Life After Married

Life After Married
Season 2


__ADS_3

"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Velove menyadarkan Rey dari lamunannya. "Kamu mengabaikan panggilan Bian beberapa kali, lihatlah dia ingin bermain bersamamu," sambung Velove dengan nada sinis.


Rey, berdiri dari sofa berjalan ke arah Bian yang sedang menonton kartun kesukaannya. Namun, langkahnya terhenti ketika Velove mengatakan, "Jangan bilang kamu sedang melamunkan wanita."


Rey, terdiam lalu berbalik pada Velove. "Bisakah kamu buang rasa cemburu mu itu, delapan tahun kita hidup bersama apa tidak cukup membuatmu percaya? Apa tidak bisa mengatakan hal lain selain menuduhku?" tanya Rey dengan emosi.


"Apa kamu lupa dulu ...."


"Berhenti mengungkit masa lalu Velove!" Rey menyanggah perkataan Velove dengan nada tinggi. "Jika sudah tidak ada lagi kepercayaan antara kita, untuk apa masih terus bersama," sambung Rey lalu pergi meninggalkan Velove yang diam mematung.


Rey, menghampiri Bian.


"Anak Papa sedang apa?" tanya Rey, yang dudu di samping Bian.


"Nonton Pah," jawab Bian.


"Ini sudah jam 9 malam lebih baik kamu tidur karena besok harus sekolah."


"Aku masuk sekolah baru itu ya Pa?" tanya


"Hem," jawab Rey, lalu memangku Bian. "Papa temani kamu tidur," ujar Rey membuat Bian senang. 


Rey melirik Velove sekilas, lalu pergi menuju kamar Bian. 


.


.


Angel, sibuk mengerjakan sisa pekerjaannya sehingga harus dibawa pulang. Reyhan keluar dari kamar, menghampiri Angel yang duduk di meja makan sambil memainkan laptop.


"Mama, lembur?" tanya Reyhan yang duduk di samping Angel. 


Segera Angel menoleh pada putra semata wayangnya itu. "Kenapa kamu belum tidur?" tanya Angel dengan senyuman, walau terlihat jelas lingkaran mata panda di wajahnya. 


"Mama sendiri belum tidur, tapi nyuruh aku tidur," ujar Reyhan. 


"Masih ada sedikit pekerjaan, sebentar lagi Mama juga akan tidur." 


"Jangan bergadang terus Mah, lihat nih kantung mata Mama, dan garis-garis halus di wajah Mama. Jika dibiarkan Mama tidak akan cantik lagi." 


Angel terbelalak, ketika mendapat ejekan dari putranya. "Kamu sudah bisa menilai orang lain ya, tapi sayangnya Mama harus melakukannya, walaupun wajah Mama akan jelek nanti." Angel berkata seraya menangkup wajahnya. 


"Lagi pula Mama melakukan ini untukmu," tambah Angel.


"Agar mendapatkan uang banyak?" 


"Ya, salah satunya itu." 


"Apa karena kemarin pergi ke Jungleland aku sudah menghabiskan uang Mama," ucap Reyhan dengan ekspresi wajah sedih. 


"Jika kamu yang menghabiskannya, Mama tidak akan marah. Sekarang tidurlah," titah Angel setelah mengecup keningnya. 


Reyhan turun dari kursi berjalan ke dalam kamar. Angel kembali melanjutkan pekerjaannya. 


Namun, Reyhan keluar lagi, diam-diam berjalan ke arah dapur. Pintu lemari es terbuka, Reyhan mengambil sebotol susu yang dia tuangkan ke dalam gelas. 


Reyhan pun mengambil beberapa buah untuk dipotong dan disajikan dalam mangkuk. Setelah selesai, tubuh kecil itu membawa segelas susu dan semangkuk buah-buahan kepada Angel.


"Reyhan." Panggil Angel seraya melirik Reyhan. 


"Aku tidak bisa tidur jika Mama belum tidur, aku sudah nyiapin susu dan buah-buahan segar," ucap Reyhan sangat manis. 


Angel langsung memeluk Reyhan dan berkata, "Terima kasih sayang." 


"Sama-sama Mama," jawab Reyhan dengan imut.


"Eh, ngomong-ngomong apa sudah mengerjakan PR?" Reyhan lansung melotot, dia lupa belum mengerjakan PR-Nya. 


"Hehe … lupa Ma." Kata Reyhan sambil cengengesan. 


Akhirnya Reyhan ikut bergadang mengerjakan PR. Angel tersenyum mendapati Reyhan yang sudah tertidur. 


.


.


"Pagi, Mama?" sapa Reyhan


"Pagi, sayang," jawab Angel ketika pagi menjelang. 


"Mama belum siap-siap kerja?" tanya Reyhan.


"Apa kamu lupa, hari ini … hari minggu." 


"Oh, iya, pantesan Mama tidak membangunkan ku." Angel hanya tersenyum mendengar celotehan Reyhan.


"Sarapan dulu sayang." Angel berkata seraya memberikan segelas susi dan roti. 


