Life After Married

Life After Married
Bab 139- Cinta tidak sejalan


__ADS_3

POV Karin dan Rio (Flashback)


Di dalam sebuah ruangan VIP resto, duduklah seorang wanita dan pria. Di antara meja bundar yang menghalangi jarak mereka.


Hening dan sunyi tidak ada suara lain selain alunan melodi yang di putar. Lagu cinta menambah kesan romantis bagi sepasang kekasih, hanya saja mereka bukanlah kedua sejoli yang di mabuk asmara.


Bibir ranum, merah masih mengatup dan tidak terbuka, pupil di pertengahan mata hitamnya paling dalam tidak terlihat sama sekali. Karena terhalang kelopak mata yang mulai turun menghadap kebawah pahanya.


Namun tidak dengan mata si pria yang terbuka lebar memperlihatkan pupil indah yang tersembunyi dalam bola mata coklatnya. Yang menatap dingin pada wanita di depannya.


Keduanya masih saling diam. Sebelum akhirnya datanglah seorang wanita dengan pakaian berseragam. Senyumannya begitu ramah menyambut tamu VIP-Nya.


Kedua tangannya mulai bergerak memindahkan satu persatu piring marmer berwarna-warni, dengan corak indah yang di hiasi aneka hidangan spesial di atasnya.


Mata sipit sepasang wanita dan pria itu semakin menyipit membentuk garis lurus, membiarkan indra pencimuannya menghirup dan merasakan lezatnya semua hidangan. Yang ada pada jajaran piring di atas meja.


Hingga terdengar suara lembut terucap dari bibir tipis si wanita berseragam. Membuat mata sipitnya kembali terbuka lebar.


"Silakan," ucap wanita itu demikian. Bibirnya mulai bergerak menyebutkan satu persatu makanan yang ada di atas meja. Menjelaskan setiap menu pada tamu VIP nya.


"Selamat menikmati." Katanya yang menunduk ramah dan berlalu pergi.


Tidak ada percakapan antara si pria dan wanita. Aroma yang menggiurkan membuat mereka bersemangat mencicipi semua menu yang ada.


"Apa hari ini kamu tidak sibuk? Sehingga mengajakku makan siang?" tanya si wanita yang tidak lain adalah Karin.


"Tidak terlalu," jawab si pria tidak lain adalah Rio, dengan wajah andalannya dingin tanpa ekspresi.


"Jika kamu hanya membutuhkan seorang teman, kamu bisa memintaku untuk datang menemani mu," sambung Rio, membuat Karin terdiam.


"Aku tahu setiap pagi kamu datang supaya ada yang menemanimu 'kan. Kamu menyuruhku untuk selalu sarapan di pagi hari, sedangkan kamu tidak menyempatkan waktu untuk itu."


"Darimana kamu tahu?" tanya Karin.


"Kamu lupa? Aku adalah tetanggamu jadi aku pasti tahu. Mulai esok aku yang akan datang ke apartemen mu menemanimu sarapan pagi. Jadi tidak perlu lagi mengantarkan makanan ke kantorku." Kata Rio yang menatap Karin.


Karin pun mengangguk sebagai jawaban. Sedetik bibirnya melengkung menyerupai bulan sabit. Kata-kata itu membuatnya melayang seketika.


Sendok dan garpu di simpan rapi di atas piring kosong. Satu lembar tissu dibiarkan mengelap mulut dan bibirnya.


"Mau kemana setelah ini?" tanya karin, dengan sepasang mata yang berbinar. Bibirnya melengkung sesaat, berharap mendapat jawaban yang menyenangkan hatinya


"Apa kamu mau pergi ke suatu tempat?" tanya Rio.


"Kenapa tidak," jawab Karin.


"Baiklah. Ayo kita pergi." Rio beranjak dari duduknya. lalu melangkah pergi yang diikuti Karin.


