
Lea berlari kencang dan menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Seolah ada ribuan pedang menghujam hatinya, sakit sekali. Dunianya seakan hancur seketika saat itu juga.
"Pak kembali ke rumah saja," perintah Lea kepada Hadi.
"Baik non," jawabnya seraya mengangguk.
Mobil yang ditumpanginya melaju menuju ke rumah. Lea memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kantor hari ini. Hari ini dia ingin sendirian dan tidak ingin bertemu dengan siapapun. Makanya dia kembali ke rumah saja dan berniat untuk mengurung diri di kamar. Urusan kantor hari ini dia serahkan kepada Fahri.
Sesampainya di rumah tampak ada keramaian di ruang tamu. Samar-samar suara gelak tawa tertangkap oleh telinga Lea. Lea berniat langsung berjalan cepat menuju kamarnya tanpa mempedulikan siapa yang ada di ruang tamu. Namun, tampaknya niatnya itu dihalangi tatkala suara Dwita memanggil namanya.
"Heh! Perempuan tidak ada sopan santun," serunya kepada Lea.
"Masuk rumah tanpa permisi. Jelas-jelas ada orang disini," lanjutnya.
Langsung saja Lea menghentikan langkah kakinya. Membalikkan badannya untuk menghadap sang mami mertua dan menundukkan kepalanya. Bersiap untuk mendengar Dwita memarahi dirinya.
"Dasar perempuan tidak tahu diuntung!" seru Dwita.
__ADS_1
"Sudah enak dipunggut sama anak saya, dikasih tempat tinggal enak, fasilitas lengkap, dikasih jabatan tinggi. Tapi apa balasannya untuk anak saya dan keluarga saya?" lanjutnya dengan nada tak kalah tinggi dari sebelumnya.
"Disaat suami kamu didalam penjara, kamu justru main dibelakangnya. Sungguh tega sekali kamu!"
"Tahu nggak kamu sudah mencoreng nama baik keluarga besar saya. Saya benar-benar kecewa kamu menikah dengan Bian."
"Perempuan tidak tahu diuntung!"
Dwita memarahi habis-habisan Lea dengan kata-kata kasarnya. Ketika Lea ingin mencoba mengelak tuduhan yang disematkannya padanya. Justru kata-kata dengan cepat dipotong oleh Dwita.
"Tapi Mi, itu berita bo-" ucapan Lea langsung dipotong.
"Saya malu!" pekikan Dwita melengking ditelinga yang mendengarnya.
Lea pun tersentak mendapat lemparan surat kabar tersebut. Kepalanya semakin menunduk dan air matanya semakin mengalir deras.
"Air mata kamu itu air mata buaya! Jangan berpura-pura menangis didepan saya. Saya tidak ingin melihat air matamu," geram Dwita.
__ADS_1
"Yang saya inginkan hanya melihat kau angkat kaki dari rumah ini!" sambungnya.
Penuturan sang mami mertua bagaikan petir di siang hari yang menyambar Lea. Hatinya semakin sakit, otaknya tak dapat berpikir lagi, dan kepalanya rasanya sangat pening. Kakinya terasa lemas menyangga tubuhnya, sehingga Lea menyandarkan punggungnya pada dinding dibelakangnya.
"Betul kata mami. Karena Kak Bian sebentar lagi menikah dengan Kak Gigi," sahut Olivya yang sedari tadi berada disamping Dwita.
"Sebaiknya lo segera angkat kaki dari rumah ini," imbuhnya dengan senyum getir.
Lea jatuh tersungkur ke lantai karena tubuhnya semakin lemas. Tak mampu lagi menahan beban berat yang bertubi-tubi datang kepadanya. Entah karma apa yang dibuatnya hingga merasakan ujian sesakit ini.
"Sudah sayang ayo kita pergi," ajak Dwita pada Olivya.
"Tidak ada gunanya melihat drama klasik seperti ini," imbuhnya.
"Yuk Mi, kita cari gaun untuk pernikahan istimewa Kak Bian dan Kak Gigi," sahut Olivya.
Ibu dan anak itu melenggang pergi dari ruang tamu. Tetapi sebelum benar-benar keluar dari rumah. Dwita berkata, "Jangan lupa segera kemas barang-barangmu dan angkat kaki hari ini juga!"
__ADS_1
Tangis Lea mengiringi kepergian kedua orang itu. Dan setelah beberapa saat Lea mengumpulkan sedikit tenaganya. Dia berjalan gontai menuju kamarnya untuk mengambil barang-barang miliknya. Tentu saja dia akan segera angkat kaki dari rumah ini.