
Willy, masih di tempat yang sama. Rumah sakit sekarwangi. Asih menunggu Dinda, di dalam kamarnya. Sedangkan Willy, dirinya berada di luar kamar untuk menjawab telepon dari Rio.
Setelah sambungan telepon di tutup Willy, melangkah 'kan kakinya kembali untuk memasuki kamar. Namun, saat hendak membuka pintu tiba-tiba pintu itu terbuka lebar. Seseorang membukanya dari dalam.
Terlihat Asih, yang muncul dari balik pintu. Berdiri di luar lalu menutup kembali pintu itu.
"Sudah jawab teleponnya Nak Willy?" tanya Asih, sesaat setelah pintu itu tertutup.
"Sudah Tante, sebentar lagi Rio, akan datang membawa Syena."
"Nak, Willy. Apa pertanyaan Tante masih bisa di tanyakan?" Asih, ingin sekali menanyakan tentang pembayaran pengobatan cucunya itu. Namun, saat di dalam ucapan nya terhenti karena sambungan telepon dari Rio. Kini Asih ingin menanyakan nya kembali.
"Oh iya, tadi Tante mau tanya apa?" tanya Willy, yang baru saja di ingat.
"Bisa kita sambil duduk?" tawar Asih.
"Oh iya tante. Mari kita duduk di sana." Willy, menunjuk ke sebuah kursi yang terbuat dari besi terlihat berjajar di sepanjang koridor.
Mereka memilih kursi yang tidak jauh dari kamar Dinda. Willy, mendaratkan bokongnya terlebih dulu lalu di ikuti oleh Asih, yang juga mendaratkan bokongnya.
Asih, terlihat menghela nafas sejenak sebelum memulai pembicaraannya.
"Begini Nak Willy, saat Syena, sakit Nak Willy, juga yang mengantarkan kami ke rumah sakit ini. Apa Nak Willy, juga yang membayar pengobatan Syena? Jawab jujur ya Nak, Willy."
Willy, sedetik tertegun. Mendengar pertanyaan dari Asih. Sebenarnya dirinya enggan untuk mengatakan atau membuktikan jika dirinya sudah membantu Dinda, selain itu Willy, juga tidak ingin menambah beban bagi orang yang sudah di tolongnya.
Namun kali ini sepertinya Willy, harus mengakui kebaikannya itu.
"Iya, tante aku yang membayarnya. Tapi aku ikhlas aku tidak ingin tante dan Dinda, menganggap itu hutang."
"Tante jadi tidak enak. Karena selalu saja merepotkan mu."
"Tidak apa-apa tante aku ikhlas membantu. Jadi jangan di pikirkan lagi ya!" ucap Willy.
Tidak berselang lama Willy, melihat Rio, yang membawa Syena, di ikuti Karin di belakangnya.
"Tante itu Rio, datang." Willy, menunjuk ke sebuah koridor yang cukup lenglang. Terlihat Rio yang berjalan ke arahnya.
"Bukankah itu Karin!" ucap Asih, yang melihat Karin, bersama Rio.
Asih dan Willy, pun beranjak untuk berdiri. Karin, memeluk Asih, mencium punggung tangannya. Sedangkan Rio, menurunkan Syena, dari pangkuannya.
Ada rasa penasaran dan heran pada Rio dan Karin kenapa bisa bersama.
"Kalian kok bisa barengan?" tanya Willy, yang melirik kedua manusia di depannya.
"Tahu nih cewek aneh ngikut saja." cibir Rio, membuat Karin, kembali terpancing emosi.
"Aneh! Dasar penipu," ketus Karin, tidak kalah mencibir.
"Tuh lihat 'kan. Dia cewek aneh Wil. Datang-datang main pukul lalu nuduh aku penculik. Apa tampangku serendah itu."
Willy, hanya tersenyum mendengar perkataan temannya itu.
"Dia bukan cewek aneh. Namanya Karin, temannya Dinda."
"Aku tidak tanya namanya," ketus Rio.
"Kali saja kamu butuh nanti." Willy, tersenyum melihat Rio, memutar bola matanya malas.
Karin, dan Asih, melangkah masuk ke dalam kamar Dinda, serta Syena yang Asih, gendong.
Sedangkan Willy, dan Rio, masih berdiri di koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Wil, kenapa dengan Dinda? Kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Rio, yang menganggap bahwa pingsan nya Dinda, ada hubungannya dengan pesan dari Rey.