Sikap dinginnya tidak membuat hatinya sakit. Melainkan hati karin kini semakin bertalu-talu. Kedua bibir yang mengatup terus terbuka lebar, menciptakan lengkungan bulan sabit yang indah.


Semenjak itu, keduanya semakin dekat. Bahkan Rio, menepati janjinya untuk selalu menemaninya setiap pagi dan setiap malam.

__ADS_1


Karena pertemuan itulah membuat benih-benih cinta tumbuh dalam hati mereka. Namun, hubungan keduanya tidak sejalan. Sifat keras kepala yang melekat pada diri masing-masing membuat cinta mereka tidak bertahan.


Seperti halnya tentang waktu, mereka sama-sama sibuk. Terutama Karin yang lebih mementingkan waktunya untuk pekerjaan.


Di sebuah restoran. Rio duduk sendirian, tidak peduli keadaan sekitar yang semakin sepi. Para pengunjung lainnya mulai bangkit dan pergi, namun tidak dengan Rio yang tetap pada tempatnya.


Waktu semakin berjalan, berulang kali netranya menatap arah jarum jam yang ada pada arlojinya. Menunggu seseorang adalah hal yang paling membosankan.


Sepasang sepatu hitam mengetuk-ngetuk lantai keramik yang ada di bawahnya. Sedetik ketukan itu terhenti bersamaan dengan kedua kaki yang berdiri tegak, lalu berlenggang pergi.


Gelas kaca dengan cairan merah yang menyegarkan. Di tinggal tanpa di teguk sedikit pun. Menyambut kedatangan seorang wanita yang kebingungan mengedarkan pandangannya ke sekeliling resto.


Nafasnya perlahan mengembus. saat netra nya tertuju pada meja no 8 yang di hiasi gelas kaca dengan cairan merah di atasnya.


Debaran jantungnya seakan berhenti berdetak. Nafasnya menjadi sesak seketika, kepalan tangan dan air mata yang turun menandakan sebuah penyesalan.


"Maaf aku terlambat." Katanya dengan tubuh yang melorot di bawah lantai.


Untuk kesekian kalinya. Karin membuat Rio menunggu. Dengan penuh kekecewaan kedua tangannya memutar bundaran stir, agar mobilnya melaju dengan benar.


Darah pada aliran nadinya cepat mendidih. Nafasnya semakin membara, kepalan tangannya semakin memanas, menahan amarah yang siap diledakkan.


Hingga akhirnya satu pukulan mendarat pada bundaran stirnya, menciptakan suara bunyi yang khas dan nyaring.


Sebuah benda pipih pada dashboar bergetar, bergerak ke kanan dan kiri. Layar datarnya terlihat menyala, namun tidak membuat bundaran stir itu berhenti berputar.


Sepasang netra Rio masih menatap lurus ke depan. Suara deringan pada ponselnya tidak ia hiraukan. Bahkan kotak merah yang ada di sampingnya di biarkan terjatuh tanpa di ambilnya kembali.


****


Segera tangannya meraih benda pipih itu yang dilihat ternyata hanyalah sebuah pesan. Bola matanya seketika terbelalak, bibirnya bergetar saat membaca pesan itu.


Entah apa isi pesan itu. Tubuhnya langsung berdiri. Tangannya langsung menyambar sebuah kunci yang tergeletak di atas meja nakasnya.


Kakinya terayun melangkah pergi keluar dari rumahnya. Dibukanya pintu mobil, segera tubuhnya masuk ke dalam. Mobil pun melaju meninggalkan rumahnya.


*****


Rio baru saja sampai di depan rumahnya. Menghentikan mobilnya tepat di depan teras, lalu turun dan keluar.


Baru saja tangannya bergerak menutup pintu, panggilan seseorang membuatnya menoleh. Dilihatnya Karin yang sedang melangkah ke arahnya.


"Rio! Apa maksud pesan mu ini?"


Mata coklat itu berputar malas. Nafas yang tercekat masih di rasakannya. Melihat Karin membuat aliran darah dalam nadinya semakin memanas.


