
"Reyhan cepat sayang, Mama akan ada meeting."
"Iya Ma sebentar."
Reyhan berlari ke arah mobil lalu masuk, duduk di samping Angel.
"Kamu abis ngapain saja sih?"
"Bergaya Ma, hari ini akan ada kompetisi seni aku harus terlihat keren." Angel hanya menggeleng, tingkat percaya diri Reyhan sangat tinggi.
"Kamu memakai parfum Mama?" tanya Angel ketika mencium bau mencurigakan.
Reyhan yang ditanya hanya cengengesan. "Buat menarik perempuan Mama," jawab Reyhan.
Angel melongo mendengar perkataan Reyhan, sikapnya tidak ada bedanya dengan Rey, tapi Angel tidak ingin Reyhan seperti ayahnya yang suka mempermainkan perempuan.
"Reyhan siapa yang mengajari mu? Masih kecil sudah tahu cara memikat perempuan."
"Mama bilang ayahku tampan, berarti aku juga tampan. Sudah Mama jalanlah katanya takut terlambat," ujar Reyhan mengingatkan. Angel segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Sebelum ke kantor Angel mengantarkan Reyhan ke sekolahnya. "Mama jangan telat jemput, jika telat aku akan minta ayah Jo untuk jemput," ucap Reyhan sebelum turun.
"Kamu mengancam Mama?"
"Tidak, cuma mengingatkan," kata Reyhan lalu memasuki sekolah.
"Oh tidak sebentar lagi meeting dimulai, aku harus segera sampai."
Angel melajukan mobilnya lagi dengan cepat, hingga dalam waktu sepuluh menit sudah sampai. Angel segera turun lalu masuk, tetapi ... Karena terburu-buru Angel tidak melihat jalanan dengan benar.
"Ah!"
Sepatunya melesat di atas lantai yang licin, dalam seketika tubuh Angel terjatuh. Namun, sebuah tangan tegap menahan punggungnya, sehingga tubuhnya tidak mengenai lantai.
Angel merasa beruntung karena orang itu menyelamatkan. Angel berdiri lalu berbalik kehadapan orang itu.
"Terima ka ... Sih," ucap Angel dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
Orang yang menyelamatkannya adalah Rey, tetapi tatapan Rey fokus pada arlojinya yang terlepas. Sedetik Angel berbalik saat Rey hendak menatapnya.
"Sama-sam," ucap Rey tertahan melihat Angel yang pergi begitu saja.
"Bukankah tadi dia bilang terima kasih?" tanya Rey pada Dika. "Lalu ...."
"Entahlah Bos, dia seperti ketakutan saat melihatmu," ujar Dika dengan tawa.
"Aneh."
Rey dan Dika kembali melanjutkan langkahnya. Angel berlari ke dalam toilet, yang tertegun tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Tidak mungkin, apa itu benar-benar Rey? Tidak, tidak, Rey tidak mungkin ada di sini," ucap Angel lalu menyalakan air keran untuk membasuh mukanya.
Deringan ponsel membuyarkan lamunannya, Joshua sudah menghubunginya itu artinya meeting segera dimulai. Angel kembali merias diri lalu pergi meninggalkan toilet.
"Maaf, aku datang terlambat," ujar Angel setelah masuk ke ruangan Joshua.
"Tidak apa-apa kita pergi sekarang." Joshua berkata seraya berdiri, memberikan beberapa berkas pada Angel lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Para peserta meeting terbangun ketika Joshua memasuki ruangan, Rey dan Dika ikut berdiri lalu saling menjabat tangan dengan Joshua.
"Apa kabar Pak Rey, terima kasih sudah datang,' ucap Joshua. Rey sudah menjadi pengusaha besar hingga semua orang mengenalnya.
"Baik Pak Joshua. Saya senang karena disambut hangat," ucap Rey.
"Perkenalkan ini sekretaris saya Angel."
Dalam seketika Angel dan Rey tercengang, saling menatap dalam diam. Angel semakin gugup ketika Rey menatapnya, Rey tidak percaya jika dia akan bertemu lagi dengan Angel.
"Kamu terlalu lama menatap sekretarisku, dia memang cantik bukan," ujar Joshua menghentikan pandangan mereka.
"Angel duduklah," titah Joshua. Rey ikut duduk tetapi tatapan masih tertuju pada Angel. Joshua cemburu melihat itu.
"Angel tunggu!" teriak Rey menahan Angel untuk pergi.
Angel terdiam, dia bingung harus berbalik atau melanjutkan langkahnya. Rey, langsung melangkah ke arah Angel yang semakin gugup dan gelisah. Namun, langkah Joshua lebih dulu sampai dihadapan Angel, menyelamatkan Angel dari Rey.