"Mama, apa kita tidak pergi joging?" 

__ADS_1


"Joging … baiklah, tapi habiskan dulu makanannya." 


"Yeay!" Reyhan pun senang. 


Berbeda dengan Angel yang penuh keceriaan, Velove dan Rey hanya saling diam.


Setelah semalam, Rey tidak mengatakan apa pun pada Velove. Bahkan Rey tidur dengan Bian. Pagi ini pun Rey mengacuhkan dirinya. 


"Papa, Mama, kita jogging yuk? Ada taman indah di sana," ujar Bian.


"Oke, setelah sarapan ya," ujar Rey. 


"Bi Num, bawa Bian ke kamar," titah Velove. Bi Num pun membawa Bian ke kamar untuk ganti pakaian. 


Kini hanya ada Rey dan dirinya. Rey, masih acuh yang masih fokus pada roti panggangnya. Dan Velove terus melakukan curi pandang. 


"Kita perlu bicara," ujar Velove dingin.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan." 


"Ada," tegas Velove. 


Rey menyimpan roti panggangnya, hubungannya dengan Velove sudah tidak semanis dulu. Rey merasa bosan, dan tidak nyaman, dengan segala tuduhan dan aturan yang Velove berikan. 


"Kita harus bicarakan hubungan kita."


"Tentang apa lagi?" tanya Rey sinis. 


"Apa kamu tidak merasa bersalah, atau minta maaf." 


"Minta maaf? Bukankah seharusnya kamu yang meminta maaf," ujar Rey menegaskan. 


"Semalam bahkan kamu tidak tidur di kamar," ujar Velove. 


Rey langsung meliriknya tajam. "Apa kamu juga cemburu aku tidur dengan Bian? Aku rasa hubungan kita memang sudah tidak beres, aku merasa tidak nyaman dengan semua ini." Rey, bangkit dari kursi meninggalkan ruang makan.


"Rey! Aku belum selesai bicara." Emosi Velove semakin memuncak. 


Di balik anak tangga Bian bersembunyi, dia melihat perdebatan orang tuanya lagi. 


"Bi Num, kenapa Mama dan Papa selalu saja bertengkar?" tanya Bian pada Bi Num. 


Bi Num pun tidak bisa menjawab, ada rasa kasihan melihat Bian yang seperti ini. "Den, Bian!" teriak Bi Num, ketika Bian berlari ke dalam kamar. 


"Mana Bian Bi?" tanya Velove ketika Bi Num turun dari tangga. 


Bi Num, menunduk diam lalu berkata, "Den Bian kembali ke kamar karena mendengar pertengkaran Ibu dan bapak." 


"Maaf, Bu." 


Velove marah, dia lari ke arah kamar Bian. Di teras Rey, masih menunggu Bian yang ingin pergi jogging, tetapi Bian tidak juga muncul. 


"Bi Num, mana Bian?" Pertanyaan yang sama untuk Bi Num, dari kedua majikannya. 


Bi Num, menjawab yang sama juga. "Den, Bian tidak mau pergi dan lari ke kamar setelah …," ucap Bi Num tertahan.


"Setelah apa?" tanya Rey heran.


"Setelah …." Bi Num masih ragu untuk mengatakan. "Setelah melihat pertengkaran Bapak dan ibu," lanjut Bi Num.


Bi Num semakin menunduk takut, jika Rey akan marah padanya. Namun, Rey malah melewati wanita itu, memasuki rumah. Tempat tujuannya saat ini adalah kamar Bian.


"Bian, turun sekarang!" Velove berkata dengan emosi.


"Tidak mau," jawab ketus.


"Bian, bukankah kamu ingin pergi jogging? Papa sudah menunggu." 


"Tidak, tidak, tidak. Jangan ganggu aku." Perkataan Bian semakin meninggi dan emosi. 


"Bian, apa yang kamu lihat tadi … itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Papa dan Mama baik-baik saja jadi turunlah." 


"Orang dewasa selalu saja berbohong. Apa karena aku anak kecil? Kapan aku bisa memiliki keluarga harmonis seperti yang lain. Kapan kalian ada waktu untukku? Kalian selalu sibuk dengan pekerjaan kalian, menitipkan ku pada Bi Num, dan saat berada di rumah kalian terus saja bertengkar, apa kalian tidak senang dengan kehadiranku hah!" 


Plak! 


Bian langsung diam ketika sebuah tamparan mendarat pada wajahnya. Velove tercengang, menatap telapak tangannya yang sudah menampar Bian.


"Bian … Bian, maafkan Mama." 


"Pergi! Pergi!" 


"Bian, ada apa?" tanya Rey yang baru saja datang. Rey, terkejut karena Bian marah-marah, mengusir Velove dari kamarnya. 


"Pergi kalian, pergi!" 


"Bian, tenanglah ada apa dengamu?" 


"Pergi,pergi!" 