"Hanya karena pesan itu kamu datang. Apa kamu tidak bertanya berapa lama aku menunggu?"


Sedetik bibir ranum merah itu seketika bungkam. Menyadari kesalahan yang dilakukannya.


"Apa kamu masih marah karena itu?" tanya Karin, yang membut bibir Rio, tersungging sesaat.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Tadi aku ada sedikit pekerjaan yang …."


"Yang tidak bisa kamu tunda?" sanggah Rio. "Walau pun kamu sudah berjanji denganku. Mengakhiri hubungan adalah jalan terbaik. Kita putus."


Mata hitam itu seketika membulat sempurna. Karin tidak menyangka jika malam itu, menjadi malam terakhir untuk hubungannya dengan Rio. Walau pun Karin tidak terima dengan kata putus yang Rio ucapkan.


"Hanya masalah itu kamu minta putus?"


"Sepertinya kita memang sudah tidak cocok lagi. Percuma saja kita jalani yang ada hanya saling menyakiti." Kata Rio yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


Di bukanya pintu rumah dengan keras, lalu di bantingnya. Punggungnya langsung bersandar pada pintu dengan satu tangan yang masih menggenggam handle pintu.


Butiran bening mulai turun dari sudut matanya. Kata putus yang baru saja diucapkan ternyata sangat menyakiti hatinya.


Karin masih berdiam diri, sedetik netranya menatap pada pintu rumah yang sudah tertutup rapat. Wajah mulusnya sudah basah dengan cairan bening yang turun dari matanya. Tangannya seketika mengusap air mata itu. Lalu kakinya terayun melangkah pergi.


Flashback Off


Dan hari ini mereka di pertemukan kembali. Bahkan keduanya harus duduk berdampingan.


"Nak Karin kenapa diam? Ayo makanlah jangan malu-malu," ujar Asih yang hanya ditanggapi dengan anggukan.


"Iya tante."


"Nak Rio, juga."


"Iya tante," ucap Rio gugup.


"Karin, tuangkan nasinya untuk Rio," ujar Asih lagi. Terpaksa Karin harus melakukannya.


Dengan tangan gemetar satu sendok nasi putih Karin tuangkan pada piring kosong milik Rio. Entah karena terlalu canggung membuat sendok bening yang ada dalam piring terjatuh.


Sedetik tubuh Karin dan Rio menunduk bersamaan. Membuat kepala keduanya terbentur hingga sepasang netra coklat dan hitam kini kembali bertatapan.


Dalam sepersekian detik mereka terdiam. Hingga akhirnya tersadar, tubuh keduanya langsung terbangun ke posisi semula. Detakan jantung semakin terpacu lebih cepat, debaran hati semakin tidak karuan.


Entah apa yang di rasakan, membuat Karin langsung beranjak pergi.


"Maaf semuanya. Aku permisi ke toilet sebentar." Katanya yang langsung melangkah pergi.


******


Bibir ranumnya bergerak maju mundur, dadanya terlihat naik turun. Sepasang matanya terpejam dalam beberapa detik, sebelum akhirnya kembali terbuka bersamaan dengan emubusan nafas yang mengembus perlahan.


"Ya tuhan kenapa aku harus bertemu dengannya lagi," ucapnya. "Aku tidak boleh seperti ini. Karin kamu harus bisa bersikap santai, jangan canggung." Katanya seraya menaik-turunkan telapak tangannya di depan dadanya. Seolah sedang mengatur nafasnya.


"Oke! Aku pasti bisa."


Diraih nya tas miliknya, satu tangannya membuka pintu lalu melangkah keluar dari dalam toilet.


Kakinya belum lagi melangkah, karena kedua tangannya masih sibuk merapikan dress yang dipakainya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya, membuat tubuhnya terjatuh pada dalam dekapan seseorang.

__ADS_1


Sedetik matanya terbelalak saat melihat Rio, yang ada dihadapannya.


__ADS_2