"Angel, kita jemput Reyhan sekarang." Joshua berkata seraya menggenggam tangan Angel.
"Bos!" tegur Dika mengalihkan pandangan Rey. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dika.
"Ya," jawab Rey. Lalu melangkah meninggalkan perusahaan.
'Reyhan, siapa dia? Apa anaknya? Mungkinkah Angel dan Joshua ... mungkin saja. Lagi pula aku dan Angel sudah lama berpisah," batin Rey mengira jika Angel sudah menikah lagi.
Rey, terus melamun memikirkan Angel, begitu pun Angel, sepanjang perjalanan menjemput Reyhan dirinya hanya melamun.
Ada yang Angel takutkan, pertemuan Reyhan dengan Rey. Bagaimana jika Rey tahu Reyhan adalah putra kandungnya.
"Angel ada apa? Kenapa kamu terus melamun?" tanya Joshua memperhatikan. "Apa karena pria tadi?"
"Untuk apa aku memikirkan pria itu," sanggah Angel.
"Entah hanya perasaanku saja, kamu melihat tatapan pria itu sangat intens. Terpesona dalam pandangan pertama," ujar Joshua.
"Terpesona? Kamu asal mengira saja," timpal Angel.
"Berharap itu hanya dugaanku, karena aku cemburu melihatnya. Kenapa kamu tidak bisa menatapku seperti itu Angel?" tanya Joshua.
"Jo, kamu memulai lagi. Fokus saja menyetir jangan lakukan hal yang lain, jangan sampai kita terlambat dan Reyhan marah."
__ADS_1
Joshua hanya melirik Angel sesaat, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Entah karena dirinya kurang menarik atau Angel yang tidak peka terhadap perasaannya.
Joshua menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Reyhan baru saja keluar dari kelas, berlari ke arah Angel yang baru turun dari mobil.
"Mama!"
Reyhan langsung memeluk Angel, dia terkejut dengan kedatangan Joshua. "Ayah Jo kamu juga ikut menjemput ku? Wah, aku merasa seperti punya ayah."
"Bukankah aku ayahmu," kata Joshua dengan canda.
"Bolehkah aku pamer pada teman-teman?"
"Tentu," jawab Joshua. Reyhan langsung memanggil teman-temannya.
"Reyhan!" teriak Angel yang ingin menghentikan tingkah Reyhan. "Jo, seharusnya kamu tidak memanjakannya."
"Apa salahnya membuat Reyhan senang. Sepertinya Reyhan memang ingin mempunyai seorang ayah, apa kamu tidak kasihan padanya?" tanya Joshua menatap Angel.
"Reyhan akan tahu siapa ayahnya suatu saat nanti. Kamu tidak perlu menuruti kemauan Reyhan berpura-pura menjadi ayahnya," kata Angel membuat Jo terdiam.
'Apa kamu benar-benar tidak mengerti Angel? Aku sudah menganggap Reyhan sebagai putraku sendiri.' batin Joshua.
"Teman-teman apa kalian mau melihat ayahku?"
"Memangnya kamu punya ayah? Bukankah ayahmu tidak ada,* ujar seorang siswa.
"Sekarang aku punya ayah. Namanya ayah Jo akan aku kenalkan pada kalian."
Reyhan langsung menuntun teman-temannya menghampiri Jo dan Angel. Bocah-bocah itu terkesima melihat ketampanan Joshua.
"Reyhan benarkah itu ayahmu?" tanya seorang siswi.
"Ya, tampan bukan?"
"Iya, tampan sekali," ujar siswi itu.
"Tentu, sama sepertiku," ucap Reyhan percaya diri.
Akhirnya Reyhan bisa membanggakan diri. Dia tidak lagi merundung karena tidak memiliki ayah, teman-teman tidak lagi mengejeknya. Reyhan sangat senang ketika memamerkan Jo sebagai ayahnya.
"Ayah Jo, terima kasih," ucap Reyhan.
"Sama-sama," jawab Joshua memangku Reyhan.
"Reyhan jangan lakukan hal itu lagi," tegur Angel.
"Kenapa? Ayah Jo juga senang."
"Tidak semua lelaki bisa kamu panggil ayah. Bagaimana jika seseorang marah karena panggilanmu itu," ujar Angel.
__ADS_1
Reyhan menatap Jo yang mendadak sedih. Jo pun berkata, "Sudahlah Angel, lagi pula siapa yang akan marah. Ayah Jo milikmu jadi tidak akan ada yang marah selain kamu," ucap Joshua membuat Reyhan kembali tersenyum.