"Kata dokter sih lambung. Dinda, juga memberitahuku kalau perutnya sakit karena belum makan apa pun selama dua hari ini. Mungkin itu penyebabnya," jelas Willy.
"Kamu yakin karena itu?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku menemukan ini. Ponsel Dinda, terjatuh." Ujar Rio, yang memperlihatkan ponsel Dinda, yang ia temukan.
"Terima kasih Rio, kamu membawanya." Willy, ingin mengambil ponsel itu namun Rio, menahannya.
"Tunggu dulu Wil."
"Kenapa?"
"Kamu harus lihat ini." Ucap Rio, yang langsung membuka layar ponsel milik Dinda, di klik-nya aplikasi ikon hijau sedetik tulisan pesan dari Rey, muncul. Rio, langsung memperlihatkan pesan itu pada temannya.
*****
Di tempat lain Rey, berjalan mengikuti Danu, menuju ruangan Fras, papa mertuanya. Sepanjang langkahnya hati Rey, terus bermonolog ada apa? Kenapa? sang mertua memanggilnya.
Tidak terasa mereka berdua telah sampai di sebuah ruangan Danu, membuka pintu dengan lebar. Mempersilahkan Rey, untuk masuk.
Rey, melangkah 'kan kakinya memasuki ruangan yang begitu besar. Sebesar kamarnya dengan Velove. Untuk kedua kalinya Rey, memasuki ruangan itu.
Danu kembali menutup pintu, lalu melangkah mengiring Rey, menghampiri Fras, yang tengah duduk di atas sofa.
"Pak Rey, sudah datang," ucap Danu, memberitahukan. Fras, hanya mengangguk. Lalu mengangangkat satu telapak tangannya ke udara, di kibaskan nya dengan perlahan.
Danu yang mengerti dengan isyarat itu langsung menunduk lalu pergi meninggalkan dua pria yang berbeda generasi itu. Namun, memiliki masalah yang sama.
Fras, menatap Rey, yang berdiri menghadapnya. Semakin lama Fras, menatap, semakin terlihat jelas bayangan masa lalunya.
"Duduklah," titahnya. Rey, pun duduk di atas sofa yang berhadapan dengan Fras.
"Kenapa kamu mencerai 'kan istrimu?"
"Apa!" Rey, tercengang tidak percaya dengan pertanyaan Fras, padanya.
"Aku tanya, kenapa kamu mencerai 'kan istri mu?"
"Kenapa Papa menanyakan itu?"
"Aku heran saja kenapa kamu memilih putri ku di banding istri mu."
Rey, tertegun. Perkataan Fras, membuat dirinya kembali ingat masa lalu.
"Apa kurangnya istri mu? Sehingga kamu mendua 'kan nya, menyakitinya dan mencerai 'kan nya."
"Aku yang khilaf. Karena tergoda wanita lain," jawab Rey. "Aku sama sekali tidak ingin mencerai 'kan nya tetapi Dinda, dia tetap ingin bercerai," tambah Rey.
"Seharusnya kamu bisa meninggalkan Velove, kenapa kamu tidak melakukan nya?"
Bibir Rey, seakan terkunci dan kelu. Pertanyaan Fras membuatnya bingung mau menjawab apa.
"Bukankah kamu memiliki seorang putri? Kenapa kamu tega meninggalkan putrimu." Lagi-lagi Fras, bertanya. Rey, masih diam.
"Karena Velove, hamil. Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan." Jawab Rey, yang langsung menatap Fras, di depannya.
Bayangan masa lalu kembali terlintas. Melihat Rey, seperti melihat bagian dari dirinya.
Fras, yang dulu harus menikahi Rita, karena hamil. Merelakan Asih, dan putri kecilnya Dinda.
__ADS_1
Saat itu Fras, menikahi Rita, tanpa sepengetahuan Asih. Berniat untuk merahasiakannya dan akan menjelaskannya nanti.
Namun, waktu tidak memihak padanya. Asih, datang ke kota dimana Fras, bekerja saat itu. Kedatangan nya tidak di ketahui oleh Fras, sendiri karena Asih, berniat untuk memberikan kejutan pada suaminya yang telah ia rindukan.
Namun, kejutan itu berubah jadi bencana saat Asih, datang ke rumahnya mempertemukannya dengan Rita.