__ADS_1


Rey dan Velove tidak bisa menahan dorongan Bian, yang mengeluarkannya dari kamar. Sedetik pintu kamar dibanting dengan keras. Rey, sangat terkejut melihat sikap Bian seperti itu. 


Velove hanya menangis karena sudah menampar Bian. 


"Katakan padaku apa yang terjadi pada Bian?" tanya Rey dengan tegas.


"Aku … tadi … aku tidak sengaja menamparnya. Aku melakukan itu karena emosi." 


"Oh Tuhan." Rey mengusap wajahnya kasar. Amarahnya kini semakin memuncak. 


"Apa kamu gila hah! K-kamu menampar putramu sendiri, memangnya apa kesalahan Bian?" tanya Rey dengan emosi. 


"Sudah aku katakan tidak sengaja."


"Apa Bian bisa terima? Inilah yang tidak bisa kamu ubah Velove, sikapmu!" tegas Rey dengan suara tinggi. 


"Selain cemburu kamu juga tidak bisa menahan amarahmu," tambah Rey dengan emosi.


"Keluarga kita benar-benar sudah hancur, hancur!" 


"Rey! Rey, maafkan aku." Velove hanya bisa menangis ketika Rey, pergi meninggalkannya. 


Rey, memasuki kamar, mengambil koper dan memasukan semua pakaiannya. Velove datang menghampirinya.


"Rey, mau kemana kamu?" 


Rey tidak menjawab yang masih diam. Lalu melangkah keluar tanpa mengatakan apa pun. 


"Rey! Rey, aku mohon kamu jangan pergi Rey. Rey!" 


Rey tidak mendengarkan perkataan Velove, yang terus berjalan keluar rumah, menuju mobil dan memasukan kopernya ke dalam. 


"Bi Num!" teriak Rey memanggil Bi Num. 


Bi Num tergopoh-gopoh berlari ke arah Rey. "Ada apa Pak?" 


"Kemas pakaianmu dan pakaian Bian." 


"Ke-kemas?" 


"Bi Num, cepat. Saya tunggu sepuluh menit." 


"I-iya Tuan." 


Bi Num segera berlari memasuki rumah. Memanggil Bian, mengemas semua pakaiannya. 


"Bi Num kita mau ke mana?" tanya Bian menghentikan tangisnya. 


"Sekarang Den, Bian ikut papa ya, ayok Den." Bi Num menuntun Bian. 


"Rey, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membawa Bian. Jika kamu mau pergi silahkan tapi jangan bawa Bian." 


Rey tidak peduli dengan perkataan Velove, Rey memasukkan Bian ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkan Velove. 


"Rey! Berhenti Rey!" teriak Velove, mengejar mobil Rey.


"Papa kita mau ke mana? Kenapa kalian terus bertengkar?" tanya Bian yang menatap Rey.


"Kita akan ke tempat yang tenang," jawab Rey yang mengelus lembut kepala Bian. Bi Num yang berada di belakang hanya diam.


"Dika, tolong kamu rapihkan apartemenku. Aku dan Bian akan pindah," kata Rey yang menghubungi Dika. 


.


.


Angel dan Reyhan sudah siap jogging, saat hendak pergi tiba-tiba Joshua datang, menghentikan mobilnya tepat di depan Angel dan Bian yang baru saja ingin keluar. 


"Ayah Jo!" teriak Reyhan berlari ke arah Joshua. Joshua pun langsung memangkunya. 


"Jo, kenapa kamu datang sepagi ini?" tanya Angel, Joshua hanya memperlihatkan penampilannya.


Lengkap dengan baju olah raga. Angel sudah menduga pasti Reyhan yang menghubungi Jo untuk datang. Anak itu sudah mulai pintar memainkan gadget sekarang.


"Kita akan pergi jogging, sudah siap?" tanya Jo, Reyhan hanya menangguk. 


"Mama ayok!" ajak Reyhan pada Angel yang masih diam. 


Kini mereka pergi bersama menuju taman. Banyak sekali pasangan keluarga, muda-mudi, dan pelajar melakukan kegiatan jasmani di sana salah satunya lari pagi. 


Joshua menurunkan Reyhan dari pangkuannya, membiarkan Reyhan berlari sesuka hatinya. 


"Reyhan, hati-hati, Nak!" teriak Angel. 


"Sudahlah biarkan saja, jangan khawatir kita ada bersamanya," ujar Joshua tersenyum pada Angel. 


"Ya, kamu benar. Rasanya baru kemarin aku melahirkannya, sekarang Reyhan sudah besar, bahkan dia sudah bisa menjagaku," ucap Angel.


"Benarkah?" Joshua tidak percaya. 

__ADS_1


"Semalam, aku lembur mengerjakan persentasi ku, kamu tahu apa yang dilakukan Reyhan? Dia menyiapkan segelas susu dan buah-buahan segar yang sudah dia potong. Aku terharu melihat sikapnya dan ingin menangis." 


Joshua hanya menanggapi dengan senyuman. Mereka pun jalan bersama mengikuti Reyhan.


__ADS_2