pakaian untuk di hari ini. Entah kenapa sekarang Dinda lebih memperhatikan penampilannya di bandingkan dulu yang masa bodo. 


Tumpukan baju di lemparnya ke atas kasur, tidak peduli keadaannya berantakan atau tidak. Hampir semua baju tidak ada yang cocok dan di lemparnya. Entah baju seperti apa yang Dinda cari.


"Sayang, kenapa kamu belum siap juga?" tanya Willy, yang sedari tadi menunggunya di luar kamar. Namun Dinda belum juga berdandan bahkan masih memakai pakaian yang sama.


"Pakaiannya tidak ada yang cocok." 


"Sebanyak ini? Tidak ada yang cocok?" Willy menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa wanita terlalu memilih dalam soal penampilannya.


Kaki jenjangnya melangkah, memilih pakaian yang baru saja di lempar Dinda ke atas kasur. Satu tangannya mengambil dress berwarna biru. Warnanya tidak terlalu terang, dan tidak juga terlalu pas saat di pakai. Sederhana namun tetap elegant.


Di berikannya dress itu kepada Dinda, meminta Dinda untuk memakainya.


"Pakailah ini, ini pasti cocok untukmu. Kamu akan terlihat cantik dengan warna biru ini." Bukannya tersenyum mendapat pujian namun, bibir Dinda malah mencebik netranya menatap curiga pada Willy..


"Jadi selama ini aku tidak cantik?" 


"Bukan begitu. Istriku ini sangat cantik. Tidak perlu pakaian yang mahal, yang bagus, pakaian sederhana pun akan terlihat indah jika kamu yang memakainya." Sedetik bibir Dinda melengkung dan tersenyum. Satu tangannya langsung mengambil pakaian yang Willy berikan.


"Aku ganti baju dulu," ujarnya yang di angguki Willy.


"Aku menunggu di sini ya." 


"Hm." 


Dinda langsung melangkah pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sedangkan Willy merapikan kembali pakaian yang berhamburan di atas kasur. Di masukkan nya kembali ke dalam lemari. 


*****


Semua orang takjub dan kagum melihat Dinda yang begitu cantik hari ini. Willy tetap menggandeng tangannya selama melangkah menuruni anak tangga. 

__ADS_1


Asih dan Mayang langsung menyambut. Meraih tangan Dinda yang langsung di gandengnya. Lalu satu tangannya mengelus lembut perut rata Dinda. 


"Mama doakan semoga kandunganmu sehat, ibunya juga sehat," ucap Asih.


"Makasih Ma." 


"Jangan terlalu lelah. Dan kamu Willy jaga istrimu dengan benar. Mama tidak ingin mendengar Dinda bekerja apa lagi harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat." 


"Iya Ma." 


Belum apa-apa Willy sudah di skak oleh ibunya. Yang mewanti-wanti agar terus menjaga Dinda. Bagaimana nanti jika anaknya sudah lahir. Mungkin harus ekstra siaga menjaga anak dan istrinya. 


Mereka kini menuju meja makan yang sudah di siapkan. Berbagai hidangan sudah tersedia. Namun, sepertinya Dinda masih menunggu teman-temannya tidak lain adalah Karin, dan Mirna. Begitu pun dengan Willy yang menunggu kedatangan Rio.


"Ma, kalian duluan saja ya. Dinda masih menunggu teman." 


"Aku juga. Rio belum datang," ujar Willy menambahkan..


"Ya sudah kalau begitu tunggu saja. Kita main-main dulu," ujar Mayang yang di setujui semua orang. 


"Omayang! Omayang!" teriakan Syena mengalihkan pandangan mereka semua. Omayang adalah panggilan sayang untuk Mayang. 


Tubuh kecilnya berlari ke arah Mayang, entah apa yang membuat bocah kecil itu berlari. Namun tingkah gemasnya mengundang tawa semua orang.


"Hm … jadi Syena masuk ke dalam kamar Omayang?" tanya Mayang yang di angguki Syena. 