Asih, datang. Kedua tangannya menuntun Dinda, wajahnya begitu berseri, bahagia karena akan bertemu suami ayah dari anaknya. Tanpa Asih, tahu di dalam sana tinggallah seorang wanita istri dari suaminya.
"Dinda, sebentar lagi kita ketemu ayah. Kita beri kejutan untuk ayah ya!"
Dinda, tersenyum dan mengangguk. Membayangkan bagaimana terkejutnya sang ayah saat melihat kedatangannya nanti.
Langkah mereka terhenti di depan teras. Satu tangan Asih, mengayun untuk membuka pintu. Karena Asih, pun memiliki kunci pintu itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh pintu. Terdengar suara decitan yang berasal dari pintu terbuka.
Asih, berpikir jika Fras, ada di dalam rumah. Seketika senyumnya memudar saat melihat jika Rita, lah yamg muncul di balik pintu. Membuat pandangan mereka saling bertemu.
"Siapa kamu? Kenapa ada di rumah ini?"
"Aku pemilik rumah ini. Kenapa?" Rita, menjawab sekaligus bertanya. Asih, jadi terheran apa maksud perkataan wanita ini. Lalu di mana suaminya.
Tidak berselang lama suara deruan mobil terdengar. Membuat mereka berdua menoleh pada asal suara. Sebuah mobil memasuki area rumah, berhenti tepat di pekarangan yang cukup luas.
Dari warna, merk, dan bentuk mobilnya Asih, bisa mengenal jika itu mobil Fras, suaminya. Lalu siapa wanita yang ada di dalam rumahnya?
"Itu suamiku." Kata Rita, tiba-tiba.
Deg!
Mata Asih, langsung menatap tajam ke arah Rita. Perkataannya mampu menusuk hati dan jantungnya. Untuk pertamakalinya ada seorang wanita yang mengakui suaminya.
"Apa maksudmu? Mengakui Fras, suami mu?" tanya Asih, dengan tatapan tajamnya.
Rita, mengalihkan pandangannya. Yang semula menatap mobil yang baru saja masuk kini beralih menatap Asih, di depannya. Lalu berkata, "Ya, Mas Fras, suamiku."
Hati Asih, semakin bertalu-talu. Rasa sakit, nyeri, dan dadanya terasa begitu sesak. Haruskah dirinya percaya pada wanita ini, yang baru saja mengakui suami pada suaminya? Masih sulit untuknya percaya bahwa Fras, mengkhianatinya.
"Ayah!" teriakan Dinda, mampu mengalihkan pandangan Asih, dan Rita. Yang melempar pandangannya pada seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya.
Pria itu tidak lain adalah Fras, yang merasa terkejut dengan kedatangan istri dan putrinya. Bahkan Fras, tidak menyadari Dinda, yang sedang berlari ke arahnya dan langsung memeluk kedua lututnya.
"Asih!" gumam Fras, yang tatapan matanya masih fokus menatap Asih, dan Rita, di depannya.
"Ayah … ayah …."
"Dinda!"
Fras, baru menyadari kehadiran sang putri. Yang sedari tadi memanggil dan menarik ujung jasnya. Saat akan memangku tubuh mungil itu, tiba-tiba Asih, sudah ada di hadapannya. Menatapnya dengan tajam seolah meminta penjelasan.
"Apa maksud semua ini Mas? Siapa wanita itu?"
"Asih, a-aku … aku bisa jelaskan Asih."
"Dinda, ayo kita pulang." Tangan Asih, langsung menarik tangan mungil Dinda, membawanya pergi dari rumah itu.
"Asih tunggu aku bisa jelaskan!" teriak Fras, melangkah mengejar istri dan anaknya.
Bagi Asih, tidak butuh penjelasan apa pun. Hatinya saat ini sudah sangat sakit. Mengetahui Fras, menikah lagi diam-diam di belakangnya. Bahkan Asih, mendengar perkataan Rita, yang mengakui jika dirinya sedang hamil. Membuat Asih berpikir jika pernikahan kedua suaminya sudah berlangsung lama.
Tanpa terasa butiran bening dari sudut mata Fras, luruh membasahi punggung tangannya. Membuat mata Fras, mengerjap setelah mengingat masa lalu pahit itu.
'Kenapa? Kenapa harus anak ku yang menerima karmanya' batin Fras, menerawang jauh Rey, di depannya.
Rey, menatap bingung. Apa yang terjadi pada mertuanya? Kenapa menangis.
__ADS_1