"Aduh pasti barang-barang Omayang di acak-acak nih." Kata Mayang seraya mengacak rambut gemas Syena. Membuat bibir Syena mengerucut. 


Bukannya minta maaf, Mayang malah semakin gemas mencubit-cubit pipi chubbynya sampai Syena kesal.


"Omayang!" teriaknya. Sontak semua orang terbahak-bahak. 


*****


Di luar sana dua mobil yang berbeda masuk bersamaan ke dalam pekarangan rumah Dinda. 


Parkirnya pun sangat sejajar. Masing-masing pintu di kedua sisi terbuka, mempertemukan seorang wanita juga pria yang sama-sama diam saat pandangan mereka bertemu. 


Sedetik mereka berdua langsung melemparkan pandangannya. Dalam waktu bersamaan langkah kaki mereka terayun. Menghalangi langkah mereka masing-masing.


"Apa kamu tidak bisa mengalah! Biarkan aku yang melangkah lebih dulu." Ketus Karin, yang langsung melangkah melewati Rio. Rio hanya menatap kepergiaan Karin dalam diam.

__ADS_1


"Kamu masih saja sama seperti dulu," gumam Rio, entah apa maksud ucapannya. 


"Hei bro!" panggil Willy yang melambaikan tangannya. Membuat Rio menoleh lalu tersenyum seraya menghampiri Willy. 


Kedua tangan mereka saling menjabat, tangan kekarnya saling memeluk bahu kekar masing-masing. Namun ada yang berbeda dari Rio, ekspresi wajahnya seperti tidak senang saat memeluk sahabatnya itu. 


"Hm … bau apa ini? Wil, parfum apa yang kau pakai?" 


"Kamu tidak suka dengan baunya? Aku pun sama." 


"Kalau kamu tidak suka kenapa memakainya?" 


"Terpaksa karena Dinda memintanya. Dinda lebih menyukai aroma parfum ini di banding aroma parfum yang lebih wangi. Jika bukan karena terpaksa aku tidak mungkin memakainya. Aku saja mual apa lagi kamu Rio." 


"Sabar ya, bawaan bayi mungkin." Rio, tertawa mengejek. Membuat Willy semakin kesal. 


Kini mereka berdua melangkah masuk ke dalam. Menemui keluarga yang berkumpul.


Karin juga sampai di dalam dan menemui Asih juga yang lainnya. Keakraban Karin sudah tidak di ragukan lagi. Karena Karin sudah sangat mengenal mereka. 


Waktunya menyantap hidangan pun tiba, setelah puas berbincang mereka langsung menuju meja makan. 


Semua orang terlihat senang dan langsung berdiri di kursinya masing-masihg. Namun tidak dengan Karin dan Rio yang sama-sama canggung karena harus duduk berdampingan.


Tingkah mereka menjadi perhatian Dinda dan Willy. 


"Mas, sepertinya mereka tidak nyaman," bisik Dinda. 


"Biarkan saja. Aku ingin tahu sampai kapan mereka akan saling diam. Ini bukan untuk pertama kalinya, mereka sudah pernah menjalin kasih. Seharusnya harus bisa santai." 


"Tapi Mas."


"Kali saja mereka balikan. Aku tahu keduanya masih saling suka hanya saja sama-sama keras kepala." 


Karin dan Rio memang pernah berhubungan layaknya sepasang kekasih. Kejadian di rumah sakit kala itu membuat hubungan mereka jadi dekat. Hanya saja tidak bertahan lama.


Mereka sama-sama memiliki ego yang tinggi, keras kepala dan tidak mau mengalah. Bahkan setiap pertemuan selalu saja ada perdebatan. Itu sebabnya hubungan mereka tidak bisa bertahan.


******


Maaf ya untuk part ini kalau banyak typo 🙏, karena author nulis gak fokus karena menahan kantuk.

__ADS_1


Selamat malam readerku, selamat tidur jangan lupa like dan komentarnya ya.


__ADS_2